
"Papa siapa?" Keenan menautkan alisnya.
"Papanya anak-anak gue" Celetuk Nasya dibarengi tawanya.
.
.
Keenan mematung mendengar jawaban yang keluar dari bibir mungil Nasya. Bagi Nasya mungkin hanya candaan, tapi boleh gak sih jika Keenan berharap itu sungguh-sungguh dari hati Nasya?
Nasya menghentikan tawanya saat melihat Keenan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo kenapa?" Keenan masih tak bergeming.
"Keen, lo kenapa sih?"
"Ih jangan bikin gue takut deh, gue salah ngomong ya? atau gimana?" cerocos Nasya.
'Astaga, gemes banget sih ngeliatnya pen ngarungin aja'- batin Keenan.
"Iss Keen" sentak Nasya.
Keenan terperanjat dan seketika lamunannya buyar "Kenapa sih?" tanya Keenan lembut seolah tak terjadi apapun.
"Ya lo, ngeliatinnya ngapain gitu banget" kesal Nasya.
"Haha, maaf. Terus sekarang mau kenama?" tanya Keenan.
"Hah kenama?" tanya Nasya bingung.
"Kemana anjir bukan kenama" teriak Nasya menimpuk pundak Keenan.
"Eh buset dah, heran gue sama cewek. Kenapa hobi banget sih nimpuk pundak, mana kenceng lagi" gerutu Keenan.
"Ooh jadi lo sering digituin sama cewek" ucap Nasya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berjalan meninggalkan Keenan.
__ADS_1
"Eh eh Nas, tunggu dong" Keenan mengejar Nasya.
"Cepet banget sih jalannya" ujar Keenan saat berhasil menyamai langkah Nasya.
"Gatau, pergi aja sana sama cewek yang lo bilang tadi" jawab Nasya cuek bebek.
"Yah, kok gitu? gue kan maunya sama lo"
"Gatau ah Keen, gue kesel sama lo" Nasya semakin mempercepat langkahnya.
Keenan mengulum senyum, dalam sekali hentakan dia menarik Nasya hingga menubruk dada bidangnya. Nasya terpaku menatap Keenan, mereka sama-sama bisa merasakan detak jantung masing-masing.
fiuhh…
Keenan meniup muka Nasya, membuat gadis itu tersadar "Apaan sih Keen, lepas deh" berusaha melepaskan diri.
"Lo cemburu?" tanya Keenan tanpa melepaskan pelukannya.
"Dih, kagak" jawab Nasya cuek mengalihkan pandangannya.
"Iss…
'Heh kalian ngapain, mau buat mesum yaa!!'- teriak seorang warga yang tak sengaja melihat mereka.
Mereka berdua kompak menoleh ke sumber suara.
"Eh, ti-tidak pak. Tadi dia mau jatuh jadi saya bantu dia" alibi Keenan.
...*******...
Sudah dua tahun mereka berpisah, jika di hati dia yang jauh disana memang sepenuhnya masih terisi orang dari masalalunya, beda dengan seorang pria yang kini tengah berada di balkon kamarnya.
"Dua tahun Ki, gue kira dalam waktu dua tahun ini gue bisa lupain lo" monolognya.
"Oke, gue akui gak bisa lupain lo. Tapi kenapa gue bisa jatuh cinta lagi sama orang lain sedangkan dihati gue masih ada lo?" racaunya.
__ADS_1
"Apa gue sereceh itu? gak bisa mencintai satu orang aja"
Dia mengguyar rambutnya kasar. Jujur dihatinya masih tersimpan nama Kiana, namun disisi lain dia juga mencintai gadis yang ia temui beberapa bulan yang lalu. Sekarang apa yang harus dia lakukan?
Tok tok tok…
'Nak, Bunda boleh masuk?" tanya suara feminim yang berasal dari luar kamarnya.
dia beranjak dari duduknya membuka kan pintu.
"Kenapa Bun?" tanyanya dengan rambut acak-acakan.
"Astaghfirullah nak, kamu kenapa hmm?" wanita itu menyentuh pipi Zico, ya pria itu adalah Zico.
"Gapapa Bun, Adek cuma kecapekan aja" jawabnya sembari menggenggam tangan Bundanya yang masih berada di pipinya.
"Bunda ngapain ke kamar Adek?" tanya Zico lembut.
"Oh itu, katanya kakak kamu besok pulang dari London. Adek bisa jemput?" tanya Bunda Zeaa.
Mendengar itu Zico menjadi senang, dia sungguh rindu dengan kakaknya itu. Walaupun mereka sering bertengkar saat bertemu, tapi terbersit rasa rindu dalam hatinya saat berada jauh dari sang kakak.
"Jam berapa Bun?"
"Pagi sekitar jam 9 sayang" jawab Bunda Zeaa.
"Oke Adek bisa" putusnya.
*****
Haiii guys, gak nyangka ya udah episode 47 aja😊
terima kasih readers aku yang udah setia baca cerita aku yang receh ini.
makasih juga yang udah selalu support aku, pokoknya jangan bosan ya baca cerita aku.
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang membangun yaa🤗