
Tidak sama sekali aku berniat untuk melukai adik kecil kesayanganku, adik perempuan ku satu-satunya. Namun, keadaan yang aku sendiri tak tau seperti apa kebenarannya, membuat hatiku tertutup, hingga aku membiarkan rasa benci untuk adik yang dulunya paling aku cintai bersemayam dihati ini.
~Kenny Aksara Wijaya*~
________
Kedua kakak beradik itu kini sedang duduk berhadapan di belakang rumah mereka.
Terlihat seorang gadis hanya menundukkan kepalanya, sedangkan pria disampingnya menatap lurus kedepan dengan kedua tangan dimasukan ke kantong celananya. Helaan nafas terdengar dari pria itu. Dia menolehkan kepalanya demi melihat sang adik yang terus menundukkan kepalanya. Tangannya terangkat mengelus puncak kepala gadis itu, membuat sang empunya mengangkat kepala dan menatapnya.
"Maaf" lirihnya dengan tangan yang masih mengelus puncak kepala gadis itu.
Gadis dihadapannya menggelengkan kepalanya.
"Maafin Abang dek, Abang udah gagal jadi pelindung kalian terutama kamu" ucapnya lagi penuh sesal.
"Abang bukan sosok yang patut untuk ditiru" Mata itu kini telah berkilau, bukan karena pantulan cahaya, melainkan genangan air mata, sekali kedip saja akan meluncur.
"Enggak" gadis itu menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah meluncur. "Bang Aksa gak salah, tapi Kia" ucap gadis yang tak lain adalah Kia.
"Harusnya Kia gak ngebiarin kak Aline…" ucapan Kia terpotong karena Aksa menariknya kedalam dekapan hangat yang sudah lama tak pernah Kia rasakan dari sosok abangnya yang satu itu.
"Ssst…Adek gak salah, tapi Abang. Semua ini udah takdir bukan salah kamu" bisik Aksa air matanya kini jatuh bebas, sesekali ia mengecup puncak kepala sang adik. Kia yang awalnya hanya diam, kini membalas pelukan itu tak kalah erat, dia sungguh rindu dengan Aksa.
__ADS_1
"Sekali lagi maafin Abang ya?" lirih Aksa, yang hanya dibalas anggukan oleh Kia.
Sedangkan tak jauh dari mereka, Orang tua dan saudara mereka menatap haru keoada dua saudara yang sudah lama renggang itu kini sudah kembali bersatu.
.
.
"Honey... heii jangan lari" Aksa menarik tangan Kia lembut, kini Kia berada dalam rangkulannya. Saat ini mereka sedang mengabiskan waktu hanya berdua, untuk menebus waktu beberapa tahun yang telah membuat Kia adik kecilnya terluka kata Aksa.
"Nakal" Aksa menarik gemas hidung Kia.
"Udah Abang bilang jangan lari" sungguh perlakuan Aksa membuat Kia lupa akan sikap abangnya beberapa tahun yang lalu kepadanya.
"Adek, heii" Aksa menyelipkan rambut Kia, tangannya beralih mengusap air mata Kia yang menetes tanpa diperintah.
"Kenapa hmm?" hati Aksa sakit melihat adik yang sempat dibencinya itu menetekan air mata dihadapannya. Kia hanya menggeleng.
"Abang ada salah?" tanya Aksa lagi, yang lagi lagi hanya dibalas gelengan kepala oleh Kia.
"Terus kenapa hmm?"
"Adek seneng Abang udah sayang lagi sama adek" jawab Kia dengan senyuman manisnya namun air matanya tak bisa dibendung tetap menetes tanpa permisi. 'Adek' Kia akan memanggil dirinya demikian saat dengan Aksa, tapi saat dengan yang lain dia akan menyebut dirinya 'Kia.
__ADS_1
Aksa meringis mendengar ucapan Kia, segitu jahat kah dia selama ini kepada Kia?
Kia benar-benar selalu mengharapkan dirinya, tapi dia malah memberikan kebencian tanpa alasan yang jelas kepada Kia.
Aksa membawa Kia ke dalam dekapannya, dia akan lemah jika mengingat sikapnya pada Kia beberapa tahun lalu, bahkan melihat Kia yang akan dilecehkan oleh temannya dulu pun dia hanya diam saja.
"Maafin Abang, Abang mohon" Lirih Aksa terus mengelus punggung Kia, matanya terasa panas, dadanya terasa sesak, adik kecilnya pasti sangat terluka oleh perlakuan Aksa, bahkan dengan gampangnya Aksa dulu mengatakan Kia 'pembunuh.
"Jangan menangis lagi karna Abang, Abang gak pantes kamu tangis, Abang bukan Abang yang baik untuk kalian" Aksa mengecup puncak kepala Kia lama membiarkan air matanya menetes.
"Adek berharap ini mimpi" gumam Kia yang dapat didengar Aksa.
Aksa sedikit merenggangkan pelukannya namun tak ia lepaskan.
"Kenapa?" tanya Aksa penasaran.
"Adek takut kalo ini nyata, adek gak bakal bisa peluk Bang Aksa kayak gini lagi" jawab Kia mengeratkan pelukannya membuat Aksa semakin merasakan sesak dihatinya.
"Itu gak akan terjadi sayang, Abang gak akan melakukan hal bodoh itu lagi" tegas Aksa.
"Dengar..." Aksa menangkup pipi Kia yang berlinang air mata.
"Mulai sekarang Abang akan selalu ada buat Adek, sayang sama Adek, dan akan melindungi Adek" ucap Aksa menatap mata Kia.
__ADS_1
"Adek gak mau dengar kata-kata itu Bang, Adek takut Abang ingkar lagi" Kia terisak, dia tidak ingin lagi kehilangan kasih sayang abangnya yang bernama Kenny Aksara Wijaya itu. Dia rela kehilangan apapun itu sesuatu yang bisa dibeli dengan uangnya, tapi tidak dengan cinta dan kasih sayang keluarganya. Kia ingin mendapatkan semua kasih sayang itu, entah itu dari papa-nya, mama-nya, daddy-nya, mommy-nya, dan Abang-abangnya. Kia sama sekali tidak ingin kehilangan mereka.