
"Kenapa suka banget sih hmm bandingin mereka sama aku?" tanya kia, sembari mengelus wajah Ares, Ares hanya diam menatap dalam bola mata kia
"Kamu mau kalo dibanding-bandingkan?" Ares menggeleng tanda tidak mau
"Nah itu, kita gakbboleh banding-bandingkan orang lain, kamu gak mikir kalo mereka sakit hati hmm?" ujar kia lagi disertai pertanyaan
"Aku gak peduli"
"Heii, setiap orang itu berbeda, karakteristik nya pasti beda, kita gak akan bisa nemuin satu karakter dari dua orang yang berbeda" ucap kia lembut
"Tapi aku gak suka mereka" ujar Ares memelas
"Sayang, kalo gak suka cukup biarkan, aku gak mau ya kamu ngotorin tangan kamu cuma untuk hal sepele kayak gitu" balas kia lagi
"Ya mereka kenapa genit banget, udah tau aku gak suka" Ares mengerucutkan bibirnya manja, heh lihat kia mati-matian menahan tawa melihat ekspresi kekasihnya yang mirip seperti anak kecil meminta permen kepada ibunya
"Heh gak cocok kamu kayak gitu, masa ke orang lain kek psikopat di depan aku manja kek bocah gini" kia terkekeh sambil menguyel pipi tirus Ares
"Gak papa lah kan sama istri sendiri" celetuk Ares
"Astaga lemes bener mulutnya sih" kia mencubit pinggang Ares
__ADS_1
"Aws sakit yang, kamu suka banget sih nyubit pinggang"
"Ya lagian itu mulutnya kalo ngomong gak di filter"
"Sayang yang ngomong mulut aku kenapa pinggang yang jadi sasaran" ujar Ares
"Kenapa gak dibungkam aja sih pake bibir kamu hmm?" goda Ares
"Ah gatau! gak denger, gak mau denger juga" jawab kia menutup kedua telinganya sambil berjalan meninggalkan Ares.
"Hei sayang tunggu dong jangan ninggalin aku!" teriak Ares berlari mengejar kia
FLASHBACK OFF
"Tapi secara gak langsung Lo banding-bandingkan semua cowok sama sosok Ares Ki" ucap Lea
"Huft…gue tau" kia memejamkan matanya, untuk menghilangkan bayangan sosok Ares yang sejatinya sampai detik ini masih selalu mengikutinya disetiap langkahnya,
"Gue mau sendiri dulu" ucap kia sebelum meninggalkan mereka
Keenan beranjak hendak menyusul kia. tapi ditahan oleh Vano
__ADS_1
"Biarkan dia sendiri dulu keen" ucap vano
"Tapi Bang…"
"Turuti gue kali ini aja keen" Vano menyela ucapan Keenan
Keenan menghela nafas "Oke" ucapnya singkat
******
Seorang gadis berjalan menyusuri pantai yang sudah mulai senja, gadis itu adalah Kiana. Ya sejak tadi meninggalkan Abang serta sahabatnya kia pergi berkunjung ke pemakaman, setelah lelah ia pergi ke tempat yang selalu dikunjungi olehnya dan sang kekasih semasa mereka bersama dulu.
Gadis itu berdiri menatap senja, membiarkan deburan ombak menerjang kakinya, membiarkan semilir angin menerpa rambut panjangnya, memejamkan matanya untuk menikmati keindahan senja di tepi pantai, menghilangkan sesak yang menghampirinya. Bulir bening mulai berjatuhan membasahi pipi chubby-nya.
Gadis itu semakin memejamkan matanya, tangan yang tadinya direntangkan kini beralih memeluk dirinya sendiri, tak ada suara isak tangis, namun cairan bening itu tetap meluncur, tubuh gadis itu bergetar, seketika tubuhnya lunglai di atas hamparan pasir putih, dia tertunduk, tubuhnya semakin bergetar, isakan tangis mulai terdengar sangat memilukan.
"Kenapa res?hiikss…kenapa kamu harus pergi secepat ini? kenapa kamu tinggalin aku sendiri?…"
"Ya Tuhan kenapa rasanya sangat sakit jika harus mengingatnya?" cairan bening itu terus mengalir semakin deras
"Terlalu indah untuk ku lupakan, tapi aku tidak sanggup jika harus mengenangnya, semakin ku kenang dan ku ingat aku semakin merasakan sakit " kia semakin larut dalam kesedihannya.
__ADS_1
Bohong jika selama ini dia berhasil melupakan Antares Sebastian yang telah menemaninya selama 12 tahun itu, dia hanya mencoba menutupi kesedihannya dari orang-orang yang dia sayang. Karena kenyataannya dia sama sekali tidak pernah merasa bahagia usai kepergian Antares.
to be continue…