
Kiana menuruni tangga rumahnya, ia berjalan menuju meja makan. Terlihat disana keluarganya sudah lengkap berkumpul, hanya dirinya yang belum duduk disana.
"Honey" panggil seorang pria yang terlihat tampan.
Kia menoleh "Abang" teriaknya berhambur memeluk pria itu.
Pria itu berdiri menyambut Kia.
"Aaa Kia kangen" rengek Kia manja memeluk erat pria itu, yang dibalas tak kalah erat.
"Abang kenapa gak bilang kalo udah pulang" Ucap Kia mendongak tanpa melepaskan pelukannya.
"Kamu udah tidur tadi malam" Gemas pria itu menoel hidung Kia. Kia pasti akan selalu manja dengan pria yang dipanggilnya Abang itu.
"Sayang, udah dulu pelukannya ya. Lihat Abang Aksa kan juga ada disini" ucap Daddy disela-sela pelukan dua orang itu.
Kia menolehkan pandangannya ke arah Aksa yang tengah terduduk disebelah Aska. Sejurus kemudian dia menunduk.
Pria yang masih memeluknya paham perasaan gadis itu.
"Heii, cantiknya Abang gak boleh sedih ya. Kan Abang Revan udah pulang" ucap Revan mengelus rambut panjang Kia. Kia hanya mengangguk.
__ADS_1
"Ayok, kita sarapan" Revan menarik lembut tangan sang adik, mendudukkannya di kursi sebelahnya yang masih kosong. Karena memang sengaja untuk diisi oleh Kia.
*
*
Jauh di dalam lubuk hati Aksa, sebenarnya dia sangat merindukan Kia. Dia sangat ingin memeluk Kia. Menumpahkan semua rindunya pada Kia, adik yang sejak kecil selalu disayanginya. Tapi, waktu tak dapat diputar kembali. Saat dimana dirinya benci memiliki adik seperti Kia, bukan hanya karena kejadian itu, tapi dia juga merasa malu karena Kia tak secantik adik orang lain, hingga dia tega membiarkan Kia hampir dilecehkan oleh orang lain. Ralat. Bukan Kia tak cantik, hanya saja Kia saat itu tak bisa berhenti memakan makanan kesukaannya, yaitu coklat sehingga berat badan Kia bertambah, namun Dimata keluarganya 'si gembul yang satu itu terlihat menggemaskan, kecuali di mata Aksa Kemarahan Aska memang membuatnya tersadar seperti apapun Kia, dia tetap Queen keluarga Wijaya. Karena dari itu dia meninggalkan Indonesia.
Aksa terhenyak dari lamunannya. Saat suara lembut menyapa gendang telinganya.
"Bang Aksa" sapa Kia, suara terdengar seperti raga untuk menyapanya, entah ragu atau ada rasa takut. Karena diantara ke enam Abang Kia, hanya Aksa yang paling jauh dengan Kia. Walaupun terpantau mata, tapi nyatanya mereka tak saling sapa.
Aksa mendongak menatap Kia. Gadis itu menunduk saat di tatap oleh Aksa. Yang lain memperhatikan gerak-gerik Aksa, mereka takut hal yang pernah terjadi dulu akan terulang lagi.
"Bang Aksa" panggil Kia gemetar.
"Kia minta maaf Bang, Kia sama sekali gak bermaksud buat kak Aline celaka" ucap Kia lagi, kala itu dia baru memasuki sekolah menengah pertama.
"Stop panggil gue Abang, gue bukan Abang lo lagi!!" bentak Aksa bangkit dari duduknya, saat itu mereka tengah kumpul di ruang keluarga.
"Kenny Aksara!"
__ADS_1
"Aksa!"
Teriak papa Refandra dan Aska bersamaan.
Aksa menoleh kemudian menyeringai " Lo liat, Lo salah pun mereka masih di pihak Lo, padahal lo itu PEMBUNUH" ucap Aksa lagi dengan menekan kata 'pembunuh.
"Sialan, tutup mulut lo" Aska menarik kerah baju Aksa.
"Dia bukan pembunuh, dia Adek gue" ucap Aska tepat didepan wajah Aksa.
Aksa hanya berdecih.
"Segitu penting wanita itu Dimata kamu Sa, sampai kamu tega ngeluarin kata-kata tadi sama adik kamu, padahal kamu udah janji dari kecil akan selalu melindungi Kia, ini yang dinamakan melindungi Kia ha!?" Sela papa Refandra.
Kata-kata itu bagai tamparan untuk Aksa, hatinya merasa bersalah. Namun, semua itu segera ia tepis, saat dia dengan jelas melihat Kia mendorong gadis pujaannya ke tengah jalan saat truk sedang melaju kencang.
"Sekali pembunuh tetap pembunuh" Ucap Aksa sinis kemudian pergi.
"Bren**ek" teriak Kenzo, Keenan dan Aska bersaman hendak mengejar Aksa.
"Papa kecewa sama kamu Sa, kamu yang paling tua dari mereka, papa berharap kamu bisa menjadi pelindung buat mereka, tapi nyatanya…" Papa Refandra tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah tak sanggup berkata-kata lagi, dia sudah terlanjur kecewa dengan putra sulungnya. Sedangkan mama Aza kini tengah memeluk Kia.
__ADS_1
"Ada Aska pa, Aska bakalan ngelindungin adik-adik Aska, Aska gak bakal biarin siapapun nyakitin mereka terutama Kia, walaupun saudara sendiri yang harus Aska tentang" ucap Aska saat melihat raut kekecewaan sang papa kepada Abang kembarnya.