Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
27. Merasa Bersalah.


__ADS_3

27. Merasa Bersalah


Rayan tidak mempedulikan Dea yang terus saja memanggil namanya untuk membantunya. Rayan lebih memilih untuk mengejar Violetta menuju kamarnya.


"Vio ..."


"Sayang ..."


Dea berteriak memanggil Rayan. Namun Rayan tetap tidak mempedulikan nya. Dea merasa kesakitan saat Rayan mendorong dengan sangat keras. Niat hati ingin membuat Violetta marah dan bertengkar hebat tapi yang ada dirinya yang di dorong oleh Rayan.


"Awas saja kau Vio, hari ini kau boleh menang tapi tunggu sebentar lagi suami kamu akan menjadi milikku seutuhnya." Dea tersenyum licik saat menatap Rayan mengejar Violetta ketimbang membantunya.


Bi Lastri yang melihat awalnya muak tapi saat Rayan menjatuhkan Dea begitu saja membuat Bi Lastri tertawa kecil melihatnya.


Barack yang baru saja masuk kedalam dan melihat asisten rumah tangga adiknya yang sedang tertawa.


Sedangkan Bi lastri belum menyadari jika di belakang nya sudah ada Barack berdiri dengan menggendong Vallery.


Barack yang tidak penasaran dengan Bi Lastri hanya menepuk pundak nya. Namun Bi Lastri masih saja belum menyadari hingga Bi Lastri menepis tangan Barack.


Vallery yang tidak tahan saat di suruh Barack untuk diam. Namun tawanya pecah juga. Membuat Bi Lastri menoleh ke belakang.


"Tu-an Bara, Nona Val." Bi Lastri terkejut melihat Bos nya ada di belakang nya.


"Bibi kenapa teltawa gitu, apa yang lucu?" tanya Vallery dengan polos. dengan pandangan matanya melihat sekitar apa yang membuat Bi Lastri tertawa.


Bi Lastri merasa binggung harus menjelaskan kepada Vallery tentang dady nya yang membawa wanita lain kedalam rumah nya.


"Anu Non ... itu e... itu Non ... anu ..." ucap Bi Lastri sedikit gugup dengan melihat Barack yang memberikan isyarat agar tidak menceritakan apa yang terjadi saat Rayan dan Dea.


"Bi Lastri lebih baik bantu Vallery saja," Barack mencoba membantu Bi Lastri agar tidak merasa gugup dan bersalah karena tidak menceritakan apa yang terjadi, karena bagi Barack ini urusan orang dewasa. Lebih baik Vallery tidak mengetahui terlebih dahulu apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya.


"Eh iya Tuan, ayo Non Bibi bantu."


Bi Lastri mengandeng tangan Vallery menuju kamarnya. Namun, sebelum pergi meninggalkan Barack Bi Lastri berucap, "Tuan, terimakasih."


Barack hanya mengangguk kepalanya saja. Setelah kepergian Vallery dan Bu Lastri Barack menghampiri Dea yang masih duduk di lantai.


Dea memutar bola matanya malas saat melihat Barack melangkah ke arahnya.


Barack dengan tatapan mengejek melihat Dea yang di dorong paksa oleh Rayan.


Barack melihat dari kejauhan saat Rayan dengan Dea bermesraan. Namun Barack lebih memilih untuk menjauh karena Vallery tidak boleh melihat kelakuan Rayan.


"Mau apa kau kesini?" tanya Dea kepada Barack saat sudah ada di depan nya.

__ADS_1


Barack tertawa mendengar pertanyaan Dea kepadanya. "Harus nya aku yang bertanya seperti itu, kenapa kau ada dirumah ini?"


"Sial ..." gumam Dea.


Merasa pertanyaan Dea yang ia lontarkan kepada Barack malah menjatuhkan nya.


Dea dengan menahan sakit ia berusaha untuk berdiri namun Dea merasa kesusahan. Melihat Dea seperti itu Barack mencoba membantu Dea untuk berdiri dengan mengulurkan tangannya. Namun, tangan Barack di tepis oleh Dea.


"Aku tidak butuh bantuan mu," teriak Dea dengan sombongnya.


Barack menghela napas dalam-dalam melihat kesombongan Dea. Barack memang merasa kasian melihat Dea kesakitan maka ia ingin membantu nya untuk berdiri.


"CK, aku hanya membantu mu, kau pasti sedang kesakitan bukan?" tanya Barack kepada Dea.


🍃🍃🍃


"Vio ... tunggu aku bisa jelasin." panggil Rayan mengikuti Ken dan Violetta.


"Ken, cepat bawa aku ke kamar!" pinta Violetta untuk segera mempercepat Ken mendorong kursi roda Violetta menuju kamarnya.


"Vio, apa kau tidak ingin mendengarkan penjelasan suami kamu?" ujar Ken. Ken berusaha tenang meski hatinya sakit ketika wanita yang dia cintai di perlakukan dengan penghianatan.


"Dia bukan suami aku Ken, jika dia masih anggap aku istrinya dia tidak mungkin dengan terang-terangan membawa kerumah seperti ini," ucap Violetta dengan bibir sedikit bergetar.


Namun, saat sudah di depan kamar nya Ken yang hendak membuka pintu kamar di cegah oleh Violetta.


Violetta menatap pintu kamar nya ia terdiam sejenak. Violetta memikirkan apa Dea juga menempati kamar yang ada di depan Violetta.


Rayan tersenyum saat bisa mendekati Violetta yang masih di depan pintu.


"Syukurlah kau tidak jadi masuk kamar," sahut Rayan yang mengejutkan Violetta dan Ken.


"Apa dia juga tidur ..." Rayan memotong pembicaraan Violetta.


"Tidak sayang, Dea tidur di kamar tamu."


Violetta merasa lega saat Dea tidak menempati kamar yang biasa Violetta tidur.


Ken hanya bisa menatap mereka berdua, ingin rasanya menghajar Rayan. Karena Ken tahu perasaan Violetta terluka.


"Ayo aku antar kau masuk!" ucap Rayan kepada violetta saat tangan nya hendak mendorong kursi roda Violetta.


"Ken, antar aku kedalam!" pinta Violetta kepada Kendra.


"Vio, aku masih suami kamu, dan disini ada aku kenapa kau malah meminta bantuan sahabat kamu ini?"

__ADS_1


"Aku tidak butuh bantuan mu, Ken cepat!" tegas Violetta.


"Tapi Vio,.disini ada Rayan, so aku hanya mengantar mu sampai disini saja."


Maaf kan aku Vio, aku tidak ingin menyakiti mu dengan menolak permintaan mu.


Batin Kendara.


"Jaga dirimu baik-baik, jika ada sesuatu hubungi aku, ok."


Ken mengusap rambut Violetta. Kendara tersenyum lembut menatap mata Violetta yang memerah yang hendak ingin menangis.


"Aku pergi dulu."


Ken berpamitan kepada Violetta. Ken tidak tega melihat kesedihan Violetta. Ingin rasanya mengantar Violetta ke dalam dan menemani Violetta hingga tertidur. Namun, saat ini.ada Rayan yang masih sah sebagai suaminya.


Setelah kepergian Ken, Rayan membawa Violetta masuk ke kamar. Rayan merasa senang karena bisa mengantar Violetta masuk kedalam kamar mereka. Rayan berpikir lebih baik untuk menemani Violetta dari pada Dea untuk saat ini, Rayan hanya ingin menebus kesalahannya saat istrinya memergoki dirinya dengan Dea. Rayan merasa bersalah karena sudah dengan terang-terangan menyakiti didepan Violetta.


"Stop!"


Violetta menyuruh Rayan untuk berhenti saat dirinya sudah di dalam kamarnya. Sedangkan Rayan mengikuti perintah Violetta.


"Sayang, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?"


"Aku ingin kau keluar dari kamar ini, aku ingin sendirian."


"Tapi, Aku ingin menemani mu hari ini, please!" Rayan memohon kepada istrinya agar di ijinkan untuk menemaninya bahkan membantu violetta ke atas kasur. Rayan tahu pasti istrinya akan kesusahan untuk pindah dari kursi roda menuju tempat tidur nya.


"Tidak ... kamu keluar sekarang, sebelum aku teriak kak bara untuk datang kesini."


Violetta mengusir Rayan dari kamarnya. Violetta berusaha untuk tetap tenang di hadapan Rayan. Apa lagi untuk menangis didepan nya.


"Bagaimana dengan mu apa kau bisa ke tempat tidur itu?" tanya Rayan sedikit mengejek.


"Aku tidak butuh bantuan mu, pergilah." sentak Violetta.


Rayan tidak ingin terjadi sesuatu kepada istrinya seperti saat di rumah sakit tempo hari. Rayan lebih memilih untuk mengalah.


"Baik, aku akan segera pergi, aku akan memanggil bi lastri untuk membantu mu."


Cup


Rayan mengecup kening istrinya sebelum pergi meninggalkan nya.


"Panggil saja kak bara."

__ADS_1


Rayan menghentikan langkahnya dan menoleh kembali. "Baik sayang aku panggilkan bara dulu."


__ADS_2