
'Cakep sih, tapi sayang ke kulkas'
"Sok cuek, sok dingin, padahal mah murahan'
'Cantik, gak usah sok jual mahal deh, gak berlaku disini mah'
'Anjayy, udah dua tahun setengah masih belum ada juga yang berhasil deketin ni cewek'
(Anggap aja pake bahasa Inggris).
Itulah desas-desus yang terdengar dari beberapa mahasiswa yang di lewati oleh seorang gadis cantik yang tak lain adalah Kia. Dia terus berjalan lurus tanpa menghiraukan apa yang di ucapkan oleh mereka.
"Cantik, sendirian aja?" sapa seorang gadis cantik yang terlihat lebih dewasa darinya.
"Kak Izza" balasnya dengan senyum tipis, saking tipisnya tidak ada yang sadar jika ia tersenyum.
"Mau kemana?" tanya Aizza mensejajarkan langkahnya.
"Nemuin prof"
"Dih ngapain nemuin prof terus? jangan bilang naksir ya sama prof?" goda Izza. Ya ampun yang benar saja, masa iya seorang Kia beralih level jadi mengejar cinta seorang profesor yang rambutnya udah putih semua.
"Ye kagak lah, ya kali naksir sama orang yang udah seumuran papa"
"Eh lebih tua dari papa deng" ralat Kia.
__ADS_1
...*****...
Aizza Aldiansyah Putri, putri sulung dari pasangan Aldiansyah Putra dan Zeaa Andara.
Dia telah menyelesaikan studinya di luar negri dengan lulusan terbaik. Aldi pernah meminta putrinya untuk membantu di perusahaan mereka, namun Izza menolak keinginan sang papa dengan alasan ingin mandiri, akhirnya dia memilih menjadi sekretaris pribadi Revan Affandra. Izza menjadi sering mengunjungi apartemen Revan sejak Kia datang ke London dan menetap disana. Hubungan mereka juga semakin dekat layaknya adik dan kakak yang memiliki ikatan darah.
.
.
"Zico, sampai kapan ha kamu seperti ini? kamu sudah beranjak dewasa Co. Kamu harus mikirin masa depan kamu." tegur Aldi.
"Yah, aku kan udah bilang aku bisa mikirin masa depan aku, aku bisa nentuin pasangan aku sendiri, jadi Ayah gak perlu ikut campur" balas Zico.
"Ckk, bukan aku yang bawa Celine ke rumah. Tapi dia datang sendiri, dan kalian lah yang meminta dia datang" Zico menatap mata tajam sang Ayah.
"Kalian pikir Celine yang terbaik ha?! iya baik untuk kalian tapi enggak untuk Zico" lantang Zico, kemudian pergi keluar dari rumah.
"Zico, sayang. Nak tunggu dulu" Zeaa yang tadi hanya menjadi penonton perdebatan Ayah dan anak itu langsung berdiri mengejar anaknya saat Zico pergi keluar dari rumah.
"Gak Bun, biarkan dia pergi dari sini" tutur Aldi.
"Yah, kenapa sih Ayah selalu memaksakan kehendak Ayah?" tanya Zeaa dengan tatapan kecewa kepada sang suami.
"Izza, dia memilih melanjutkan studinya ke luar negeri karena Ayah memaksanya untuk menikah, dan sekarang Zico" Aldi menatap dalam istrinya, ada rasa bersalah dihatinya, namun segera ditepis.
__ADS_1
"Sayang, aku cuma melakukan yang aku rasa itu baik untuk anak-anak" alibi Aldi.
"Baik menurut Ayah, belum tentu baik untuk mereka" sentak Zeaa kemudian meninggalkan suamihya sendiri. Aldi menatap nanar punggung sang istri.
…
Sementara itu…
Nasya dan Keenan semakin sulit untuk dipisahkan, kondisi yang selalu mendukung mereka untuk bersama karena melanjutkan kuliah ditempat yang sama membuat rasa yang hampir menghilang dari hati Nasya perlahan kembali lagi.
"Hei, kenapa liatinnya gitu banget?" tanya Keenan saat melihat Nasya sedari tadi menatapnya, jujur saja itu membuat jantungnya tak tenang. Baru berada dalam jarak dekat dengan Nasya saja sudah membuat jantungnya bersenam ria apalagi ini ditatap dengan tatapan yang sulit untuk ia mengerti.
Nasya menggelengkan kepalanya "Gak papa, gue cuma lagi mikir aja" jawab Nasya.
Keenan menatap cengo ke arah Nasya "Mikir?" tanya Keenan.
Nasya mengangguk "Iya, ternyata kalo diliat-liat muka lo mirip papa" jawab Nasya dengan tampang seriusnya.
Keenan semakin dibuat tak paham, sejak kapan dia mirip sama papa Faris Sebastian.
"Papa siapa?" Keenan menautkan alisnya.
"Papanya anak-anak gue" Celetuk Nasya dibarengi tawanya.
"……
__ADS_1