
Kenyataan Yang Pahit
Dea menyalahkan layar handphone nya dan mencari nomor seseorang ia tersenyum saat menghubungi Rayan.Dea menaruh handphone nya di atas meja. Dea menata handphone nya dengan menghitung.
One,
Two,
Tree,
Kebiasaan Dea jika ingin menghubungi kekasihnya. Dea berharap Rayan akan fast respon menghubungi balik, ntah itu telepon atau mengirim pesan singkat jika sedang sibuk.Namun kenyataan handphone nya tidak ada dering panggilan masuk atau pesan singkat dari Rayan.
Dea mengerutkan keningnya saat tidak ada reaksi apapun di handphone nya. Dea mencoba menghubungi Rayan kembali, dan tetap sama tidak ada respon sama sekali.membuat wanita ini merasa kesal.
"Ini sudah hampir satu jam belum juga kembali," gumam Dea.
"Aku tidak suka ini.jika kau terlalu lama di dekat dia, kau pasti akan lupa dengan ku," sambung Dea.
Dea mencoba menghubungi Rayan kembali tetap Rayan tidak mengangkat telepon dari nya.
"Shiit." umpat Dea kasar.
Dea melempar handphone nya ke sembarang arah ke atas kasur. Dea berteriak memanggil Rayan beberapa kali.
Tiba- tiba mengingat sesuatu, jika tidak bisa di telepon Dea bisa mengirim pesan singkat kepada Rayan.
Dea mulai mengetik sesuatu di aplikasi yang berwarna hijau.
Ray, jika kau tidak segera balik ke Hotel dalam satu jam. Akan aku kasih tau hubungan kita kepada keluarga istrimu!.
Dea tersenyum puas saat pesan singkatnya sudah dikirim.
🍃🍃🍃
Violetta ingin sekali membuka ia tidak ingin menunggu penjelasan dari Rayan. Violetta akhirnya memberanikan diri untuk mengambil handphone milik suaminya. Namun, suara bariton mengejutkan Violetta yang hendak mengambil handphone.
"Maaf sayang lama. karena kursi roda di pakai semua. so, aku harus cari dulu di tempat lain," Ucap Rayan yang masuk dengan mendorong kursi roda.
Violetta menghela napas panjang. Beruntung ia belum sempat mengambil dan membuka handphone milik suaminya itu.
"Tidak apa-apa mas, yang terpenting sudah dapatkan," ujar Violetta.
"Iya sayang, ayo aku bantu kamu untuk turun dari tempat tidur."
Rayan mengendong Violetta dan mendudukkan di atas kursi roda yang sudah Rayan ambil tadi.
Violetta merapikan rambut dan penampilan nya. Dengan di bantu oleh Rayan.
__ADS_1
"Cantik," kata Rayan membelai rambut Violetta dan mendaratkan kecupan di keningnya.
Cup.
"Aku beruntung memiliki istri secantik kamu," imbuh Rayan.
Violetta hanya bisa tersenyum paksa saat Rayan memujinya. Ingin sekali Violetta menyela jika, merasa beruntung memiliki istri cantik seperti dirinya tidak mungkin Rayan memiliki hubungan dengan seseorang. Hati Violetta merasa sakit dan menahan sakitnya. mengingat pesan singkat beberapa saat yang lalu. Ingin rasanya Violetta bertanya kepada Rayan.
Rayan mulai mendorong kursi roda menuju taman yang ada di lantai dasar rumah sakit. Selama di jalan Violetta hanya diam tidak menjawab candaan dan obrolan Rayan. Violetta merasakan sudah tidak ada lagi rasa kehangatan seperti biasanya pada suaminya.
"Semalam aku kesini. tapi, kamu masih belum bangun." ujar Rayan.
"Kamu tahu sayang. Jika, Val lah yang sudah memberi tahu kan ku tentang mommy nya masuk rumah sakit."
"Val, ikut mami sama Dady, semalam aku bertemu mereka." sambung Rayan lagi.
Mereka akhirnya sampai di taman rumah sakit. Rayan mencari tempat duduk untuk mereka mengobrol.
"Kita duduk di sana saja." ajak Rayan. Sedangkan Violetta hanya mengangguk kepalanya.
"Nah, bagaimana indah bukan tamannya?" sambung Rayan.
"Iya, terimakasih sudah mengajak jalan-jalan ke sini." Ucap Violetta dengan malas.
"Nanti kalau sudah sembuh kita bertiga pergi liburan, sementara kita ke taman ini dulu gapapa kan?" Tanya Rayan. Ia memutar kursi roda Violetta menghadap dirinya.
"Iya," Ucap Violetta singkat.
Rayan meninggalkan Violetta seorang diri di taman.
Violetta mengijinkan Rayan pergi dan ia menghela napas dalam-dalam sedari tadi Violetta merasa sesak prihal pesan singkat tadi. Namun rasa sesak di hatinya sirna saat Violetta tengah menikmati pemandangan taman yang begitu indah.tidak menyangka jika taman seindah ini ada di dalam area rumah sakit.
Tidak lama kemudian Rayan kembali. dan, Rayan mulai berlutut di depan Violetta dengan membawa bunga mawar merah yang di sembunyikan di belakang nya.
Violetta merasa terkejut melihat suaminya tiba-tiba berlutut di depan nya. Violetta hanya bisa diem menatap Rayan. Violetta berpikir mungkin Rayan akan berkata tentang pesan singkat.
Rayan mulai menyodorkan bunga mawar merah ke hadapan Violetta. Namun Violetta hanya memandang nya saja.
Rayan mulai mengatur nafasnya untuk memulai merangkai kata-kata.
Dari semua bunga, menurutku mawar adalah bunga yang paling cantik meski berduri. Namun, jika di sandingkan dengan mu, kau lah yang paling...
Namun momen romantis mereka hilang saat handphone Rayan berdering nyaring. Membuat konsentrasi Rayan buyar.
Rayan mengambil handphone yang ada di saku bajunya. dan menatap layar ponselnya. Rayan gugup saat melihat siapa yang menelpon dirinya. Violetta masih diam melihat Violetta.
Namun, Rayan hanya merijek panggilan masuk saja tidak di angkat. Dan memulai lagi merangkai kata yang sempat terhenti tadi.
"Maaf Vio, acaranya terganggu." Ucap Rayan.
Namun, lagi-lagi dering telepon berbunyi dan Rayan merijek kembali.
__ADS_1
Violetta yang hanya diam saja sejak tadi akhirnya mau buka suara meski malas.
"Kenapa tidak di angkat, siapa tahu penting." sahut Violetta.
"Tidak sayang, kau jauh lebih penting, ini Dio rekan bisnis aku." Kata Rayan dengan sedikit gemetaran menunjukkan tampilan layar handphone kepada Violetta.
Violetta tersenyum sinis melihat siapa yang ada di handphone suaminya.
Aku tahu kau sedang berbohong,
Batin Violetta.
"Sudah sejauh mana kau menyentuh nya," tanya Violetta dingin.
"Aduh, sayang kamu itu bicara apa?" Ucap Rayan asal. Rayan sebenarnya sedang gugup. Dan Rayan mulai mendekati Violetta dan memegang tangan Violetta yang tertancap jarum dan selang infus.
Violetta menggerakkan tangannya untuk melepaskan tangan Rayan. "Sampai mana, bibir?" Tanya Violetta menohok dengan menatap wajah Rayan yang hanya diam saja.
"Sampai bagian sini," kata Violetta dengan tangan nya kedepan dada.
Lagi-lagi Rayan hanya diam. "Atau lebih dari itu semua?," imbuh Violetta dengan bibir bergetar. nampak mata berkaca-kaca Violetta berusaha untuk tidak meneteskan air matanya begitu saja di depan Rayan.
"Jawab Rayan," Bentak Violetta.
Rayan terkejut melihat Violetta yang begitu marah padanya, ia berpikir dari mana Violetta tahu jika ada wanita lain. Apa mungkin keluarga yang sudah memberitahukannya.
"Maafkan aku Vio, aku sudah menyentuh nya lebih dari itu semua." Ujar Rayan. Ia menundukkan kepalanya.
Jedueerrr
Dugaan Violetta benar jika Rayan tengah menghianati cintanya.
"Sudah berapa kali kau melakukan nya? Satu, dua, lebih dari tiga atau lebih dari itu." Sentak Violetta.
Rayan mendongakkan kepalanya dan mengingatkan kembali sudah berapa kali Rayan menyentuh Dea. Bahkan Rayan tidak ingin jika kehilangan Dea untuk saat ini.
"Le-lebih dari itu." Ucap Rayan cepat.
Tes
Air mata Violetta yang sedari tadi ia tahan agar tidak pecah. Akhirnya jatuh juga. Dadanya begitu sesak menahan rasa sakit. namun lebih sakit dan hancur hatinya karena tengah di khianati cintanya. begitu kenyataan pahit yang Violetta dengar dari Rayan.
"Maafkan aku Vio, aku khilaf aku janji tidak akan mengulangi lagi." Tangannya memegang tangan Violetta. Namun Violetta menepisnya.
Beberapa kali Rayan mengucapkan kata maaf kepada nya dan selalu mengulanginya lagi.
"Aku mau kau pergi dari sini," Violetta mengusir Rayan dari hadapannya, karena Violetta sudah muak dengan suaminya.
"Aku mohon Vio, maafkan aku."
"Pergi... " Teriak Violetta begitu kencang.
__ADS_1