Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#16. Red & Black.


__ADS_3

Siang harinya.


Leo dan Black nyatanya sudah berada di dalam pesawat. Black telah menceritakan apa yang terjadi pada tuannya.


"Langkah apa yang akan kau ambil?" tanya Leo pada Black.


"Tentu saja hal yang tidak akan di duga sebelumnya oleh wanita licik itu," jawab Black dengan raut wajah bak patung batu.


"Aku akan memberikan kesempatan pada Alfredo jika dia mau mengusir anaknya dari perusahaan. Karena kita sudah terlanjur berinvestasi dan tentu kita juga akan merugi jika harus menarik investasi itu," jelas Leo.


Black pun mengangguk mengerti.


"Pria tua yang gila harta itu pasti akan lebih mementingkan perusahaan ketimbang putrinya sendiri. Apalagi, Paulina adalah anak hasil di luar nikah dengan perempuan berkasta rendah. Tentu saja Alfredo tidak akan mau mengorbankan segalanya demi anak perempuan yang bukan ahli warisnya," timpal Black.


"Selesaikan urusanmu dengan baik dan jangan sampai mencampuri ranah pribadiku!" kecam Leo.


"Baik Tuan. Anda tenang saja," ucap Black.


Tak lama Black mengirim pesan pada Red bahwa mereka akan kembali ke tanah air lebih awal. Pria itu pun menyandarkan kepala setelahnya. Akan tetapi bayangan semalam pun berkelebat dalam pikirannya.


"Ough, kau luar biasa sayang," gumam Black yang ternyata bisa didengar oleh Leo.


Hingga Leo menoleh dengan alis mata yang bertaut lantaran bingung.


_____________


Sementara itu di dalam kamar hotel.


Paulina terbangun karena cahaya matahari siang perlahan menyelinap melalui celah jendela kamarnya yang gelap itu.


"Ugh." Paulina menggeliat, kemudian menyingkirkan tangan yang berada di atas dadanya. Sontak kedua matanya membulat sempurna, pada saat ia menoleh ke sebelah.


"Aakh!!" teriak Paulina keras bahkan wanita itu sampai terduduk saling kagetnya.


"Kenapa kau yang ada di sini asisten kurang ajar! Apa yang kau lakukan di kamarku!" teriak Paulina terus-menerus sambil melempar bantal ke arah pria di sebelahnya.

__ADS_1


Seketika terdapat pergerakan tiba-tiba dari Shine. Dimana pria berkepala plontos itu pun perlahan membuka matanya. Akan tetapi, pukulan dan juga tendangan yang justru ia terima dari partner bercintanya semalam.


Ough!


"Paulina sayang, kenapa kau menendang ku!" protesnya sambil melindungi pusaka keramat dengan kedua telapak tangannya. Karena takut terkena tendangan nyasar dari kemarahan Paulina yang membabi buta.


"Sayang, sayang, kepalamu!"


"Beraninya kau! Dimana Zo, yang semalam tidur denganku!" teriak Paulina sambil terus memukuli shine dengan guling. Bahkan ia terlupa, bahwa kini dirinya masih polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di badan.


Alhasil.


Grep.


Raga telanjang Paulina jatuh menimpa perut serta dada Shine yang kotak-kotak itu. Ia meronta sekuat tenaga karena dirinya sangatlah jijik. Baginya, setampan apapun Shine ... dia takkan menyukai pria botak dan kembali merinding ketika membayangkan apa yang telah mereka berdua lakukan semalam.


Bagaimana pun shine itu tetaplah seorang kacung atau pesuruh yang levelnya sungguh jauh di bawah dirinya. Dimana Paulina adalah seorang princess. Karena dia merupakan seorang putri dari pengusaha yang cukup besar.


"Kenapa kau marah? Bukankah kita saling menikmati semalam?" tanya Shine santai tanpa merasa bersalah. Bahkan ia terlihat terus tersenyum penuh kemenangan sejak tadi.


" Siapa yang bilang bodoh! Apa pria ini yang kau maksud hah!" Shine dengan cepat mendorong tubuh Paulina. Hingga wanita sombong itu terjerembab dalam keadaan terlentang dan Paulina kembali di bawah kuasanya lagi.


"Lepaskan aku brengseekk!" pekik Paulina yang tak terima atas sikap dan perlakuan pria botak ini padanya. Semua rencana yang di susunnya pupus sudah, karena ia salah mencari partner dalam kejahatannya.


"Seenaknya kau meneriaki aku. Bagaimanapun, aku telah membuatmu menggeliat keenakan semalam!" sarkas Shine yang tau bahwa wanita ini pasti akan mengumpatnya habis-habisan.


Shine nyatanya tak peduli karena pada saat ini tubuh kekarnya semakin menghimpit raga molek Paulina yang tanpa busana. Hingga pria ini kembali menelan ludahnya melihat betapa menggodanya setiap sudut bentuk tubuh wanita di bawah kungkungannya ini


"Diam kau, dasar pria gila!" maki Paulina dengan mata memerah.


"Sepertinya aku harus mengulangnya lagi agar kau ingat." Sebelum wanita itu menyetujuinya, Shine sudah kembali mengalahkan Paulina dengan hujaman dari senjatanya yang telah tegak menantang.


"Jangan macam-macam kau, akh!" Paulina kembali membulatkan matanya ketika Shine kembali menggagahi dirinya.


"Aku, tidak akan melepaskan mu! Lihat saja, kau pasti akan ku habisi!" Pria berkepala pelontos itu pun langsung membungkam bibir Paulina dengan ciumannya yang kasar dan penuh napsu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian amukan dari Paulina pun berubah menjadi sebuah desah dan racau penuh gelora. Keduanya kembali mengulang penyatuan panas mereka.


Satu jam kemudian.


"Menjauhlah dariku!" Paulina menghempas tangan Shine yang memasang seringai di sebelahnya. Laki-laki dewasa ini begitu kuat. Tenaganya macam kuda liar karena seakan tak ada lelahnya sedikitpun.


Paulina segera membersihkan dirinya ke kamar mandi. Meskipun ia harus berjalan dengan terseok-seok. Karena pinggangnya yang linu serta area pribadinya yang terasa begitu kebas.


"Lihat saja pembalasanku nanti, pesuruh sialan! Ck, kenapa nasibku sungguh apes!" rutuknya sambil menatap pantulan tubuhnya di cermin kamar mandi hotel tersebut. Seraya menutupi jejak gigitan dari Shine dengan alat make up nya.


"Sial! Kenapa semuanya bisa jadi seperti ini? Mana pria itu tidak menggunakan pengaman. Aku harus pergi ke dokter setelah ini," gumam Paulina sambil menekan pinggir wastafel dengan cakarnya.


"Ugh." Shine terlihat merenggangkan otot tubuhnya. Kemudian ia tersenyum puas mengingat kejadian semalam hingga siang tadi.


"Ahh, puas sekali aku ini. Setidaknya aku telah menyelamatkan kehormatan ajudan Black," gumamnya dengan senyum penuh kemenangan.


_______


"Red sayang!" Black yang baru saja tiba di mansion langsung menuju paviliun dan memanggil calon istrinya. Ia bahkan menjelajahi setiap sudut kediaman mewah Xarberg tersebut karena tidak menemukan batang hidung wanita yang sangat ingin ia temui saat ini.


"Black, dia sudah kembali?" heran Red yang tidak siap jika harus bertemu dengan pria itu saat ini. Karena itulah wanita berambut pendek ini memutuskan untuk menghindar lebih dulu.


Sayang sekali, sosoknya ternyata sudah diketahui keberadaannya oleh calon suaminya itu.


"Berhenti, jangan jangan coba-coba kalau lari dariku!" teriak Black yang mana hal itu membuat langkah dari Red serta merta berhenti mendadak.


Sang ajudan perkasa dengan rambut dikuncir itu langsung berlari menghampiri calon istrinya yang cantik yang tinggi ramping itu.


"Sayang," lirih Black yang kini telah meraup tubuh ramping Red ke dalam pelukannya dengan erat.


Red hanya bisa pasrah dan menyambut perasaan yang di salurkan oleh pria yang nyatanya ia rindukan juga.


"Aku sangat merindukanmu. Luar biasa sekali perjuanganku jauh darimu selama beberapa hari ini. Maafkan aku karena telah melihat hal yang seharusnya tidak mau kau lakukan sebelum kita resmi menikah. Sungguh, maafkan aku," lirih Black yang terus meracau untuk mengungkap perasaannya.


"Aku ingin kita menikah besok," pinta Red yang cukup membuat Black terkejut.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2