
"Awasi terus pergerakannya," kata Kendrick pada sang anak buah yang memiliki mata dan seringai bak seekor heyna.
"Saya hanya bisa dari jauh Tuan. Karena target kita bukanlah orang sembarangan. Mereka ajudan terhebat yang memiliki intuisi sensitif," jawab Dogster.
"Siapkan orang terbaikmu. Jangan menunda waktu lagi!" titah Kendrick.
Pria ini nampak gusar karena telah mengetahui tentang pernikahan dari Black alias Lorenzo. Jika saja keponakannya itu kembali maka kedudukannya terhadap tahta warisan pasti akan tergeser dengan mudah. Bagaimana jika Ken tau bahwa Lorenzo akan segera memliki penerus. Mungkin pria licik bin culas ini akan semakin tak enak tidur.
"Aku tidak akan pernah membiarkan apa yang telah menjadi milikku selama bertahun-tahun ini di ambil alih oleh seorang penerus yang tidak becus bahkan berasal dari rahim wanita yang berkasta rendahan. Kau tidak berhak terhadap ini semua Zo," gumam Kendrick dengan seringai jahatnya.
Pria serakah ini telah memanipulasi semua demi kekayaan yang ia miliki sekarang. Termasuk merekayasa kematian sang kakak dan juga istrinya.
________
"Red sayang, aku hanya akan ke kantor sebentar. Setelah ini, aku akan menjemputmu," ucap Black setelah ia melabuhkan ciuman singkatnya pada bibir istrinya itu.
Sembari memperhatikan wajah Red yang semakin bersinar apalagi setelah wanita maskulin itu mengetahui kehamilannya.
Bukan karena perawatan yang Red lakukan. Akan tetapi, kebahagiaan dari dalam hatilah yang akan memancarkan aura yang positif sehingga membuat kulit wajah menjadi cerah.
__ADS_1
"Kenapa aku nampak berat meninggalkan kediaman ini? Bagaimana dengan nyonya dan yang lainnya?" ucap Red risau karena Black mengajaknya pindah rumah. Saat ini dirinya tengah memasangkan kancing pada kemeja yang Black kenakan.
Padahal, Black sudah melarangnya agar tak perlu repot mengurus kebutuhannya. Akan tetapi Red tetap bersikukuh ingin melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti biasa. Ia merasa bahwa kehamilannya kali ini lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.
"Apakah, ada ruangan yang luas di rumah itu, Black ?" tanya Red memastikan sesuatu.
"Tentu saja, sayang. Aku telah mempersiapkan segalanya untukmu. Lihat saja nanti. Anggap saja, itu adalah hadiah atas kehamilanmu," jelas Black , dengan senyum yang melengkung lebar di kedua sudut bibirnya.
"No, Black jangan katakan seperti itu. Itu rumah kita, kau tidak perlu memberikan hadiah untukku. Segala perhatian dan kasih sayang darimu, itu sudah cukup untukku," ucap Red, seraya memberi remasan kencang pada sisi jas yang ia kenakan pada Black.
"Mana bisa begitu. Rumah itu sudah menjadi rencanaku jauh-jauh hari. Dan aku memiliki niat akan memberikannya pada wanita yang menjadi istri dan ibu dari anak-anakku kelak." Black menjelaskan dengan senyum bahagia yang tak luntur dari wajahnya sejak tadi. Dengan cepat ia memberi kecupan di ujung hidung istrinya itu.
"Itu belum seberapa sayang, semua yang ku lakukan adalah kewajiban. Tidak ada yang spesial dari itu semua. Seandainya bisa, biarlah aku saja yang membawa beban di perutmu itu," ucap Black lirih. Semenjak istrinya hamil, ia memiliki perasaan yang halus dan sentimentil.
Sungguh berbanding terbalik dengan Red. Ia menjadi lebih kuat dan mampu menyembunyikan setiap rasa yang dialaminya.
"Aku baik-baik saja, Black. Jangan khawatirkan aku. Aku adalah wanita yang kuat sejak kau mengenal ku bukan." Red membuka matanya demi menatap wajah sang suami dan wajah yang awalnya sangat ia benci kini menjadi hal yang membuatnya bahagia kala menatap.
"Aku tak menginginkan apapun saat ini, semuanya telah ku miliki. Berkat dirimu, aku tak lagi merasa sendirian," kata Red, kemudian memiringkan wajahnya, mengecup bibir suaminya itu, lalu menyesapnya lembut. Menyalurkan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
__ADS_1
Mendapat serangan manis di pagi hari, tentu tidak akan dilewatkan begitu saja oleh Black. Lantas ia menekan tengkuk istrinya demi memperdalam ciuman hangat mereka.
"Sudah ah, nanti kebablasan," cebik Red, setelah menarik ciumannya secara sepihak.
"Ck, kau ini. Lagi enak-enaknya, malah berhenti mendadak." Black, pun menarik kembali dagu Red dengan tangannya.
"Umhh." Red tak mampu berkata-kata lagi, karena kali ini, suaminya itu menyesap bibirnya tanpa ampun. Pria tampan nan gagah perkasa itu, menghentikan aksinya ketika sang istri mulai kehabisan napas.
"Ihh!" Red yang gemas, tiba-tiba melabuhkan cubitannya pada pinggang Black.
"Astaga, Red! Sakit banget sih, kalo nyubit," sungut Black, sembari mengusap kasar pinggangnya.
"Kamu yang duluan nyerang aku." Red berlalu dari hadapannya sembari menjulurkan lidahnya.
"Kotak makanmu!" Red menyodorkan satu set tempat makan, berwarna hijau tosca dengan merek Teparware. "Jangan lupa makan siang," ucapnya, tegas. Pasalnya, Black adalah tipikal orang yang gila kerja dan suka lupa waktu.
"Baik, sayang. Terimakasih" Black membungkukkan tubuhnya, ala hormat kerajaan. Red pun terkekeh di buatnya.
________
__ADS_1
...Bersambung. ...