
"Black, ini sangat luar biasa!" Red membekap mulutnya, sepasang mata indahnya masih mengedar ke sekeliling rumah besarnya itu. Bangunan yang terdiri dari beberapa lantai yang lumayan luas.
Sebuah kediaman yang di desain dengan mewah, serta fasilitasnya yang menggunakan tekhnologi canggih. Bahkan, perabot di dalamnya merupakan hasil design dan ciptaan perusahaan LEON Corporindo.
Serta, beberapa tekhnologi kecerdasan buatan yang diciptakan langsung oleh Blue dan Black.
Setelah, puas melihat-lihat bagian interior didalam rumah. Mereka pun memutari sisi rumah tersebut. Hari ini, memang hanya akan di isi dengan tour rumah pribadi.
"Interior yang bagus dan simpel, bagaimana, kau bisa tau keinginanku? Padahal, aku tidak pernah sekalipun mengatakannya padamu," heran Red. Ia bertanya pada Black, sembari bergelayut pada lengan suaminya itu.
"Tentu saja aku tak apapun tentangmu, sayang. Karena aku memperhatikanmu." Black menatap penuh kasih pada Red yang bersandar pada sisi tubuhnya.
"Aku juga tau bahwa kau akan suka dengan ruangan yang selanjutnya," kata Black seraya menuntun Red ke tempat tersebut.
"Wah, ini tempat latihan Kendo!" pekik Red yang terlihat senang sekali karena ia memliki ruangan untuk seni beladiri yang memang sangat ia kuasai.
"Katana!" pekik Red lagi ketika terdapat benda yang mirip pedang berbentuk panjang tersebut.
"Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Black yang seolah mengerti pada saat melihat binar pada kedua mata Red.
"Saat ini, aku ingin sekali menggunakan katana untuk membelah pohon itu," kata Red sambil mengayunkan katana. " Aku ingin kembali mengayunkan benda keren yang sudah lama sekali tidak aku mainkan ini." Red menunjuk ke arah pohon berukuran sedang yang sudah hampir mati. "Seperti ini."
Dengan gerakan tangan seolah ia tengah menari dengan senjata tajam berbentuk panjang itu. Permintaannya, sontak membuat Black melotot kaget. Belum lagi, dua orang yang berada tak jauh dari mereka.
Blue dan Arnett hanya dapat berkomentar dalam hati. Keduanya, menatap heran dengan tegang.
__ADS_1
"Kenapa, kau ingin menebang pohonnya? lagipula, senjata ini masih baru masa untuk menebang pohon sih," bingung Black setengah meringis. Sepertinya, masa mengidam istrinya kambuh lagi. Selain bertarung dan menghajar orang, Red juga terkadang olah jurus dengan beberapa senjata.
"Memangnya kenapa? Pohon itu sudah mati dan mengganggu pemandangan taman ini," kata Red. Ia lalu berjalan pelan menyusuri halaman yang luas itu.
"Ahaa!" pekiknya girang, ketika pandangan matanya menangkap suatu benda yang bisa menggantikan benda yang di inginkannya.
"Baiklah, aku akan menggunakan bambu ini saja!" seru Red meraih bambu yang lumayan panjang itu. Entah, bagaimana ia bisa menemukannya. Padahal, letaknya lumayan tersembunyi diantara tumpukan kayu lainnya.
"Blue, panggil Togar. Suruh ia bersihkan sampah-sampah ini!" titah Black, nampak kesal.
Blue segera memanggil penjaga bertubuh kekar itu, lewat alat komunikasinya.
"Kau! Ke halaman belakang, sekarang!" teriak Blue pada pria kekar itu.
"Untuk apa bambu itu, sayang?" tanya Black, khawatir. Nada bicara seketika berubah jika dengan istrinya. Hatinya selalu saja di buat ketar-ketir ketika hawa mengidam Red mulai kumat.
"Sayang, kau hampir mengenaiku!" Black mengusap pelan dadanya, menetralisir degup jantungnya.
Sementara, Red hanya tertawa melihat ekspresi suaminya itu. Ia pun kembali, menggerakkan bambu itu, dengan jurus-jurus yang nyata, bukan hasil karangan semata.
Sekali lagi, Red melayangkan benda itu, ke segala arah. Laksana menebas, lalu menyerang dengan sekuat tenaga. Hingga benda itu menghujam tanah, setelah sebelumnya sempat memutar di udara
Gerakan yang benar-benar indah, hingga mata ketiga orang yang menyaksikan pertunjukan, hampir melompat keluar dari cangkangnya.
"Sejak kapan, Red pandai memainkan toya begitu?" gumam Blue, seraya tak mengedipkan matanya. Di mana di hadapannya kini, seorang wanita hamil tengah mengeluarkan jurus bak menari.
__ADS_1
Red, sama sekali tidak terganggu dengan keadaannya yang tengah berbadan dua. Untung saja, ia mengenakan celana panjang yang longgar di pinggang.
"Red! Darimana lo mempelajari jurus itu? Kenapa bagus dan lincah sekali?" Blue, meringis. Ia memang melihat perbedaan dari gestur Red yang berbeda, dengan biasanya..
Pembawaan yang lebih tenang serta dewasa. Membuat auranya begitu berbeda. "Apakah, pengaruh hormon bisa sampai seperti ini? membuat dia, menguasai teknik beladiri dengan cepat?" batin Black.
Ketiga orang ini sama-sama bingungnya. Tak lama kemudian, Togar muncul.
"Bujug dah! Nyonya jago amat!" teriak pria berotot dengan kepala pelontos itu. Hingga, teriakannya sampai ke telinga Red.
"Sayang ...." panggil Black.
"Stop! Jangan maju atau mendekat!" Red mengulurkan ujung batang bambunya. Menahan agar Black tidak mendekat padanya.
"Aku takut kau lelah. Sudah ya, kita istirahat saja di dalam," pinta Black.
"Aku tidak lelah, justru sangat bersemangat." Red berkata, sembari memutar batang bambu tersebut. Ke atas, samping serta belakang tubuhnya.
Mungkin jika keadaan Red tidak sedang hamil muda mereka semua takkan ngeri.
"Sayang ...," bujuk Black memelas, tapi ia tak berani maju selangkah pun.
"Ah, ya ... baiklah!" Black akhirnya menampilkan senyum terpaksa, ketika ia melihat tatapan tajam dari istrinya itu.
" Lakukan sesukamu, aku akan menunggu di sini," kata Black pada akhirnya. Menyerah, sebab tak bisa menahan setiap keinginan istrinya itu. Atau, ia harus siap tidur di luar kamar hingga enam bulan ke depan.
__ADS_1
...Bersambung...