Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#18. Red & Black.


__ADS_3

Kebetulan tamu undangan jarang yang perempuan justru lebih banyak laki-laki. Karena memang Leo memiliki karyawan wanita yang terbatas. Lagipula, pemilik mansion ini melarang para tamu undangan wanita untuk mengenakan gaun yang berlebihan dan terlalu terbuka.


Karena itulah, gaun para tamu agak tertutup. Begitu juga dengan yang di kenakan oleh pengantin wanita sendiri dan istrinya. Walaupun begitu, tidak mengurangi kesan anggun dan juga elegannya serta pembawaan feminim dari wanita itu sendiri.


"Sayang, kenapa kau jauh dariku, sini!" Leo memanggil Nadia yang berada di sebelah Red.


"Kenapa harus di sampingmu? Begini baru bagus. Kita sama-sama mengapit pengantinnya." Nadia berkata sembari memutar bola matanya. Suaminya ini memang keterlaluan karena slalu saja ingin berdekatan dengannya. Posesifnya memang tak kenal tempat.


Leo pun memasang wajah dinginnya. Ia bahkan berdiri agak jauh dari pengantin pria. Hingga sang penata kamera atau biasa di sebut Fotografer memberi arahan padanya.


"Maaf, Tuan bisa geser sedikit lebih dekat!" ujar sang fotografer itu.


Hal itu membuat Leo mendengus sebal, pasalnya ia tak suka terlalu menempel dengan orang lain. Karena itulah ia tetap memberi jarak.


"Tuan, apa anda bisa--"


"Lakukan atau tidak sama sekali!" bentak Leo pada sang penata kamera sebelum pria itu menyelesaikan permintaannya.


Sehingga, raut wajah pria yang memegang kamera khusus tersebut pucat pasi seketika. Black pun memberi kode agar mereka menuruti apa keinginan tuannya.

__ADS_1


"Ba–Baiklah." Pria tersebut akhirnya mengambil gambar dengan pose Leo yang sangat kaku itu. Bahkan ketika ia memberi kode gaya bebas pun, Leo tetap dengan gaya manekin yang tak ada ekspresi sama sekali.


"Ganteng emang, gak di ragukan lagi tetapi sikap arogannya itu bikin merinding," batin sang fotografer dalam hati.


Nadia yang merasa tak puas pada akhirnya meminta pemotretan ulang. Ia pun berpindah tempat sambil memegangi perutnya yang besar untuk dapat berdiri di sebelah suaminya itu dan menggandeng lengannya. Barulah Leo tersenyum cerah bak mentari pagi.


"Nah, ini yang ku mau sayang," bisik Leo. Nadia pun tersenyum, demi menyenangkan hati suaminya ini.


Akhirnya selesai juga pemotretan yang normal dan wajah mereka berempat pun nampak bahagia.


Setelah Leo dan Nadia turun dari panggung, tak lama kemudian naiklah seorang wanita berpakaian sedikit terbuka. Padahal jika wanita itu adalah tamu undangan resmi dari acara ini.l, seharusnya dia tahu peraturan yang telah dibuat, bahwa dress code-nya dilarang menggunakan pakaian atau gaun yang terbuka.


Wanita berpakaian kurang bahan itu melenggang dengan anggun dan lemah gemulai ke atas panggung. Black serta merta menggertakkan gigi gerahamnya karena ia mengenal siapa wanita tersebut.


Black seketika merasakan keringat dingin bercucuran di dahinya. Dalam hatinya dia bergumam.


"Bagaimana wanita ini bisa tau kalau aku akan menikah hari ini di tempat ini? Apakah mungkin yang memberitahunya adalah Shine? Ah tidak mungkin, bahkan si botak saja tidak tau. Kan dia juga belum menemukan sejak kejadian itu," batin Black.


Black tanpa sadar menyeka keringatnya dengan kasar. Tanpa ia tau jika Red telah memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi.

__ADS_1


"Siapa wanita ini? Begitu cantik dengan tubuh yang sangat bagus. Sepertinya dia bukan berasal dari kalangan biasa. Terlihat berkelas dan berisi," terka Red di dalam hatinya.


"Halo Zo! masih ingat padaku kan? Aku tidak menyangka jika ternyata kau akan menikah. Kupikir, kau masih pria bebas seperti burung yang akan hinggap di manapun dia mau." Wanita cantik dengan rambut panjang berwarna biru tersebut meletakkan telapak tangannya di atas bahu Black dan sontak dengan cepat pria itu langsung menepisnya kasar.


Hal yang di lakukan oleh Black tentu saja cukup mengagetkan bagi Red.


Paulina tersenyum miris, sembari menahan kesal di dalam hatinya. "Aku tidak akan percaya jika aku tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku datang ke sini tidak ingin mengganggumu. hanya sekedar ingin memastikan, kalau pria yang pernah menjadi partner di atas tempat tidurku kini telah menjadi pria normal," ungkap Paulina yang sengaja datang dengan berpakaian seksi itu pun seraya tertawa. Hingga barisan giginya yang putih dengan gusi berwarna merah muda itu pun terlihat.


"Bagaimana bisa kau datang ke tempat ini? Aku bahkan tidak mengundangmu? katakan dari mana kau dapat kabar ini!" Black bertanya dengan nada tegas dan tatapan yang mengintimidasi.


Bagaimanapun ia harus bisa bersikap biasa saja. Meskipun wanita di hadapannya ini telah membongkar aibnya di masa lalu.


" Oh Zo, Kau tidak perlu tahu itu. Ataukah kau sudah lupa kekuasaan yang dimiliki oleh ayahku? Hanya untuk dapat masuk ke pesta murahan, itu adalah hal mudah bagiku." Paulina berkata dengan senyum meremehkan. Terlihat sekali jika dia tidak suka dengan apa yang disaksikannya saat ini. Sepersekian detik sepasang mata cantiknya melirik ke arah Red.


Tatapan matanya begitu merendahkan pada sosok cantik yang seperti Barbie ini. Black saja sampai tidak tahan untuk membawa Red segera ke kamar. Apalagi lelaki ini pernah melihat secara keseluruhan tubuh wanita itu meskipun ia belum menjamahnya dan itu sangat terpaksa.


Paulina memindai Red dari atas hingga bawah. "Sejak kapan Zo menyukai wanita lurus seperti ini? Tubuhnya saja seperti jalan tol. Wajahnya juga biasa saja. Apa jangan-jangan pria ini baru saja kecelakaan lalu mengalami gegar otak? kemudian diselamatkan oleh wanita kampung yang tak berkelas." Seketika pikiran Paulina berkelana kemana-mana. Perasaannya bermain dengan segala persepsinya.


"Karena kau tidak termasuk tamu undangan dan tak pantas berada di pesta murahan ini. Ku harap kau segera angkat kaki dari sini."

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2