
Jika kehadiran bisa membawa luka, dan kepergian membuat hampa, lebih baik dari awal tak perlu saling mengenal
__________
Terdiam di sini kutermenung
Memikirkan dirimu
Jalani hari biru bersama
Versi kecil dirimu
'Tuk memahami
'Tuk menerima
Oh, terima kasih
Tuhan kau t'lah berikan
Dua belas tahun terindah
Bersama dirinya
Menjalani cinta
Yang kupikir tak ada
Takkan kutukar dengan apapun di dunia
Sejenak
Namun mengisi jiwa
Hadirmu dalam hidupku
Kucoba jalani
__ADS_1
Dan kucoba mengerti
Oh, terima kasih
Tuhan kau t'lah berikan
Dua belas tahun terindah
Bersama dirinya
Menjalani cinta
Yang kupikir tak ada
Takkan kutukar dengan apapun di dunia
Tak ku tahu
Kuatkan diriku
Terima kasih
Tuhan kau t'lah berikan
Dua belas tahun terindah
Bersama dirinya
Menjalani cinta
Yang kupikir tak ada
Takkan kutukar dengan apapun di dunia
(BCL~12 Tahun Terindah)
Riuh tepuk tangan menjadi penutup dari suara merdu yang baru saja mengalun di aula universitas pelita. Tepat hari ini, tanggal 17 November 2021 merupakan hari peringatan ulang tahun kampus yang ke - 9.
__ADS_1
Terlihat seorang gadis masih menunduk diatas panggung saat baru saja ia menyanyikan sebuah lagu yang merupakan gambaran kisahnya sendiri. Seorang pria melangkahkan kakinya mendekati gadis itu, yang tak lain adalah Kia/Zella.
"Dek" pria itu menepuk pundak Kia.
"Abang" Kia mendongak kemudian memeluk sang Abang, dia adalah Aska.
"Kita turun ya?" tanya Aska sambil menyeka air mata Kia, selama menyanyikan lagu itu Kia memang tidak bisa menahan air matanya. Bayang-bayangan kebersamaanya dengan Ares melintas begitu saja tanpa diminta.
Berbeda halnya dengan Kia yang menangis mengingat kebersamaanya dengan Ares, maka di ruangan yang sama pula, seorang pria tengah memperhatikannya.
"Sayang aku gak tau apa yang kamu hadapi sebelum mengenal aku, tapi melihat kamu seperti ini, aku bisa ngerasain kalo kamu memiliki luka yang sangat dalam"
"Maafin aku jika aku malah menambah luka itu, aku benar-benar gak ada niatan ngerusak kepercayaan kamu Ki" helaan nafas terdengar berat dari orang itu.
"Lo kenapa dah Co, ngeliatin Aska ama Zella sampe segitunya" bukan cowok namanya kalo pas liat sahabatnya menung dibujuk atau ditanya baik-baik tapi malah di tabok seenak jidatnya.
"Eh buset Anrez kamvrettt woiii lah" pekik Zico, bener-bener ya, kalo aja ada tempat tukar tambah teman udah Zico lakuin dari dulu.
"Heh, yang salah bukan gue ya Co. Lo nya aja yang ngeliatin Aska kek mau nelen orang" semprot Anrez, Kagak kebalik ya harusnya kan Zico yang nyemprot orang si Anrez ganggu Zico lagi meratapi nasib eh ralat lagi nyesel nih. Wkwkk
"Sekarang lo nyesel?" tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari bibir Daren.
Zico dan Anrez kompak menoleh ke arah Daren.
"Siapa yang nyesel ren?" jiwa kepo Anrez muaki keluar.
"Nyesel?" tanya Zico.
Sementara yang ditanya hanya menatap acuh kedepan melihat Aska dan Kia yang masih saja berada di panggung, apakah mereka tidak ada niatan turun gitu? 'pikir Daren.
Tapi kedua sahabatnya yang berada di samping Daren sungguh sangat ingin melayangkan buku-buku milik mei-mei, ayam panggangnya mail eh jangan ayam panggang mail mah biar author yang makan aja, awokawok.
Daren sama sekali tak menghiraukan kedua sahabatnya yang berada di sebelahnya.
"Daren bangkiii woi, gue nanya" geram Anrez, namun sia-sia Daren hanya meliriknya sekilas.
"Gak jelas lo" celetuk Zico kemudian pergi.
__ADS_1