
Kiana POV...
Disinilah aku, aku berada di kisah empat tahun lalu. Saat dimana menjadi detik terakhir bersama dia. Aku bahagia saat aku mendengarnya dia kembali. Namun, siapa sangka jika itu hari penuh duka?
"Siap-siap kita ke rumah Ares ya, nak" Ucap Mama kala itu. Aku menatap Mama, tak seperti biasanya Mama berinisiatif mengajakku ke rumah Ares.
"Ada apa, Ma? Bukannya Ares lagi ke luar negri?" ya, pasalnya sudah hampir enam bulan ini Ares pergi tanpa aku. Hilang tanpa kabar, namun Bunda memberi kabar bahwa mereka sedang liburan keluarga. Heran? Tentu saja. Ini kali pertama mereka pergi tanpa membawa ku. Biasanya kemana pun mereka pergi selalu mengajakku. Tapi sejak setahun terakhir, mereka lebih sering pergi diam-diam. Bahkan terkadang orang tuaku dan Abang ku pun ikut menghilang. Aku tak tahu apa yang mereka sembunyikan.
"Hari ini dia sudah di bolehkan pulang" jawab Mama.
Ada yang lain dengan suara Mama, aku ingin menatap matanya. Namun, sialnya Mama menggunakan kacamata hitam. Perasaan ku mulai tak enak. Ada apa ini?
_
_
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya kami tiba di rumah Ares. Tunggu, kenapa ada bendera kuning? Siapa yang meninggal?
Jantungku berdetak tak karuan, perasaan ku semakin tak enak. Sesak menghampiri dadaku, gak mungkin 'Ares' kan?
Segera aku berlari menuju rumah. Aku berdiri di ambang pintu. Ku tatap satu persatu. Ayah? Ayah duduk memeluk Bunda. Nasya? Ada bersama mereka, kulihat yang lain sudah lengkap. Ada yang kurang satu. Ares? Ares dimana? Bukan yang sedang terbaring di tengah mereka dengan kain penutup itu kan?
Ku langkahkan kakiku untuk mendekat, dikala air mata mulai merembes membasahi kedua pipiku. "Bunda" lirihku.
Wanita yang ku panggil Bunda itu segera berdiri menghampiri ku. Memelukku erat.
"Bunda, Ares mana?" tanyaku dengan jantung yang berdetak tak menentu. Yang lain membuang pandangannya. Bunda tak menjawab, dia semakin terisak sesekali dia mengecup puncak kepala ku.
__ADS_1
"Maafin dia ya? sayang" hanya itu kalimat yang terdengar di telingaku. Siapa? Siapa yang harus ku maafkan?
"Ares udah pergi nak" pergi? Pergi kemana?
Sontak saja netraku menatap sosok yang terbaring kaku di tengah mereka. Jadi dia?
Aku melepas pelukan Bunda. Kaki terasa kaku untuk melangkah. Kristal bening ini semakin deras berjatuhan. Lunglai sudah tubuhku. kini telah luruh, bersimpuh dihadapan sosok tertutup kain itu.
Aku mengangkat tangan ku membuka kain penutup itu meski gemetar.
Deg!
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Terpampanglah wajahnya yang kini pucat, yang selama ini selalu memberiku senyuman terindahnya, selalu menatap ku dengan tatapan teduhnya. Dia terlihat begitu tenang dan damai.
"A-Ares" panggilku gemetar.
"Res, aku mohon bangun. aku kangen sama kamu"
"Kamu janji kan gabakal tinggalin aku. Terus ini apa? Kamu mau pergi sendirian hah? Kamu gak mau kasih aku pelukan perpisahan dulu?"
"Ares bangunnnnn!!!!!!!"
Kiana POV end...
***
Terlihat sosok cantik itu kini sedang duduk di balkon kamarnya.
__ADS_1
memetik senar gitar diikuti suaranya yang merdu yang begitu menenangkan.
*Dibawah batu nisan kini
kau tlah sandarkan kasih sayang kamu begitu dalam
sungguh ku tak sanggup ini terjadi
karna ku sangat cinta
Inilah saat terakhir ku melihat kamu
jatuh air mataku menangis pilu
hanya mampu ucapkan
selamat jalan kasih*....
ingatan nya masih berputar dengan kejadian empat tahun lalu.
'Kenapa? Kenapa kalian gak ada yang ngasih tau aku kalo dia sakit?'
Sepasang tangan kekar melingkar di perutnya yang rata.
"Kenapa....
Bersambung...
__ADS_1