Kisah Cinta Kiana

Kisah Cinta Kiana
#Kck_55


__ADS_3

Sesuai dengan janji Kia kepada si kembar, saat ini mereka tengah berada di TPU sirna raga. Kedua bocah cilik itu berjalan dengan menggandeng tangan sang mommy. Sementara Ummi menunggu mereka bersama mang Dayat. Bukan apa-apa, Ummi hanya tidak ingin menganggu kedua bocah cilik itu. Selain itu, Ummi juga tidak sanggup melihat Kia rapuh lagi.


Kia berhenti tepat dimakam berkeramik hitam, dengan rumput Jepang yang menghiasi pemakaman. Yang membuat makam tampak hijau dan semakin menambah keindahan pemakaman itu karena dimakam tersebut terdapat banyak pohon bunga kantil yang sedang mekar. (Aneh ya, ada orang yang mendefinisikan makam indah bukan seram?).


'Assalamu'alaikum hubby, lihat sekarang aku bawa anak-anak kesini. Aku udah gak sedih lagi kok. Aku udah ikhlasin kamu, aku yakin kamu pasti bahagia kan liat mereka'


"Sayang, ngucap salam sama Daddy" seru Kia tersenyum menatap si kembar.


Anna menoleh kesini kemari, kemudian menatap sang mommy. Mommy meminta ucap salam tapi dimana Daddy? pikir Anna.


"Sayang ayo ucap salam" seru Kia lagi.


Anzel yang melihat adiknya kebingungan, menyikut pelan hingga sang adik menatapnya. Kemudian Anzel mengangguk.


"Assalamualaikum Daddy" ucap keduanya.


Cukup. Anna tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Mommy" panggil Anna.


"Hmm? kenapa sayang?" Kia berjongkok demi menyamakan tingginya dengan gadis cilik itu.


"Tata mommy, tita mau dumpa Daddy? tapi Daddy na da ada" ucap Anna polos. Anna celingak-celinguk mencari sosok sang Daddy.


Anzel menepuk jidatnya. Gemas sekali melihat adiknya yang polos itu.


"Sayang ini rumah Daddy, sekarang Daddy tinggal disini" ucap Kia menuntun Anna untuk berjongkok pula. Diusapnya nisan itu. Tegar? Kia tak setegar itu. Sejujurnya Kia rapuh setiap berada di hadapan Ares. Tapi demi anaknya? dia akan mencoba untuk tegar.


"Daddy di dalam?" tanya Anna lagi dengan tampang polosnya. Yang diangguki oleh Kia.


"Heii Adek, sayang. What are you doing?" tanya Kia panik.


Anzel masih setia dengan tampang cool-nya.


'Daddy' Anzel menatap nisan bertuliskan nama sang Daddy.

__ADS_1


"Anna, au pantu Daddy my. Cian Daddy da bisa teulual. Anna malah, Anna au tubit olang na udah matukin Daddy teu dalam" cerocos gadis mungil itu berdiri tegak dengan menggerakkan tangan layaknya hendak mencubit.


Anzel lagi-lagi dibuat tepuk jidat, ayolah dirinya dan Anna hanya beda beberapa menit saja, tapi kenapa Anna sepolos itu. Sedangkan dirinya merasa malu untuk bertingkah seperti anak kecil. Memangnya Anzel sudah dewasa?


"My, teunapa Daddy di dalam. Ayo pantu Daddy my. Cian Daddy na Anna da bisa nafas. Daddy anti nanit, Anna duga talo di kullung di tamal tuka nanit" lanjutnya.


"Dek, tempat Daddy emang disitu. Kalo kamu mau biar Abang panggil uncle itu" timpal Anzel menunjuk beberapa orang yang tengah menggali makam.


Otak kecil Anna sedang bekerja. Tak berapa lama gadis kecil itu melangkah kan kakinya.


Baru dua langkah sudah ditahan sang mommy "Mau kemana hmm?"


"Tata Abang aku pandil antel itu? belaltu Daddy di matukin ke dalam tama antel itu kan? Anna au malahin antel itu, Anna au tubit pelut latanya. Anna au talik lambut na duga, antel itu dahat. Daddy na Anna di matukin teu dalam..." mata Anna mulai berkaca-kaca.


"Huaaa mommy, Anna au Daddy. teupat bongkal" gadis itu kembali mecakar makam sang Daddy.


....

__ADS_1


Hadeh belibet ngetiknya niru anak kecil, lidah sampe keseleo 🤣


__ADS_2