
..."Seberat-beratnya rindu Dilan kepada milea tapi lebih sakit rindu Kiana kepada Ares, karna sejatinya rindu paling menyakitkan itu adalah disaat kita merindukan orang yang telah tiada" ~Kiana Azella Wijaya~...
________________
Kini seorang gadis tengah meneteskan air matanya sambil menunduk setelah mengingat kenangannya bersama lelaki yang menemaninya selama 12 tahun. Tapi kini lelaki itu sudah tenang di alamnya. Gadis merasakan sesak di dadanya setiap kali mengenang kisahnya, yang menurutnya sangat indah dan tentunya sangat sulit dilupakan.
"Hiks…hiks…" gadis itu terisak disamping pusara tempat persemayaman terakhir sang pujaan hati. "Kenapa res? kenapa kamu pergi secepat ini hah? hiks…aku selalu coba untuk ikhlasin kamu, tapi kenapa aku gak bisa?kenapa rasanya sulit res ikhlasin kamu?" beberapa kali dia memukul dadanya yang terasa semakin sesak.
"Semua sikap manis kamu, sikap baik kamu, semua yang kamu lakukan selalu demi aku, setiap aku ingat itu maka semakin susah res aku ikhlasin kamu…kenapa? kenapa kita harus lewati waktu selama itu? kenapa kita harus membuat kenangan indah kalau ujungnya kamu gak ada disini?" Punggung gadis itu tampak bergetar sambil mendekap nisan yang bertuliskan nama Antares Sebastian, yang sejatinya nama itu juga yang selama 12 tahun terukir dihatinya. Semua yang dilakukan gadis itu tak luput dari pandangan tiga orang pemuda yang juga akan berziarah ke makam yang sama.
"Res lo pasti liat kan menderitanya adek gue tanpa lo, huft…gue gatau sampai kapan dia bakalan kayak gini terus" gumam salah satu dari pemuda itu yang tak lain adalah Keenan, ya yang sedang menangis di makam Ares adalah Kiana Azella Wijaya.
"Kisah kalian sangat indah res, kalau gue yang jadi kia juga kayaknya bakal ngelakuin hal yang sama, please res, datang ke mimpi kia bikin dia tenang, gue gabisa liat Adek kesayangan gue tersiksa gini res" batin pemuda disampingnya sambil menahan sesak melihat wanita kesayangannya yang ternyata tidak baik-baik saja, dia adalah Revano.
"Lo liat res, gue bahkan gak pernah liat kiana nangis kayak gini sewaktu dia sama Lo, karna sewaktu ada Lo, Lo paling bisa banget buat dia ketawa, tapi sekarang jangankan ketawa senyum aja jarang terlihat res, gue gak nyangka kalian bakal dipisahkan secepat ini, yang gue kira gak bakal ada yang pisahkan kalian" Allteza tak kalah sedih melihat gadis yang dulunya selalu ceria saat bersama mereka, bahkan kejahilannya kerap kali membuat mereka mengeram kesal. Tapi sejak kepergian salah satu dari mereka gadis itu berubah drastis.
__ADS_1
Kini ketiga pemuda itu berjalan mendekati Kiana. Revano berjalan terlebih dahulu kemudian merangkul sang adik membawanya ke dalam dekapannya. Kiana mendongak, setelah tau itu adalah abangnya dia memeluk erat tubuh laki-laki itu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang abangnya. Isakan kembali terdengar dari gadis mungil itu.
Sedangkan Keenan hanya bisa menatap sendu sang adik kembar, dalam hal ini walaupun mereka terlahir dari rahim yang sama, bahkan hanya berbeda beberapa menit tapi hanya Vano, Kenzo, Aska dan Revan lah yang bisa menenangkan Kiana.
"Dek jangan kayak gini gue mohon, Ares juga pasti sedih liat Lo kayak gini" ucap Vano sendu masih mendekap sang adik, sesekali mengecup puncak kepala sang adik.
" Queen kalo Lo kayak gini terus gue ngerasa gagal jadi Abang queen, please jangan gini terus, masa depan lo masih panjang" Keenan angkat bicara, Kiana hanya mendengarkan masih terisak.
"Ki, Ares pernah bilang ke kita untuk jaga Lo buat dia kan, kalo Lo kayak gini kita kerasa bersalah ke dia Ki" Kiana mendongak menatap ketiga laki-laki yang juga berarti dalam hidupnya.
"Astaga dek sadar, dia udah tenang disana, Lo mau dia sedih liat Lo kayak gini ha?" tanya vano yang dibalas gelengan oleh Kiana
"Lo tau kan dia paling gak bisa liat Lo kayak gini, dia bakal marah banget tau Lo nangis kayak gini, dan sekarang dia udah gak ada dek, dia percayain kita buat jagain Lo, walaupun tanpa dia suruh gue juga pasti jagain Lo karna Lo adek gue" tambah Revano lagi, Kiana hanya diam mencerna ucapan abangnya.
"Ingat queen Lo masih punya gue, masih ada Bang Vano, Bang Revan, Bang Kenzo, Bang Keanu ada sahabat kita juga, Lo gak mau kan ngecewain Ares?" tanya Keenan. Kiana kembali menggeleng.
__ADS_1
"Nah, makanya Lo harus bangkit, Ares udah tenang, dia nungguin Lo disana, dia mantau Lo walaupun udah beda alam" Kiana menatap nisan itu dengan tatapan kosong
"Tapi gue gak bisa" lirih Kiana.
Keenan menguyar rambutnya kasar, dia sudah tidak tau lagi cara membujuk sang adik, sedangkan Allteza sedari tadi hanya mematung melihat Kiana, segitu besarkah cinta Kiana kepada Ares?
"Lo bisa dek, Lo pasti bisa" vano terus meyakinkan sang adik
"Huft…bakal gue coba" jawab Kiana.
"Yaudah ayok balik, udah mau mau malam" ucap vano seraya berdiri, tak lupa membantu sang adik berdiri juga dan merangkulnya.
"Aku pamit dulu ya, besok aku kesini lagi, maaf tadi aku nangis lagi, pasti kamu merasa bersalah lagi kan karna aku nangis lagi, aku janji pas aku kesini besok gak bakal kayak tadi" ucap Kiana kembali berjongkok di depan nisan itu sambil mengusap lembut nisan itu dan mengecupnya.
Bersambung…
__ADS_1
Next or no?