Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#46. Red & Black.


__ADS_3

"Entahlah, aku hanya saja mudah memikirkan hal yang menakutkan dan juga menyedihkan. Apakah aku terlihat sangat buruk?" tanya Black selesai menjelaskan keadaan hatinya.


"Tidak, Black. Kau justru terlihat sangat manis," kata Red sambil tertawa gemas.


Hal itupun mengakibatkan serangan lanjutan yang membuat ranjang mereka kembali berderit.


Keesokan paginya.


" Eughh!" Red menggeliat, sambil mengerjapkan matanya. Akan tetapi ia merasakan sesuatu yang berat menimpa pahanya. Hingga kakinya itu terasa keram dan kebas.


"Ampun deh, berat banget! Aku ini, nikah sama orang apa beruang sih?" gumam Red, menggerutu. Karena, sebelah kaki Black saja sangat sulit di untuk pindahkan dari atas pahanya.


Seketika Red pun mulai mengulurkan tangan menuju pinggang suaminya. Ketika selimut itu tersingkap, matanya justru terpana akan bentukan roti sobek di pagi hari.


"Hemm," Red pun tersenyum, dan mulai memainkan jemarinya di sana untuk mengusap pelan.


"Tubuh sebagus ini, bagaimana bisa aku malah membencinya? Sungguh aneh 'kan, sayang?" gumamnya, kecil. Niatnya ingin membangunkan, justru malah melenceng jauh.


Red seakan menikmati pemandangan indah di hadapannya, hingga selimut itu semakin melorot ke bawah dan memperlihatkan sesuatu yang membuat kedua mata indahnya membulat sempurna.


"Orangnya sedang pulas, tapi peliharaannya malah bangun dan tegak berdiri. Bagaimana bisa?" heran Red, diam tak bergeming. Menatap benda ajaib di hadapannya, dengan seksama. Karena, baru kali ini, ia dapat memandangnya tanpa harus menahan malu.


"Untung saja, tuannya masih tertidur, kalau tidak?"


"Kalau tidak apa?"


"Ough!" Red pun memekik kaget seraya memegangi dada terbukanya. Lantaran, serius menatap ubi berurat. Ia tak sadar jika sang empunya sudah bangun.


"Sejak kapan kau bangun, sih. Bikin kaget aja?" tanyanya setelah mampu menguasai malunya.


"Sejak kamu menikmati roti kombinasi–ku," jawab Black, santai. Sementara, sang pelaku membuang muka demi menyembunyikan rona merah muda di kedua pipinya.


"Kenapa tiba-tiba bisa bangun sih?" gumam Red menggerutu pelan, yang mana suaranya masih bisa di dengar oleh Black.


"Bagaimana tidak bangun, jika kau terus membelai tubuhku, sayang. Bahkan, ubi jalarku saja sampai tegak seperti ini" tunjuk Black. Membuat Red menoleh sekilas, lalu berpaling lagi.


"Tidak usah malu. Tubuhku adalah milikmu, jadi nikmatilah sesukamu," ucap Black seraya mengulurkan tangannya ke depan demi menarik dagu sang istri agar menoleh padanya.


"Kau benar, Aku memiliki hak itu." Red heran, tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Kita itu kan saling memiliki satu sama lain. Kamu juga berhak menolakku, jika sedang tidak ingin atau memang tidak dalam kondisi baik untuk melayaniku. Aku pun, tidak bisa memaksamu," kata Black bijak. Jemarinya terus mengelus wajah natural di hadapannya, memainkan surai yang berantakan serta kusut karena ulahnya semalam.


"Apa, perlakuanku selama beberapa hari ini, cukup keterlaluan ?" tanya Red dengan raut wajah penuh sesal.


"Tidak sayang. Hanya saja Aku menjadi bingung dan sedih. Tetapi, ternyata itu semua pengaruh dari perubahan hormon. Aku paham, kamu pun juga ikut bingung akan perubahan mood dan juga keadaan yang terjadi pada tubuhmu," jawab Black pengertian, demi mengurai rasa bersalah yang terus menerus di bahas oleh istrinya.


"Ternyata kita mendapat kado terindah pada dua bulan pernikahan kita. Aku sungguh tidak menyangka, jika akan secepat ini," ucap Red senang, dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia lantas menunduk, lalu mengusap perut ratanya.


Black pun ikut mengulurkan tangannya, meletakkannya di atas punggung tangan Red, lalu istrinya itu memindahkan tangannya agar bersentuhan langsung dengan kulit perutnya.


Mereka berdua pun seketika mendongak, lalu saling melempar senyum bahagia.


"Bersihkan dirimu, nanti aku yang akan menyiapkan sarapan untuk kita. Berendam lah sebentar, agar lelah semalaman hilang," saran Black penuh perhatian.


"Kau juga harus membersihkan diri. Kita mandi bareng aja, biar nanti aku yang akan ambilkan sarapan untukmu. Itu kan tugasku," tolak Red dengan penawaran lain.


"Oh, tidak. Aku tidak hanya mandi jika bersamamu. Sudahlah, biar aku mandi di kamar mandi yang lain, oke!" Diskusi mereka pun selesai.


Cup!


Red dengan cepat menempelkan bibirnya ke pipi suaminya.


"Thanks sayang!" teriak Black, karena Red telah menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Selalu saja begitu, jika habis mencium suaminya sendiri" gumam Black dengan senyum lebar menghias wajah bantalnya.


Meskipun wajah bantal, tak ada muka kusut, bagi orang tampan. Bukankah begitu?


"Aku akan membuat roti bakar saja. Lebih sehat dan juga bergizi. Karena aku akan menambahkan sayuran, daging, telur dan keju sebagai tambahannya." Black berkata sendiri setelah dia keluar dari kamar mandi.


"Hemhh ...!" Aroma apa ini? harum sekali!" Red, mengembangkan hidungnya pada saat ia mendekat ke arah dapur.


Saat ini yang nampak adalah punggung lebar suaminya yang kekar menggoda.


Red tak peduli dengan beberapa pelayan yang menggeleng dan menunjuk ke arah Black. Dari ekspresinya Red tau jika para koki takut jika ada yang membakar dapur mereka.


Red menenangkan para pelayan lalu mengusir mereka. Kini dirinya perlahan berjalan mendekat, ketika telah sampai di belakang punggung kekar suaminya itu ia pun melingkarkan tangannya.


Black bahkan sampai terkejut di buatnya.

__ADS_1


Akan tetapi Red justru semakin mengeratkan pelukannya terhadap tubuh atletis yang mengenakan kaus ketat hingga membentuk otot-ototnya.


Red menghirup aroma tubuh suaminya itu dalam-dalam. Inilah salah satu hal yang menjadikannya bingung setengah mati. Kenapa beberapa hari yang lalu dirinya bisa tiba-tiba membenci bau tubuh Black sampai tidak mau berada dekat dengannya.


"Sayang, kamu tuh ngagetin aku aja tau gak? Nih, liat deh aku lagi bikin sandwich spesial untuk sarapan kita pagi ini." Black bicara sambil terus melakukan kegiatannya. Memanggang daging olahan di atas wajan berbentuk rata.


Sementara, roti gandumnya tengah ia panggang menggunakan alat pemanggang roti.


Dengan jahilnya, tangan Red mulai meraba perut kotak-kotak milik suaminya itu. Padahal, ia tau bahwa sang empunya tengah sibuk di depan kompor.


"Sayang, jangan memancingku." Black mencoba menepis jemari istrinya.


"Katamu, ini milikku. Jadi, sah-sah saja kapanpun aku ingin mengelusnya," dalih Red dengan senyum yang ia sembunyikan di balik punggung.


"Ya, tapi, enggak kayak gini juga. Aku kan sedang konsentrasi memasak," protes Black yang mulai merasa merinding akibat sentuhan istrinya itu.


"Aku ini hanya mengawasi agar kau tidak membakar dapur ini," elak Red sembari memberi kecupan, pada punggung lebar yang polos itu.


Seketika, Blavk, membalikkan badannya. Lalu menangkup kedua pipi Red dengan dua tangan besarnya. Setelah itu, ia meraup bibir merona alami yang sedari tadi memberi sensasi memabukkan lewat punggungnya.


"emphh!" Red kaget dan melotot sambil menunjuk ke belakang suaminya. Ketika ia menangkap sesuatu yang mengepulkan asap di sana. Black pun berbalik seketika.


"Oh, God!!" pekik Black, ketika wajan di atas kompor hampir saja membakar daging slice yang ia panggang.


"Tuh kan, apa aku bilang. Kamu itu bisa membakar dapur," gemas Red.


"Ye, kamu juga sih. Orang lagi masak segala di godain," kata Black yang justru mendapatkan gelak tawa dari istrinya itu.


"Hei, ada apa ini!" pekik Madam Cornella. Dimana wanita tua itu kaget karena hari kali ini wanita itu melihat Black masuk ke dapur dan berjibaku di depan kompor.


"Hai madam. Kau akan segera mempunyai cucu," sahut Black yang seketika membuat kepala pelayan itu membekap mulutnya.


__________


"Kita harus segera menjalankan rencana sebelum semua yang telah aku upayakan ini sia-sia!"


Brakk!


Nampak Kendrick memukul meja di ruang kerja pada perusahaan milik Daddy dari Black. Barack Gouvarte.

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2