Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
48. Kekecewaan Vallery.


__ADS_3


Kekecewaan Vallery



Setelah sambungan telepon terputus begitu saja raut wajah Vallery menjadi murung. Vallery mengembalikan handphone milik Barack.


"Uncle, terimakasih. Val ingin pulang saja!" ucap Vallery dengan nada tidak semangat.


"Iya sayang," jawab Barack menerima handphone miliknya dari Vallery.


Barack hanya bisa menatap Vallery yang pergi begitu saja menuju tempat parkiran mobil.


Sangat jelas jika Vallery merasa kecewa dengan sikap Rayan di telepon tadi. Meski Barack juga tidak begitu suka namun melihat keponakan nya tiba-tiba murung Barack berinisiatif menghubungi nomor Rayan kembali.


"Val, sudah Dady bilang kalau Dady sibuk kenapa kamu masih menghubungi Dady?" ucap Rayan dengan nada meninggi.


Barack terkejut mendengar suara di Rayan. "Apa pantas seorang ayah berbicara dengan putrinya sendiri dengan nada tinggi," seru Barack dengan tegasnya.


"Bara," gumam Rayan.


"Iya, ini aku bukan putri kamu Ray, kau sudah keterlaluan membuat Vallery sangat kecewa besar."


"Bu-bukan begitu Bar, a-aku memang sibuk, kau pasti tahu sendiri kalau kerjaan aku-"


"Sibuk dengan wanita mu begitu maksudnya!" Barack tersenyum miring.


"Kau memang bastard, lebih mementingkan wanitamu dari pada putrimu sendiri." tambah Barack murkah.


Tutututut


Barack memutuskan sambungan telepon begitu saja. Lalu Barack menyusul Vallery yang sudah di dalam mobil terlebih dulu.


Barack masuk kedalam mobil dan melihat Valerry memalingkan wajahnya karena ia sedang sedih.


"Val serius ingin pulang sekarang?"


Vallery hanya mengangguk kepalanya saja.


"Dengar-dengar mommy sudah selesai operasi lho, apa Val tidak mau menjenguk mommy Val?"


Vallery menggelengkan kepalanya.


"Realy?"

__ADS_1


Vallery menganggukan kepalanya.


"Nanti mommy marah lho." Barack mencoba menakuti keponakan nya agar mau pergi kerumah sakit.


"Mommy tidak akan marah Uncle, because Mommy is very dear," lirih Vallery.


Barack menghela napas kasar. "Val, Is there a problem? Can you tell me?"


Vallery tidak menjawab. Ia malah memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela.


Sedangkan Barack memperbaiki posisi duduknya sedikit miring ke arah Vallery.


Barack menggenggam tangan Vallery.


"Val,Is this the problem with your Dady?" imbuh Barack.


"Kamu bisa cerita dengan uncle," ujar Barack menyakinkan keponakan nya agar mau bercerita dengan nya.


Vallery menoleh kesamping dan memeluk tubuh Barack.


Barack membalas pelukan hangat keponakan nya. Terdengar isak tangis. Barack tahu jika Valerry kembali menangis.


Barack memberikan waktu Vallery untuk menangis agar ia merasa lega. Di rasa cukup lama Vallery menangis Barack mengurai pelukannya.


Barack menghapus air mata Vallery.


"Uncle, apa dady tidak sayang lagi sama Val?"


"Hush... Jangan bilang begitu. Dady Val sayang sama Val ko,"


"Tapi, kenapa dady tidak pelnah ada waktu untuk Val sama mommy?"


Deg


Apa yang di katakan gadis berusia hampir lima tahun itu memang benar jika, Rayan tidak pernah ada waktu untuk keluarga nya.


Walaupun Vallery baru berusia hampir lima tahun tapi, ia sudah mampu mengeksplorasi dunia di sekitarnya. Dan juga menjadi gadis yang tangguh.


"Listen to uncle,"


"Val tahu jika dady Val seorang pekerja keras, seperti Uncle dan oppa ramon."


"Dady sedang berusaha untuk selalu ada waktu buat Val, so Must be patient,ok." tambah Barack.


"Tapi, apa tidak bisa ada waktu dengan Val, hanya one day?"

__ADS_1


"Baiklah, biar uncle bantu bilang ke dady bagaikan?"


Vallery menganggukan kepalanya.


🍃🍃🍃


Di tempat yang berbeda, di sebuah apartemennya.


Rayan yang sedang membujuk Dea namun ia di kejutkan dengan Barack yang tiba-tiba menghubungi nya.


Setelah tahu Vallery ingin berbicara Rayan yang tadi sedang menahan amarahnya kepada Dea agar tidak pecah lagi, Rayan melupakan sejenak masalah dengan Dea.


Namun Dea mengancam jika Rayan pergi menemui Vallery hari ini. Dea akan kembali menyakiti dirinya sendiri.


"Aku tidak mau kau pergi hari ini Ray, meski dia putrimu aku hanya ingin kau menemaniku seharian ini,"


"Tapi, Dea aku bahkan kesulitan untuk bertemu putri ku sendiri dan ini kesempatan yang bagus bisa bertemu dia."


Rayan dan Dea kembali bertengkar hebat setelah Rayan berkata dengan Vallery jika dirinya sedang sibuk dan sedang berada di luar kota.


Kendra Walker merasa senang akhirnya operasi nya berjalan lancar. Dan ia tidak sabar ingin bertemu dengan Violetta meski masih berada di ruang pemulihan.


Ken bisa melihat kedua wanita paru baya yang masih terlihat cantik.


"Mom, bagaimana violetta?"


Casandra tersenyum saat melihat putranya datang. "Vio, masih dalam pengawasan perawat, Mommy dan Tante Vani belum di bolehkan untuk masuk sayang."


Sedari tadi Casandra dan Vani hanya bisa lihat Violetta dari dinding kaca. Mereka bisa lihat jika Violetta masih di tangani beberapa perawat.


Setelah menunggu cukup lama perawat keluar dan menemui ketiga nya. Jika sudah boleh menjaga Violetta.


Ketiga nya merasa senang setelah di beri ijin untuk menemui Violetta meski hanya dari balik kaca.


"Ken masuklah, biar Tante tunggu di sini bersama mommy mu," pinta Vania kepada Ken.


"Tidak Tante, lebih baik Tante dulu karena dia putri Tante," tolak Ken kepada Mami Vania.


Tidak ada penolakan mami Vania akhirnya masuk kedalam di mana Violetta sedang berbaring lemah tidak sadarkan diri karena masih pengaruh obat paska operasi beberapa jam yang lalu. meski tidak bisa mendekatinya dan menyentuhnya. karena Violetta berada di ruang seteril.


Ceklek


Mami Vania membuka pintunya dan masuk ke dalam ruangan khusus.


"Terimakasih princess, mami yakin kamu pasti kuat masih banyak disini yang sayang dan menunggumu. Cepat pulih sayang," gumam mami Vania dari balik ruangan.

__ADS_1


Karena di larang untuk kontak langsung dengan pasien. mami Vania merasa bersyukur karena putrinya bisa melewati masa-masa yang menyakitkan. namun setelah operasi pun masih rentan terhadap virus dan bakteri yang bisa menyerang Violetta.


__ADS_2