
Beberapa pekan kemudian.
"Perlahan-lahan, Red. Berhati-hatilah karena kamu gak lagi sendirian saat, bahkan ada bayi di dalam perutmu yang semakin membesar," kata Black memperingati Red yang turun dari tangga dengan gesit. Karenanya, Black pun berinisiatif untuk menuntun tangan istrinya itu dengan erat.
"Aku tidak apa-apa, Black. Lagipula perutku ini kan belum besar lagi apalagi berat. Bayi kita baru sebesar kacang polong, kan baru juga jalan dua bulan," tolak Red akan sikap berlebihan dari suaminya yang mendadak posesif itu.
Kebetulan pembawaan kandungannya sangat kuat. Selama masa mengidam, ia bahkan sama sekali tidak rewel. Tidak ada mual di pagi hari, atau menginginkan makanan aneh di malam hari.
"Red, aku mau menemani tuan untuk keluar kota. Kamu mau makan apa hari ini? Biar aku pesankan nanti pada aplikasi ojek online.
Melihat segala kemandirian dari Red, maka tak salah juga bila Black mengkhayalkan sosok ke wanita yang akan manja padanya ketika merengek sesuatu. Tapi, ini malah sebaliknya. dan Istrinya itu nampak biasa saja. Tidak seperti wanita yang sedang hamil.
Tidak ada sosok yang lemah ataupun manja, seperti apa yang di ceritakan oleh tuannya.
Bahkan, istri tuannya itu terkadang masih saja mengidam ini itu di penghujung bulan kehamilannya. Sampai, mereka hanya tinggal menghitung hari untuk menyambut kelahiran baby twins kala itu.
Ah, nampaknya Black merindukan si kembar lucu.
"Aku ikut ya. Mengawal tuan Leon," pinta Red.
__ADS_1
"Tidak! Kau ini yang benar saja!" tolak Black langsung.
"Aku hanya ingin tetap aktif dan berkontribusi untuk perusahaan maupun tuan Leo. Apa itu salah?" tanya Red, dengan tatapan penasaran kenapa ia hanya boleh berada di rumah saja.
"Sayang. Bukan masalah itu. Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan. Aku tau kau hanya bosan dengan rutinitas yang monoton. Akan tetapi, itu semua demi kebaikanmu. Demi calon anak kita yang kini tengah bersemayam di dalam perutmu," bujuk Black agar Red sukarela membatalkan niatnya.
"Aku janji gakkan kecapekan," ucap Red masih bersikeras dengan keinginannya.
"Sayang, ketika kau memutuskan untuk bekerja maka kau pasti akan total dengan pekerjaanmu. Karena bagimu pekerjaan itu bukan untuk iseng-iseng apalagi sekedar untuk mengisi waktu luang. Akan tetapi, ada sebuah tanggung jawab yang akan kau pikul dan harus kau selesaikan dengan baik," tutur Black panjang kali lebar. Mencoba mengubah haluan dari keinginan Red yang mampu membuatnya bergidik ngeri hanya karena membayangkannya saja.
Karena ia tau bahwa Istrinya itu adalah tipikal pekerja yang sangat berdedikasi terhadap apapun profesi yang tengah digelutinya.
Menurut buku yang dipelajarinya wanita hamil itu memiliki perasaan yang lebih sensitif. Karenanya Black sangat berhati-hati ketika berbicara dengan Red. Ia tak ingin istrinya itu tersinggung apalagi sedih.
"Aku akan mendaftarkan kamu ke kelas parenting seperti apa yang kemarin Nyonya Nadia lakukan semasa hamil. Aku juga akan membelikanmu lebih banyak lagi buku," ucap Black.
"Aku berangkat ya sayang. Lakukanlah apapun yang kau suka. Tapi, tidak dengan kembali bekerja. Kau pasti, mengerti kan maksudku?" tanya Black memastikan apakah Red sudah menerima argumennya serta melupakan keinginannya itu.
"Baiklah." Red berkata dengan lesu.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan aku." Black tak jadi melangkah tapi justru malah menangkup kedua pipi istrinya sambil menatap teduh kedua mata panjang Red.
"Jika kau sibuk. Maka dirimu tidak akan dapat menikmati setiap momen pada kehamilan. Sebuah momen berharga yang tidak bisa semua wanita rasakan bahkan manusia. Manjakan dirimu, karena sebentar lagi tidurmu takkan lagi nyenyak. Makan mu takkan lagi puas serta bebas. Setelah kamu melahirkan, maka kesibukan yang sesungguhnya akan di mulai. Kamu pasti akan sering terjaga karena bayi kita yang ingin menyusu atau sekedar ingin kau peluk," tutur Black yang mana membuat Red sadar akan prioritas sesungguhnya.
"Iya, baiklah aku paham sekarang. Maaf jika aku ya ... mungkin karena mulai merasa bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Seharusnya, Aku lebih mensyukuri keadaan sekarang. Karena, tidak semua ibu hamil senyaman ini," ucap Red penuh sesal.
Black menarik dagu bulat istrinya itu. Kemudian memandang lamat pada wajah cantik alami dari Red. Ia tersenyum, karena pada akhirnya sang istri sadar akan peran luar biasanya saat ini"Aku janji akan mengajakmu menengok Nyonya, serta kedua bayi kembar mereka."
"Aku akan menemui baby twins! Aaaa ... aku senang sekali!" Red memekik kegirangan. Bahkan dirinya hanya mengibaskan tangan saking girangnya.
"Aku ingin melahirkan normal saja Black," kata Red.
"Terserah apapun itu. Terpenting bagiku adalah kalian selamat tanpa kurang satu apapun," timpal Black.
"Kalau begitu, ayo kunjungi anak-anakmu." Red menarik Black cepat, untuk mendekat ke arah peraduan mereka.
"Sayang, baru semalam aku memasuki mu. Memangnya kau tidak sakit atau terganggu?" tanyanya kan takut. Ia sebenarnya mau saja. Siapa sih yang menolak kenikmatan? Hanya saja rasa ngerinya lebih mendominasi.
"Aku pernah membaca dari salah satu buku best seller, jika hamil besar tua itu justru membutuhkan cairan santan lebih banyak untuk merangsang pembukaan pada rahim. Istilahnya, memancing kontraksi agar pintu jalan lahir segera terbuka. Lagipula, laki-laki itu kan memproduksi susu kental manis setiap hari," ucap Red sambil menggerakkan jari-jemarinya.
__ADS_1
Red langsung mengikat kancing pada kemeja black satu persatu.
...Bersambung....