Kisah Cinta Kiana

Kisah Cinta Kiana
#Kck_06


__ADS_3

6 bulan berlalu kini Kiana tengah disibukkan dengan ujian kenaikan kelas. Setiap saat dia selalu isi dengan belajar, belajar, dan belajar. Namun siapa sangka jika itu hanyalah pelampiasan atas rasa kehilangan sosok yang paling berarti dalam hidupnya.


Rooftop, menjadi tempat favorit bagi Kiana sejak bersama dengan Ares, bahkan saat ini Kiana sedang berada di sana.


"Ki, Abang lo lulus dari sini mau nyambung kemana tu?" tanya Lea sahabat Kiana.


"Kenapa lu nanya-nanya tentang Abang gue?" tanya Kiana penuh selidik.


"Gue tau ni, pasti lo falling in love kan ama abangnya Kiana?" goda Nasya.


" Eh buset apa-apaan sih sya" Lea memalingkan wajahnya.


"Elah gak usah malu-malu kerbau njir kagak cocok" celetuk Kiana. Yap perlahan Kiana sudah bisa kembali seperti semula, kini dia bisa ceria lagi saat bersama temannya namun sifat dinginnya akan keluar saat dia bersama orang tak dikenal, terutama cowok.


"Hah?" beo Lea


"Malu-malu kucing nana kamvrett!" Nasya memutar bola matanya jengah.


"Btw le, tumben bener lu nanyain Abang gue?"


"Ya gak papa lah nanya doang, emang gak boleh ya? Lea balik bertanya.


"Hhmm boleh sih tapi aneh aja"


"Eh Abang gue yang mana dulu nih? Kiana kembali bertanya.


"Ho'oh, secara kan Abang Kiana selusin tuh, udah gitu buaya semua lagi" cetus Nasya.


"Sembarangan lo ngatain Abang gue buaya" Kiana menatap Nasya dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


" Elah canda doang Ki, ntu mata biasa aja kagak ada mangsa kok disini"


"Abang yang mana le? " Kiana tak menghiraukan si sahabat yang kadang bobrok itu


"Kenzo" lirih Lea


"Lah buset lu deket ama Bang Vano napa jadi Bang Kenzo yang lu pepet dah?" tanya Kiana heran.


"Ya wajar sih Ki, kemana-mana juga emang mendingan Kenzo sih" nah kan Nasya ini suka banget bandingkan orang, entar falling in love sama Vano baru tau dah.


"Heh gak gitu konsepnya ya nas" sangkal Lea.


"Lah jadi gimana dong le, gak ngerti gue nih"


"jadi selama ini lo sama Bang Vano kagak ada hubungan apa-apa gitu?" tanya Kiana lagi yang dibalas gelengan kepala oleh Lea


"Ck ck kasihan banget sih si Vani, udah deket, kemana-mana berdua ternyata bertepuk sebelah rumah" nah kumat lagi kan asbun nya si Nasya.


"Nah kan si kadal Afrika datang" batin Nasya


Tap


Tap


Tap


Derap langkah kaki semakin dekat ke arah mereka, Nasya yang membelakangi pintu masuk pun sedang berpikir untuk mencari alasan yang tepat supaya tidak berdebat dengan si 'kadal afrika-nya'.


"Emm Ki, le gue duluan ya" seraya bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Tap…


Baru dua langkah tangannya sudah ada yang menahan


"Mau kemana hmm?" bisik seseorang yang menggenggam erat tangannya hingga bulu kuduknya meremang karena hembusan nafas orang itu terasa di telinganya.


"A-apa sih van lepas deh" ucap Nasya gugup. Ya orang itu adalah Revano. Sedangkan Kiana yang diberi isyarat oleh vano untuk pergi langsung berdiri.


"Le temenin gue ke kelas Bang Ken yok" alibi Kiana.


"Oke, sekalian gue liat pangeran gue nih" Lea tersenyum penuh arti.


" Hayuk" Kiana menggandeng tangan sahabatnya yang diam-diam menyimpan rasa kepada salah satu abangnya.


"Bang gue ke bawah dulu ya, titip Nasya noh" ucap Kiana kemudian berlalu.


Usai kepergian Kiana dan Lea, vano dan Nasya masih dalam keadaan seperti tadi.


"Van lepas dulu deh" Nasya berusaha melepaskan genggaman tangan Vano. Kini dia merutuki mulutnya yang kalo bahas vano pasti julid. Dia juga merutuki kedua sahabatnya yang malah pergi.


"Apa?" tanya vano pura-pura tidak mengerti


"Ini masih disekolah loh, entar deh di apartemen gue gimana?" tanya Vano ambigu


"Ck lo mikirin apaan sih Vani, nih tangannya lepas dulu" Nasya mengacungkan tangannya yang digenggam oleh vano.


Vano mendorong pelan Nasya ke dinding kemudian dia mengunci pergerakan Nasya dengan meletakkan kedua tangannya di samping tubuh Nasya


Wajahnya sangat dekat dengan wajah Nasya, hingga hembusan nafas keduanya terasa menerpa kulit masing-masing.

__ADS_1


"L-lo mau apa sih? " tanya Nasya gugup, pasalnya dirinya tak pernah seintim ini dengan laki-laki. Vano tak menghiraukan pertanyaan Nasya, dia terus memajukan wajahnya, sedangkan Nasya sudah memejamkan matanya.


Hingga....


__ADS_2