Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#24. Red & Black.


__ADS_3

"Sayang, kau kan sudah tidak marah. Jadi boleh tidak jika malam ini aku ingin meminta hakku padamu?" tanya Black dengan lemah dan lembut, seraya menatap kedua mata indah istrinya itu.


"Black, sebenarnya aku siap saja dan dapat memberikannya padamu saat ini. Akan tetapi alangkah baiknya kamu lakukan pemeriksaan kesehatan lebih dulu demi kebaikan kita bersama dan juga calon keturunan kita nanti. Ini semua pun nyatanya saran dari nyonya Nadia. Kuharap kamu mengerti keadaan ini sayang. Bukannya aku tidak ingin memberikannya padamu. Akan tetapi, hal yang terjadi dimasa lalu itu kadang mempengaruhi hal yang akan terjadi di masa depan," terang Red sesuai dengan apa yang si katakan oleh Nadia.


"Tidak sayang. Aku sungguh mengerti dan tidak keberatan kepadamu. Atas apa yang telah kau ingin dan harapkan dariku. Aku memang sangat membutuhkanmu, tetapi aku juga gak rela jika justru kamu dan anak-anaknya kita kelak akan menderita," ucap Black menanggapi perkataan Red mengenai kesehatan alat kelamin dan sistem reproduksi.


Saat ini pun ia ingin menjauhkan dirinya dari Red akan tetapi istrinya itu justru menarik tangannya kembali, kemudian mendekap tubuhnya dengan erat.


"Black, sebenarnya aku sangat siap dan juga menginginkannya pada saat ini. Hanya saja kau sedang demam. Memangnya kau bisa melakukannya dikala keadaanmu yang sedang tidak sehat seperti ini?" tanya Red dengan berbisik di samping telinga suaminya. Membuat bulu kuduk Black merinding seketika.


"Sayang, demam ini tidak bisa menghentikan hasratku? Hanya saja kita harus menahan keinginan ini untuk beberapa waktu ke depan," kata Black lesu.


Cup!


Red, mencium bibir Black sekilas sebelum ia memisahkan diri. Karena tubuh keduanya kini telah berkeringat.


Black tersenyum bahagia. Setidaknya Red tak lagi marah padanya. Kedua matanya terus mengawasi istrinya yang sedang membasuh tubuhnya menggunakan waslap.


"Ayo kenakan pakaianmu, biar gak masuk angin," titah Red dan Black pun menurut. Meskipun pria itu harus berkali-kali menelan ludahnya pada saat melihat tubuh istrinya yang setengah bugil ini.


"Istirahatlah, nanti akan ku buatkan bubur untukmu setelah aku mandi," ucap Red yang kemudian melenggang begitu saja ke kamar mandi.


"Kasian kamu, Otong. Sabar ya, kamu harus periksa kesehatan dulu karena dulu pernah nakal," monolog Black sambil melihat ke arah pusat tubuhnya.


"Red, benar. Aku harus memeriksakan kesehatan organ vital secara menyeluruh. Meksipun aku hanya bermain dengan Paulina tetepi aku tidak tau, wanita itu sudah bermain dengan siapa saja. Aku tidak ingin karena kenakalanku di masa lalu akan berimbas kepada istri dan juga keturunanku nanti. **** bebas itu memang banyak efek sampingnya dan seandainya ku tau mungkin aku akan berpikir panjang pada saat itu," batin Black sambil memejamkan matanya.


Memang benar apa yang Red, katakan pada suaminya. Banyak penyakit yang menyertai para pelaku **** bebas tersebut. Rata-rata penyakit kelamin tersebut akan mengganggu hubungan int!m keduanya nanti bahkan bisa merusak juga sistem organ reproduksi.


Tak sedikit, penyakit tersebut juga akan menghampiri bayi yang ada di dalam kandungan. Karena itu, berpikirlah berulang kali ketika ingin berbuat sesuatu hal yang tidak benar.


Lakukanlah, hubungan badan bersama pasangan sah kalian saja. Dimana sudah jelas kebersihan serta kesehatannya.

__ADS_1


Karena, virus yang menyebabkan penyakit pada organ vital tidak nampak secara nyata. Wajah yang cantik dan tampan serta kulit yang bersih tidak menjamin jika keadaan alat kelamin bebas dari jamur jika memang suka di gunakan oleh sembarang orang.


Keesokan harinya, Black dan Red kerumah sakit dan menemui spesialis kulit serta kelamin. Black melakukan pemeriksaan menyeluruh dan karena kekuasaan yang di miliki oleh Leo, maka hasil dapat mereka dapatkan secepatnya.


Kedua wajah suami istri ini tersenyum bahagia. Karena hasil yang mereka tunggu tidak mengecewakan. Dalam secarik kertas tersebut telah dinyatakan bahwa keadaan vital Black, sehat seratus persen. Juga sistem reproduksinya yang normal dan juga subur.


Black memeluk tubuh Red dan membawa istrinya itu berputar di udara.


"Apakah aku perlu pemeriksaan kesuburan juga?" tanya Red di sela tawa bahagia suaminya ini.


"Tidak perlu sayang. Untuk urusan anak aku tidak terlalu menggebu-gebu. Karena itu bukanlah hal yang menjadi visi dan misi aku ketika menikahimu. Dipercaya punya anak syukur, tidak pun tak apa. Aku cukup bahagia dapat hidup berdua denganmu asalkan selamanya," ucap Black yang mana kini telah menyatukan kening keduanya.


Sementara, kedua tangannya merangkul pinggang Red.


"Sebaiknya kita pulang," bisik Red seraya menatap wajah tampan nan gagah di hadapannya ini.


"Ciee, yang udah gak sabaran," ledek Black dengan tawa menyebalkan ciri khasnya tersebut.


Puk!


"Aw!" ringis Black masih dengan sisa tawanya.


"Aku benci tawamu yang tengil itu. Sungguh menyebalkan!" sungut Red dan berjalan lebih dulu menjauh dari suaminya.


"Iya iya, aku gak akan ketawa kayak gitu lagi," ucap Black yang telah menyusul dan mensejajarkan langkah mereka.


Sesampainya di mansion Black langsung membawa Red menuju kamar mereka. Setelah keluar dari lift, pria ini langsung menggendong Red tiba-tiba.


"Kamu ingat gak waktu aku gendong pertama kali? Pada saat itu bokongku penuh darah," gelak Black menertawakan kebodohannya saat itu. Red hanya mengangguk karena ia pun ikut tertawa.


"Satu hal yang ada di dalam pikiranku pada saat itulah adalah, keadaanmu. Apakah kau terluka karena sesuatu ataukah sakit parah," ungkap Black.

__ADS_1


"Ternyata?" tebak Red, bermaksud meledek.


"Kamu cuma datang bulan yang mana hal itu wkah dan terjadi pada semua wanita. Aku tenang ternyata kau bukan sakit atau terluka, tetapi, aku kembali khawatir jika pembawa wanita menstruasi itu berbeda-beda," terang Black lagi.


"Kau manis sekali. Ini salah satu hal yang membuatku yakin untuk menikah denganmu walau awalnya dengan paksaan nyonya," kata Red.


Black menurunkan tubuh Red perlahan di atas tempat tidur, dan tatapannya tak bergeser sedikit pun dari wajah cantik ini.


Beberapa saat kemudian, keduanya yang sudah sama-sama berkabut dan berhasrat pun telah berciuman dengan panas hingga tanpa sadar tubuh keduanya pun polos tanpa sehelai benang.


"Bolehkah dia masuk?" tanya Black dengan tatapan berkabut serta suara yang serak menahan gelora napsu yang sudah di ujung tanduk.


Langsung dijawab dengan anggukan pasrah oleh Red yang kini telah berada di bawah kuasanya dan juga sudah melayang karena aksi pendahuluan dari Black barusan.


"Lakukan, Black. Aku menginginkannya," ucap Red dengan suara yang manja menggoda.


"Aku suka nada bicaramu sayang. Kau sangat menggemaskan," ucap Black dan kembali menciumi Red dengan penuh gairah.


Hingga lantunan merdu pun keluar dari bibir Red yang seksi.


Sebuah lengkingan menggema dalam kamar tersebut, pertanda penyatuan yang telah sempurna menjadi milik mereka berdua.


"Jadi, inilah rasanya?" batin Red yang menggigit bibirnya ketika pria di atas tubuhnya ini masih terus bergerak.


"Maafkan aku sayang, terimakasih karena kau telah memberikan kesempurnaan dari sebuah kehormatan. Aku akan menjagamu selamanya," ucap Black meski dengan suara seraknya.


"Black, aku mencintaimu," bisik Red sambil memeluk raga kekar itu erat.


"Aku juga mencintaimu, bahkan sangat-sangat mencintaimu," balas Black. Dan, tak lama kemudian keduanya pun bersuara merdu bersamaan.


_______

__ADS_1


"Akh, Leo ... ! Perutku, sakit!" pekik Nadia dari arah kamar mandi.


...Bersambung ...


__ADS_2