
"Huaaa mommy, Anna au Daddy. teupat bongkal" gadis itu kembali mecakar makam sang Daddy sambil menangis.
....
Kia tersentak melihat putri kecilnya kini menangis sembari berusaha membongkar makam sang Daddy.
Anzel mendekap adiknya. Meskipun mereka sama-sama masih anak-anak namun Anzel merasa dirinya adalah Abang, jadi dia harus bisa menjaga adiknya apapun situasinya.
Kia memeluk kedua anaknya, hatinya sakit melihat Anna terus menangis memanggil sang Daddy yang sudah jelas tak bisa mereka dekap lagi.
Tujuan Kia kesini bukan untuk ini, bukan untuk menunjukkan sisi rapuhnya lagi dihadapan Ares. Bukan juga untuk membuat kedua buah hatinya terluka. Dia hanya ingin mengenalkan kedua buah hatinya kepada Daddy-nya. Apa yang dilakukan Kia salah? Mengingat Anzel dan Anna sama-sama masih kecil, mereka belum bisa berpikir sampai sana.
"Sayang jangan seperti ini nak" lirih Kia mengecup puncak kepala kedua anaknya bergantian. Kia memejamkan matanya, bersamaan dengan itu air matanya kembali mengalir deras.
"Hikss..hikss.. my au Daddy. Teupat bongkall hikss..cian Daddy da bisa nafas. deulap da ada ampunya. Anna au peyuk Daddy." gadis kecil itu terus meronta.
"Adek, dengar mommy sayang. Adek ga boleh gini ya, Daddy enggak ada di dalam nak. Daddy udah di atas dia udah bahagia sayang. Adek jangan nangis lagi ya, nanti Daddy-nya sedih kalo liat Adek kayak gini hmm?" Kia merangkum pipi anak perempuannya, mengusap bulir bening yang terus mengalir dari pelupuk mata anaknya. Terlihat mata itu masih berkaca-kaca, hidung kecil yang memerah.
"Daddy atas?" tanya gadis itu masih sesenggukan.
"Iya sayang, kita gabisa lihat Daddy. Tapi Daddy bisa lihat kita. Tapi kalian bisa merasakan kehadiran Daddy kalian disini" Kia menunjuk bagian dada Anzel dan Anna.
.
.
Setelah dari pemakaman kini Kia berada di apartemennya. Kia sengaja membawa kedua anaknya dan juga Ummi untuk tinggal dengannya di apartemen itu.
__ADS_1
Kia memandang Anzel dan Anna yang tengah terlelap di kasur Queen size-nya. Kia sengaja memilih tidur bersama dengan kedua anaknya untuk menebus kesalahannya selama empat tahun ini yang tak pernah menemui mereka.
"Mommy akan melakukan apa pun sayang untuk kalian" gumam Kia.
drtt...drtt
Suara deringan ponsel Kia menyadarkan kia dari lamunannya.
"Hallo"
"........."
"Sebentar lagi saya kesana, ingat jangan sampai ada yang tau!" ketegasan Kia jelas tampak menguar saat ini, tak ada Kia yang lembut bak putri raja.
"........"
Sementara ditempat lain....
"Kebiasaan banget sih ni bos, gue belum jawab juga" gerutu Andine.
"Sabar Ndine, orang sabar disayang bos gajinya melimpah ruah" ucapnya ngelantur.
_
_
Kia berjalan di lobby mengenakan celana bahan berwarna hitam dipadukan dengan kemeja putih yang dibalut jas senada dengan celananya.
__ADS_1
...Penampilan Mommy Kia saat ini...
Banyak tatapan mata yang menatapnya takjub.
Seorang wanita yang berada di resepsionis mendekatinya.
"Maaf nona, anda siapa?" tanya resepsionis itu.
Kia menatapnya datar membuat nyali resepsionis itu menciut. Security di depan tak berani mencegahnya, ternyata resepsionis ini juga tidak mengenalnya. Oke baiklah bukan salah mereka. Tapi selama ini Kia memang tak pernah datang ke perusahaan.
"Saya Azella, saya ingin berjumpa dengan Andine" ucap Kia datar.
glekk
Susah payah resepsionis itu menelan salivanya.
'Ya tuhan, apa ini seperti cerita dalam novel yang bertemu dengan bos dingin'
'Tapi dia wanita, kenapa auranya setegang ini?'
'Ckk kenapa sih ni otak, oke sekarang gue harus telpon nona Andine'.
"Ba-baik tunggu sebentar nona"
Kia memutar bola matanya jengah, dia sangat tak suka menunggu. Terlebih dia meninggalkan anak-anaknya di apartemen tanpa pamit karena mereka tidur.
__ADS_1
...