Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab #28. Red & Black.


__ADS_3

Tak lama, Black dan Red bangun dari duduk mereka secara tiba-tiba. Karena di lihatnya sang tuan keluar dari ruang operasi.


"Tuan --"


Leo hanya menoleh sesaat ke arah kedua ajudannya itu dan tanpa menjawab sepatah kata pun, ia meninggalkan Black dan Red dengan berlari kencang.


Kedua suami istri itu pun saling berpandangan, mereka dapat melihat luka dan kepedihan di kedua mata tuannya.


"Aku akan mengejar tuan, kamu tungguin nyonya di sini. Kabari aku langsung jika ada apa-apa," titah Black yang mana setelah mendapat anggukan dari Red ia pun langsung berlari i menyusul Leo.


"Nyonya, aku tidak menyangka akan seperti ini akhirnya. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak melihatmu," batin Red.


Ia terus mencoba membujuk perawat agar dapat masuk melihat sang nyonya di ruang operasi. Red mengenakan pakaian khusus. Berikut dengan masker dan juga penutup kepala.


Tubuh Red serasa lemas seketika, ketika mendengar penjelasan dari sang perawat.


"Bagaimana bisa seperti ini? Semoga anda cepat sadar nyonya. Semoga anda dapat menerima semua keadaan ini. Anda telah membuat saya dan Black bersatu. Satu hal yang selama ini saya pikir tidak akan mungkin bagi kami untuk alur dan berteman. Tetapi, nyatanya kami suami istri sekarang," ucap Red pelan.


"Tuan pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Dia sangat mencintai anda Nyonya. Belum pernah aku melihat tatapan yang berbeda dari mata birunya selain pada anda. Saya harap ini adalah kesedihan terakhir untukmu, nyonya," sambung Red lagi, dengan air mata yang tak mampu ia bendung.


"Saya, keluar dulu ya, Nyonya. Saya harap anda segera bangun." Setelah, berpamitan dengan Nadia, Red pun berlalu dengan langkah gontai. Ia memberi remasan kuat pada dadanya, menyalurkan sesak agar tidak mencekiknya.


Red yang tak kuat bila berada terus di dalam. Ia pun keluar dan memilih bersandar di dinding saja. Sembari, mengolah napasnya yang sejak tadi terasa mencekat.


Sementara itu...


"Tu–tuan? Apa yang terjadi!" tanya Black. ketika melihat Leo keluar dari ruangan khusus yang di sinyalir adalah kamar bayi. Wajah pria itu penuh kesedihan dan kecewa.


Sang tuan nampak terduduk lemas di atas kursi ruang tunggu.


"Istriku, harus menjalani operasi pengangkatan rahim. Sementara, salah satu bayiku mengalami masalah pada jantungnya. Aku, takkan sanggup jika mendapat hal yang lebih buruk lagi dari ini," ungkap Leo dengan suara detak menahan tangis.


Black pun ikut terduduk dan menatap nanar ke arah tuannya itu. Ingin rasanya ia memeluk raga bergetar sang tuan yang meletakkan kepalanya di atas lutut tersebut.


Tak lama Leo kembali bangun dan berjalan, Black Hanya bisa mengikutinya tanpa bertanya lagi.

__ADS_1


Leo kembali masuk ke ruang operasi.


"Sayang." Black langsung mendekati istrinya dan mengajak Red untuk duduk. Kemudian, ia mendekap raga itu erat. Membiarkan ia dan juga Red meluapkan semua sesak di dalam dada.


"Aku sungguh tak tega melihat keadaan nyonya seperti itu ... kasian baby twins," lirih Red dengan suara seraknya.


"Semoga semua baik-baik saja. Karena salah satu bayi harus masuk ruang inkubator dan melakukan pemeriksaan serta perawatan khusus," jelas Black.


Red yang kaget langsung memisahkan dirinya dari pelukan Black. "Ada apa dengan salah satu baby twins?"


_______


Bayi mungil itu menggeliat di atas dada Nadia. Leo memegangi tubuh mungil yang di tengkurap kan itu agar tidak jatuh. Dirinya berusaha memberi stimulasi sejak beberapa jam lalu ini. Nadia, masih saja setia memejamkan kedua matanya.


"Sayang. Kau itu kenapa tidak bangun juga? Kau tau, baby twins ingin sekali melihat mommy mereka," kata Leo seraya menahan sedih itu.


Dokter mengatakan Leo boleh mengajak salah satu bayi mereka untuk diletakkan dekat dengan sang ibu agar Nadia juga terstimulasi dan cepat sadar pasca operasi.


Sang bayi yang berjenis kelamin laki-laki ini sudah ia letakkan di samping kepala istrinya itu. Setiap di bawa kesini, bayinya itu tidak pernah menangis. Padahal, cukup lama ia berada di ruangan ini. Seperti saat ini, putranya itu malah tertidur dengan pulas dengan posisi kepala miring menghadap mommy-nya.


Siapa yang tidak sedih? Hati mana yang tidak trenyuh melihat pemandangan yang mengiris hati itu. Entah, apakah air mata itu masih ada. Sudah hampir seharian ini Leo tak henti menangis.


Tak dokter dan perawat masuk karena sang bayi telah terlalu lama berada di luar box mereka.


"Kau bilang, istriku sebentar lagi akan bangun dan baik-baik saja! Kenapa sampai sekarang dirinya belum sadar juga! Diagnosis macam apa yang kau katakan padaku hah!" bentak Leo pada saat mereka telah keluar dari dalam ruangan khusus tersebut.


Leo seakan tak mampu lagi menahan emosi dalam dirinya. Ia bahkan, mencengkeram kerah jubah Arnett, hingga dokter muda itu gemetar ketakutan.


"Tuan ... maafkan, saya. Kami baru saja melakukan observasi terhadap pasien. Dan kami menemukan bahwa nyonya hanya terlampau lelah dan banyak tekanan sebelum ini. Sehingga, Alam bawah sadarnya ingin beristirahat sebentar," jelas dokter cantik itu.


Black pun mendekat serta berusaha melepas cekalan tangan sang tuan yang semakin kencang berada di kerah jubah Arnett.


"Tuan," panggil Black berusaha mengembalikan kesadaran Leo.


"Kita tidak sedang berhadapan dengan anggota mafia. Tetapi dokter yang menangani istri anda. Percayakan semua ini pada tim medis. Anda tenanglah," bisik Black.

__ADS_1


Leo yang tersadar langsung melepaskan Arnett. Pria itu mendengus kesal. Kenapa semua yang ia impikan selalu berakhir di luar rencananya.


Leo kembali ke dalam, ia mau jika nanti Nadia sadara maka yang pertama kali wanita itu lihat adalah dirinya.


"Tuan bahkan tak mau makan apapun. Minum pun tidak," kata Red yang tengah memberikan air mineral pada suaminya, Black.


"Jangankan tuan. Aku pun sama sekali tidak berselera makan, sekalipun perutku ini lapar," kata Black.


"Kau benar, tapi setidaknya minum. Bagaimana kalau tuan kekurangan ion?" gusar Red.


"Kita tidak akan bisa memaksanya," jelas Black yang tau benar bagaimana sifat keras tuannya itu.


"Jadi, salah satu baby twins mengalami masalah pada jantungnya? Oh God, cobaan apalagi ini?" ucap Red yang ikut merasakan sedih itu.


"Aku melihatnya sayang, baby Aiyla Moon sangat cantik," kata Black.


"Jadi tuan sudah menamakannya?" kaget Red dengan mata berbinar.


"Tentu saja nyonya. Karena mereka telah menentukan nama sebelum baby twins dilahirkan," jelas Black.


"Lalu yang laki-laki?"


"Namanya Aslan Kavier De Xarberg. Tak jauh dari singa bukan?"


Keduanya pun tertawa bahagia.


Tak berapa lama kemudian nampak sosok Blue datang menghampiri keduanya.


"Hei, Blao?"


Bugh!


Blue menendang tungkai kaki Black yang justru membuat pria itu tertawa.


"Shine telah menemuiku dan menceritakan semuanya. Apa itu benar?" tanya Blue dengan tatapan menelisik.

__ADS_1


"Iya. Gue sebenernya mau ngasih pelajaran buat wanita ular derik itu. Hanya saja, Nyonya tiba-tiba melahirkan dan kejadiannya seperti ini. Mungkin, akan kubiarkan dulu dia melenggang bebas selama beberapa hari ini, sambil mengumpulkan semua bukti agar wanita itu ditendang dari dinasti keluarganya," tutur Black dengan seringai penuh arti.


...Bersambung...


__ADS_2