
Pemakaman.
"Ken, maaf telah menamparmu tadi. Tapi ku mohon lihat!" Barack menunjukkan dimana Violetta tengah berbaring dengan mata terpejam.
"Lihat Ken, lihat!"
Barack menarik Ken agar lebih dekat dengan Violetta.
"Dia sudah tidak merasakan sakit lagi Ken."imbuh Barack menunjuk-nunjuk Violetta.
Namun Ken tetap masih tidak percaya jika Violetta sudah pergi. Ken mendekati Violetta dan menggenggam tangan Violetta.
Ken menatap wajah Violetta yang masih terpasang beberapa alat bantu.
"Aku sangat yakin kamu hanya pura-pura kan sayang, a-aku akan membawa mu pergi dari sini, karena semua orang mengatakan kamu sudah meninggal." kata Ken dengan berderai air matanya.
Emma yang berdiri di samping perawat ikut menetes air matanya. Melihat bos nya begitu sangat mencintai Violetta hingga tidak percaya akan kenyataan yang ada.
"Oma ... Oma ... Kenapa?" tanya Vallery kepada Vania. Karena melihat Vania memegang dadanya.
Ramon seketika menoleh dan membantu istrinya.
"Dokter ... Suster tolong istriku." teriak Ramon meminta pertolongan.
Melihat Vania kesakitan Vallery kembali menangis.
"Oma jangan pergi, seperti mommy." ujar Vallery yang ada di samping Ramon yang tengah memangku istrinya.
Perawat yang ada di dekat mereka dengan sigap membatu Ramon dan membawa Vania ke dalam ruangan terdekat.
Riwayat jantung Vania kambuh akibat dirinya merasa shock hingga dadanya merasa sesak melihat dan mendengar putrinya pergi.
"Val sayang kenapa kamu sendirian disini?" tanya Daniel Walker yang baru saja tiba.
Orang tua Ken Walker langsung datang setelah mendapat kabar tentang Violetta yang sebelumnya kritis.
"Glanpa... Glanma Oma jatuh sakit, saat dengar mommy....." Vallery tidak berani melanjutkan kata-katanya ia hanya menunduk sedih.
"Sayang, kamu temani Val dulu," ucap Daniel Walker kepada Angelina Walker.
Daniel melihat ke arah ruangan dimana ada Violetta dan melihat putranya tengah menangis memeluk Violetta.
Daniel masuk dan mendekati Ken. Daniel mendengar rancauan putra nya dengan Barack.
Barack melihat kedatangan Daniel dan mempersilahkannya untuk membujuk Ken.
"Son, kamu harus tabah dan ikhlas menerima ini semua, apa kamu tidak merasa kasihan kepada Vio?"
__ADS_1
"Tapi Dad, Ken sangat yakin dia_"
"Suster, tolong cepat urus Violetta agar keluarga nya cepat membawa Violetta!" kata Daniel kepada perawat yang akan mengurus Violetta sedari tadi namun tertahan oleh Ken yang menolak Violetta untuk di bawa.
"Tidak... Tidak ... Ada yang boleh membawa Vio ku pergi, meski Dady sekalipun." Ken memeluk tubuh violetta dengan erat karena tidak boleh ada yang menyentuh dan membawa pergi.
Barack tidak percaya jika Daniel Walker bisa menenangkan putranya yang keras kepala.
Daniel meminta beberapa bodyguard nya yang selalu menjaganya untuk memegang Ken yang melarang Violetta di bawa.
"Emma..." Panggil Daniel kepada Emma.
"Iya Tuan," jawab Emma. Seakan tahu akan perintah dari Daniel hanya memanggil namanya. Dengan sigap Emma membantu mengurus Ken dengan perintah Daniel melepuh kan Ken meski Ken tengah di pegang dua bodyguard.
Barack terbelalak melihat sisi lain Emma yang begitu mudah melumpuhkan Ken hingga tidak sadarkan diri.
Dengan segera Perawat mengurus Violetta.
Melihat Violetta di bawa perawat untuk di bawa pulang. Vallery yang tengah bersama Angelina mendekati Violetta yang ada di bangsal.
"Val, apa kamu ingin melihat Mommy mu?" Tanya Angelina Walker kepada Vallery.
"Apa dia Mommy Val?" Vallery malah bertanya.
Angelina mengangguk kepalanya.
"Tapi, glanma kenapa Mommy Val di tutup kain putih seperti itu?" tanya Valerry dengan polosnya.
Angelina merasa sakit jika Vallery betul- betul belum memahami apa itu kematian. Apa lagi yang ada di hadapannya ibu nya.
"Sayang karena Mommy_"
"Val tidak mau, dia bukan Mommy Val." Potong Vallery dengan pergi berlari meninggalkan Anggelina.
"Val, sayang mau kemana?" ucap Angelina mengejar Vallery.
🍃🍃🍃
Kini Violetta tengah di kebumikan. Seluruh keluarga dan kerabat dekat Violetta turut hadir di pemakaman membuat semuanya larut dalam duka.
Sedangkan Barack tangannya memeluk Vallery yang hanya diam saja menatap gundukan tanah yang belum mengering.
Meski kadang kondisi tubuhnya belum sehat mami Vania tidak ketinggalan ikut hadir mengantar putrinya dengan di dampingi Emma duduk di atas kursi roda. Tidak henti-hentinya ia mengalirkan air matanya mengiringi kepergian putri nya.
Ramon merasakan kehilangan sosok putri kecilnya walaupun violeta sudah memiliki anak. Di mata nya tetap putri kecilnya.
"Ini yang papi takut kan selama ini. saat papi melihat mu adalah hari terakhir papi melihat mu. Maafkan papi." batin Ramon.
Meski tidak memperlihatkan air matanya tapi hati dan perasaan Ramon hancur.
Tidak hanya keluarga violeta saja yang merasakan kehilangan violeta. Ken walker sangat merasakan kehilangan wanita yang sangat Ken sayangi. Sampai detik ini Ken belum percaya violeta benar-benar pergi.
__ADS_1
Ken sangat berharap jika ini hanya mimpi bukan kenyataan. Tapi Ken harus menerima kenyataan pait ini. Jika sosok wanita yang sangat ia sayangi dari dulu pergi untuk selamanya.
Daniel walker melarang Ken untuk hadir di pemakaman violeta karena Ken akan membuat ulah untuk tidak memakamkan violeta.
Dan kini Ken di jaga ketat di mansion agar tidak kabur.
Semua orang larut dalam kesedihan namun seseorang datang dengan membawa kegaduhan.
"Vio, maafkan aku, selama hidupmu aku selalu membuat mu menderita," ucap Rayan duduk memeluk nisan violeta.
Membuat semua orang yang ada di sana merasa tercengang melihat kedatangan Rayan yang tiba-tiba dan menangis memeluk nisan violeta.
Barack yang melihat kedatangan Rayan merasa tidak Terima. Karena selama violeta di rawat pasca menjalani operasi sumsum tulang belakang Rayan tidak mau menjenguk. Namun Rayan hanya memantau violeta dari kejauhan. Apa lagi saat menjalani pengobatan Rayan lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Dea. Bahkan untuk bertemu putri nya saja Rayan tidak mau dengan alasan sibuk.
"Bajingan bangun kamu," Barack menarik Rayan untuk bangun.
"Apa kamu sudah puas melihat adik gue sekarang sudah pergi. dan buat apa kau datang kesini!"
Rayan menggelengkan kepalanya.
"Bar, a_aku hanya ingin meminta maaf i_tu saja. Karena a_aku Vio pergi."
"Jika aku tahu akan seperti ini, seharusnya sejak awal aku mengenal adikmu aku berubah dan tidak selalu melakukan kesalahan yang sama."
Dengan Rayan menangkupkan tangan nya untuk meminta maaf. "Aku memang pria berengsek didunia ini yang pantas untuk tidak mendapatkan permintaan maaf dari siapapun."
Rayan menatap semua orang yang ada di hadapan nya. " sekarang yang ada aku telah menyesalinya. tapi bukan seperti ini dia yang pergi harusnya aku Bar."
"Kamu tidak salah Rayan, ini sudah takdir dia saja. " sahut seseorang datang tiba-tiba.
"Diam kamu Dea, ini juga karena kamu," bentak Rayan.
"Dady jahat, Dady jahat." Teriak Vallery yang melihat Dady nya bersama wanita lain.
Rayan baru menyadari jika putri nya melihat ia bertengkar dengan Dea.
"Maafkan Dady sayang. Maaf, " seru Rayan.
Valerry menggeleng kan kepalanya. "Val, benci Dady... " teriak Vallery dengan tangisan. Dan ia hendak lari namun emma mencegah nya.
"Nona mau kemana, jangan pergi. Mommy nona masih disini nanti dia sedih. " kata Emma.
Emma memeluk Vallery yang sedang menangis.
Ramon tidak kuasa melihat cucunya dan sedari tadi ia hanya diam saja. Akhirnya mau buka suara.
"Cukup, kenapa kalian datang membuat kegaduhan di pemakaman putri ku? " ucap Ramon yang tidak suka akan kedatangan seseorang yang membuat dirinya kehilangan putrinya.
"Cepat bawah mereka dari tempat ini!" imbuh Ramon kepada beberapa bodyguard nya.
"Baik Tuan." kata beberapa bodyguard nya dengan sigap mengamankan Dea dengan Rayan.
__ADS_1