
"Sayang, kamu beneran mau pulang nanti ke indo?" sedari tadi Revan terus saja merengek membuntuti sang kekasih yang sedang packing.
"Ya ampun Rev, dari tadi kamu ngikutin aku gak capek" jawab pacar Revan, yang jengah dengan tingkah 'pacarnya' itu.
"Enggak, sebelum kamu batalin pulang ke indo" tukas Revan mengerucutkan bibirnya.
"Heh, aku udah lama ya gak pulang. Gak mungkin dong aku cancel lagi" ucap gadis itu lembut.
"Aaa gak mau sayang" rengek Revan semakin menjadi.
"Heh, kayak anak kecil deh" gadis itu terkekeh.
"Biarin" Revan memalingkan wajahnya.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya, kemudian berjalan mendekat ke arah Revan.
"Heii" gadis itu berdiri dihadapan Revan yang tengah duduk. Ia menangkup kedua pipi Revan.
"Dengar ya, aku pulang cuma karena kangen Bunda aja…
"Iss gak mau, nanti Ayah kamu jodohin kamu lagi" ngambek Revan sambil melepaskan tangan sang pacar.
'Gila, bukan Abang gue sih ini'- batin seorang gadis yang sedari tadi menjadi penonton setia drama seorang CEO yang terkenal dingin berubah menjadi seperti anak kecil hanya karena sang kekasih akan pulang ke negara asalnya.
"Hiss, Rev. Gak malu tu diliatin Adek kamu" jujur saja gadis itu merasa geli melihat tingkah sang kekasih yang seperti ini. Bagaimana jadinya jika karyawan Revan tau, CEO mereka yang kejam dan seperti balok es itu justru kini merengek seperti anak kecil yang akan ditinggal ibunya.
__ADS_1
Ahahahah…
Pecah sudah tawa seorang gadis yang sejak tadi ditahannya "Kak, udah deh tinggalin aja ah" tuturnya masih dengan gelak tawa.
"Heh Adek lucnut" Revan melirik tajam Adiknya.
"Asli kek bocah banget sih Bang" ucap Kia disela-sela tawanya. Ya gadis itu adalah Kia.
"Bodoo" Revan merotasikan matanya.
'Lah? kan biasanya gue yang manja, kenapa jadi dia sih?'- heran Kia melihat tingkah Abangnya itu.
'Oke, semerdeka lu aja dah Bang'- gumamnya dalam hati.
Berbeda dengan Revan dan Kia, di Indonesia terlihat pasangan paruh baya tengah berada di salah satu Restauran yang cukup terkenal di kota B.
"Mas gak tau sayang, kita tunggu aja. Palingan juga bentar lagi datang" jawab Refandra.
Selang beberapa menit, tampak sepasang paruh baya memasuki pintu Restauran sambil bergandengan tangan.
Refandra dan Aza menyambut kedatangan calon besannya itu. Eh ralat mantan calon besan.
"Maaf, pasti udah nunggu lama ya?" tanya Fares.
"Haha, enggak kok. Santai aja Mas" jawab Refandra.
__ADS_1
.
.
Setelah pertemuannya tadi dengan Fares dan Alana, kini Refandra dan Aza sedang duduk di ruang keluarga. Ya mereka hanya berdua karena kini anak-anaknya tidak ada yang rumah.
"Mas" panggil Aza.
"Hmm? kenapa sayang?" tanya Refandra lembut sambil mengelus rambut panjang sang istri yang tengah bersandar di dada bidangnya.
"Apa yang dikatakan Mbak Alana sepertinya memang benar Mas" lirih Aza.
"Kenapa gitu?" Aza beringsut duduk dengan tegap hingga menghadap Refandra.
"Iya, kita liat sendiri kan bagaimana putri kita setelah kepergian Ares" jelas Aza.
"Jadi kamu setuju mau carikan jodoh untuk Kia hmm?" tanya Refandra seraya tangannya terangkat mengelus pipi wanita yang sudah menemaninya bertahun-tahun itu.
Aza mengangguk " Iya Mas, itu demi kebaikan putri kita juga"
"Baiklah kalo kamu setuju, Mas akan carikan pasangan yang tepat untuk putri semata wayang kita"
"Tapi tidak sekarang Mas" alis Refandra saling bertaut.
"Jadi?"
__ADS_1
"Ya kita tunggu Revan, Aksa, Aska, Kenzo, pokoknya tunggu anak-anak kumpul dulu. Karena kita butuh persetujuan mereka, terutama Abang Revan" tutur Aza, Refandra hanya manggut-manggut mendengar ucapan istrinya.