
"Udah sarjana, ngapain ke kampus oii dek?"
"Segitu gabutnya lo hee?"
Kia hanya diam menatap malas kepada Abang ngeselinnya itu.
Ya sedari tadi Kenzo terus melontarkan pertanyaan yang sangat tidak berbobot kepada Adek perempuan satu-satunya itu.
"Ckk, gak asik ah lo mah diem aja dari tadi" Kenzo menoel noel lengan Kia, namun tak digubris oleh sang empunya.
"Iss ngeselin banget sih lo dek" Kenzo bersedekap dada dengan bibir manyunnya.
Kia melirik sang Abang dari samping. Pipi Kenzo terlihat menggembung, bibir manyun, kaki dihentakan ke bumi.
Seperti itulah kira-kira tampang Kenzo ketika ngambek.
Kia tak kuasa menahan tawanya.
"Hahaha, Bang. please deh gak usah digituin deh tu muka" ucapnya disela-sela tawanya. Tangannya tak tinggal diam, jari mungil nan lentik itu menusuk-nusuk pipi Kenzo yang masih menggembung.
"Gatau" jawab Kenzo cuek membuang mukanya.
Ahahah…
__ADS_1
Tawa Kia masih menggema, sungguh ini pemandangan langka. Karena sejak hari itu, Kia belum pernah tertawa selepas ini. Kenzo menatap datar sang adik. Kesal? tentu saja. Tapi dia bahagia, setidaknya dia bisa mengembalikan tawa sang princess-nya keluarga Wijaya.
.
.
Gadis itu masih mematung, menatap orang dihadapannya. Orang yang sangat ingin ia hindari, namun ternyata. Orang itu adalah orang yang akan di jodohkan oleh orang tuanya dengan dirinya.
"Pa?" Aska menatap Papa Refandra. Papa sama sekali tak menyahut namun ia menatap Aska, seolah tatapan itu bertanya 'ada apa?'.
"Kenapa harus jodohin Adek?" tanya Aska.
"Bang, ini bukan keinginan papa" jawab Papa Refandra apa adanya. Karena memang benar, perjodohan ini bukan lah saran atau pun keinginan Refandra. Melainkan permintaan orang tua Ares. Ya saat pertemuan mereka kala itu, Bunda Alana dan Ayah Fares meminta untuk menjodohkan Kia agar Kia bisa melanjutkan hidupnya tanpa terus dibayang-bayangi oleh kehadiran Ares di masalalu.
"Ya, tapi kenapa harus dengan perjodohan Pa? Tanpa perjodohan ini pun, Adek perlahan pasti bisa lepas dari masalalunya. Ini hanya perkara waktu, gak mudah Pa ada di posisi Adek"
"Aska, udah" interupsi sang Daddy (Affandra).
"No! Dad" menatap sang Daddy.
"Apa kalian pikir Adek bakal bahagai?" kembali Aska mencerca pertanyaan kepada para orang tua.
"Apa kalian tau? seperti apa sifat pria yang kalian jodohkan dengan putri kalian ha?"
Zico hanya mematung, ya pria yang akan dijodohkan dengan Kia adalah Zico.
__ADS_1
Aska menatap Zico penuh kebencian, entah mengapa? walaupun Zico sahabatnya sendiri. Tapi kali ini, saat dia tau Zico akan di jodohkan dengan adiknya Aska tak bisa terima itu.
"Apa maksudnya nak?" tanya Mama Aza yang sedari tadi hanya menyimak.
"Mam, pria yang ingin kalian jodohkan dengan adik Aska, dia suka mainin cewek. Emang kalian mau ha, liat putri kesayangan kalian dijadikan boneka mainan juga?" ucap Aska menggebu-gebu.
"Jaga mulut lo Ska!" sentak Zico.
"Apa? lo gak terima?" tanya Aska semakin menantang.
"Kenyataannya, emang lo suka mainin cewek kan?" Aska tersenyum sinis.
"Berapa banyak lagi ha cewek yang mau lo jadiin mangsa? siapa lagi yang mau lo jadiin mangsa ha?"
"Oh, sekarang Adek gue?"
"Jangan harap! gue gabakal biarin cowok modelan lo deketin Adek gue" sarkas Aska.
Tidak ini bukan Aska sama sekali, semarah apapun Aska. Biasanya akan tetap menjaga etika ketika ditempatnya berdiri ada orang tua. Namun, kali ini beda keadaan. Bagaimana bisa orang tuanya ingin menjodohkan putri kesayangan mereka, adik kecil kesayangannya dengan pria seperti Zico.
Kita tidak tahu seperti apa Zico?
Zico memang cuek dan terkesan dingin. Namun, semuanya tak seperti ekspektasi kita. Jika di novel pria bersifat dingin tak tersentuh oleh wanita, berbeda dengan Zico. Entah sudah berapa banyak wanita yang pernah kencan dengannya.
Yang kita tau sejauh ini, Zico hanya pernah kencan saja dengan wanita-wanita itu tanpa pernah dipacari seperti yang dikatakan Anrez kala itu. Tapi kita tidak tahu seperti apa dia sebenarnya.
__ADS_1
…