
Menyakiti
Rayan merasa tidak tenang jika nanti dirinya ketahuan oleh Barack kakak ipar sekaligus sahabatnya. Jika, dirinya telah menduakan Violetta adik Barack.
Rayan melakukan hubungan terlarang dengan Dea. Wanita cantik dan seksi yang sudah memberikan apa yang Violetta tidak bisa berikan olehnya sekarang, selama dia di nyatakan terkena Kanker Darah dan, juga Kanker Payudara.
Setiap hari Barack selalu menghindari Rayan. Bahkan tidak lagi dalam satu team seperti biasanya.
Rayan memilih untuk pulang setelah pekerjaan nya selesai. Untuk menebus kesalahannya Rayan mengajak Violetta makan siang di luar. Bahkan Rayan membelikan gaun untuk Violetta
"Hai sayang," sapa Rayan kepada Violetta. Ia mengecup kening istrinya.
"Pakai ini kita makan siang di luar." Rayan sembari menyodorkan paper bag kepada Violetta.
Violetta mengerutkan keningnya, tiba-tiba Rayan pulang dan mengajaknya untuk makan di luar.
Sedangkan Rayan jarang mengajak untuk keluar. Ia selalu mengajak Violetta pergi ke klub malam. Lalu, membuka paper bag yang Rayan kasih.
"Why?" tanya Rayan menatap Violetta saat melihat gaunnya hanya diam saja
"Apa kamu tidak suka gaunnya?" imbuh Rayan lagi.
Violetta mengelengkan kepalanya. "Tidak, gaunnya sangat bagus," ucap Violetta dengan tersenyum paksa.
"So, cepat bersiap aku mau lihat Vallery dulu." Rayan meninggalkan Violetta di dalam kamar.
Setelah Violetta selesai berdandan dan Rayan sudah kembali ke kamar mereka.
Violetta menatap dirinya di depan cermin. Ia merasa tidak puas dengan penampilan nya yang sekarang tidak lagi memukai. Membuat Violetta menitihkan air matanya.
"Apa sudah siap?" tanya Rayan. Namun, hanya terdengar isak tangis Violetta.
"Sayang, kau kenapa?" Rayan merasa khawatir. Ia memeluk Violetta dari belakang.
"A-aku sekarang cacat, tidak seperti dulu lagi ..." lirih Violetta.
"Tapi, kamu masih cantik," elak Rayan untuk menghibur istrinya. Ia membalikkan badannya dan menatap wajah Violetta.
Rayan menghapus air mata Violetta. "Sudah tidak boleh nangis lagi, jelek tahu," canda Rayan.
Setelah drama menangis mereka memutuskan untuk segera pergi, karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang.
__ADS_1
Rayan sudah reservasi sebelum nya untuk mereka berdua.
"Apa ada yang ingin kamu katakan sayang?" yanya Rayan.
"Ini semua kaya mimpi tapi, nyata," Jawab Violetta dengan pandangan kosong.
Sedangkan Rayan menatap Violetta yang memeluk tubuh nya sendiri.
"Setelah apa yang sayang lalui, termasuk kemoterapi, radio terapi, bahkan maaf," ucap Rayan terjedah. Ia menghela napas kasar. "Amputasi sekalipun?"
"Itu semua bikin,m aku, " seru Violetta dengan sedikit berpikir. "E,e kebal, tidak merasakan apa-apa, seperti mati rasa," imbuh Violetta dengan menganggat telapak tangan nya.
Rayan menghela napas panjang. "Vio sayang, semua akan kembali kesemula lagi, percaya lah." Rayan menarik tangan Violetta dan menggenggam tangan nya. "So, kita nikmati saja yang telah ada, Ok." Rayan meyakinkan Violetta.
"Disini dan kita mulai dari sekarang." sambung Rayan.
Namun, tiba-tiba dering telepon Rayan berdering. Rayan mengambil handphone dan terkejut saat Dea menghubungi nya. Ia mencoba bersikap tenang seperti biasa.
"Siapa?" tanya Violetta dengan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Gilang, anak baru yang akan menemani aku ninjau lokasi." Elak Rayan. Ia menatap layar handphonenya. Rayan takut jika nanti Violetta mengetahui nya.
"Sorry sayang, aku harus pergi. Ini sepertinya penting ada yang ingin dia bahas aku harus kembali ke kantor," ujar Rayan ia berbohong. Ia bangkit dari tempat duduknya dan mengecup kening Violetta dan meninggalkan Violetta sendirian.
"Hati-hati..."Violetta lirih saat Rayan sudah pergi.
🍃🍃🍃
Dea tersenyum saat Rayan mau datang ke rumahnya.
"Aku kan membuat kau bertekuk lutut di pelukan ku, dan nanti kau akan meninggalkan istrimu yang penyakitan," gumam Dea saat melihat Rayan berjalan ke arahnya.
Karena Dea menggunakan baju yang begitu transparan membuat Rayan ingin menghajar Dea di atas ranjang.
Satu persatu Rayan melepaskan jas yang ia kenakan, lalu melepaskan kancing baju satu persatu hingga terlepas semua.
Rayan mendorong dan menghimpit tubuh Dea ke tembok dan mencium tengkuk lehernya. Membuat Dea mendesah nikmat. Rayan menyukai suara seksi Dea saat mendesah membuat Rayan ingin mencumbu Dea dengan segera.
Tanpa menunggu lama Rayan membawa Dea ke atas tempat tidur. Ia merobek gaun transparan Dea yang telah mengganggu pandangan Rayan dan membuangnya ke sembarang arah.
Rayan mencium bibir Dea dan mengecup seluruh tubuhnya yang sudah menjadi candu Rayan beberapa hari ini.
Tidak ingin terlalu lama Rayan mulai mencumbu Dea hingga beberapa kali mereka lakukan.
Barack ternyata mengikuti gerak gerik Rayan dan ternyata benar jika adik iparnya ini telah berani menyakiti hati adiknya.
__ADS_1
"Dam it," umpat Barack saat mata suci nya ternodai melihat Rayan bercumbu dengan wanita lain.
Barack mengepal kuat telapak tangan dan ingin melabrak Rayan dengan Dea. Namun, ada seseorang yang menahan Barack untuk tidak masuk ke dalam.
"Ken," gumam Barack saat melihat siapa yang sudah mencegah nya.
"Jangan gegabah, tunggu waktu yang tepat untuk membongkar kebusukan Rayan."
"Tapi, Ken. Aku tidak mau adikku di hianati seperti ini. dia harus di kasih pelajaran," ucap Barack yang sudah mulai emosi.
"Tunggu Bar, Jangan kau kotori tangan kamu. Lebih baik jauhkan violetta dari Rayan."
"Jika, Violetta mengetahui ini dia pasti akan hancur. Tapi, aku tidak ingin melihat Vio kesakitan," sambung Kendra.
Barack menghela napas dalam-dalam. "Baiklah, aku ikuti saran kamu, tapi kenapa kau ada disini?"
Ken terkejut saat Barack bertanya kepadanya. Barack tidak boleh tahu jika Ken mengikuti Rayan dan Barack. Karena, Ken sudah tahu jika Rayan menghianati Violetta.
"Kebetulan aku lewat sini, tadi habis bertemu klayen di sekitar sini," jawab Ken asal.
"Ya sudah lebih baik kita pergi dari ini. sebelum Rayan tahu kedatangan kita," ajak Ken untuk meninggalkan rumah Dea.
Barack memilih untuk pergi ke restoran dimana Violetta berada. Karena Barack menghubungi dan Violetta masih di restoran seorang diri.
Barack memeluk Violetta saat ia baru saja tiba di restoran. Membuat Violetta bertanya- tanya kepada dirinya melihat kakaknya yang tiba-tiba memeluk dirinya.
"Kak, Vio tidak bisa bernapas," kata Violetta hendak berontak.
"Sorry baby, aku telah menyakitimu," ucap Barack.
"Lagian, datang- datang kakak meluk Vio gitu saja." Violetta memuat bola matanya malas. Ia mengurai pelukannya.
"Kakak tuh kangen banget sama adik kakak yang cantik ini," seru Barack.
"Gombal, Vio sudah tidak cantik lagi, lihat kulit Vio seperti ini, bahkan_"
Barack memotong pembicaraan Violetta. "Bagi kakak kamu tetap masih cantik, dengan kondisi kamu saat ini." Barack tersenyum.
"Kakak beruntung memiliki adik seperti kamu," sambung Barack.
Namun berbeda dengan Violetta. Ia merasa sedih dengan perlakuan Rayan.
Menyadari itu Barack menghibur adiknya.
"Sudah tidak perlu kamu pikirkan baby. Bagaimana kalau kita pergi ketempat favorit kita?"
__ADS_1
Violetta menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.