Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
38. Impian Dea Akan Terwujud


__ADS_3

38.Impian Dea Akan Terwujud.


Violetta ingin sekali memejamkan matanya, seperti tidak memiliki tenaga sama sekali tapi ia mencoba untuk tetap membuka matanya. Hingga Ken menepuk-nepuk wajah Violeta.


"Vio, kamu kenapa?"


"Vio, apa ada yang sakit?" imbuh Ken lagi.


"Ken ... A-ku su- sudah ga kua ..."


Violetta memejamkan matanya.


"Bar, cepat kita bawa Vio kerumah sakit sekarang!" hardik Ken kepada Barack.


Tanpa basa basi Ken menggendong Violetta ke dalam pelukannya dan menuju mobil Barack. Dengan cepat Barack membuka kan pintu mobil untuk Ken dan Violetta.


Bagaimana dengan mobil Ken? Yang terparkir di restoran. Ken tidak memikirkan itu yang terpenting yang ada dipikiran Ken adalah keselamatan Violetta jauh lebih penting.


Dengan kecepatan tinggi Barack mengemudi mobil menuju rumah sakit.


Hanya butuh 30 menit mobil yang di kemudikan Barack sampai di rumah sakit.


Dan Dokter Aleta dan Dokter Ben sudah menunggu di pintu UGD menunggu kedatangan Violetta. Karena di perjalanan tidak Barack sudah menghubungi Dokter Yang menangani Violetta.


Violetta di bawa masuk ke dalam ruangan UGD.


"Tuan, bukannya kesehatan nona vio sudah membaik kenapa bisa seperti ini lagi." tanya Dokter Aleta kepada Barack dan Ken yang sudah mengenal mereka berdua.


"Ceritanya panjang, hingga vio..."


"Ok, cukup kita tunggu hasil dari Dokter Ben dulu."


🍃🍃🍃


Rayan menepikan mobilnya saat melihat ada apotik. Ia keluar dari mobil dan masuk kedalam apotik untuk membeli kan obat-obatan untuk mengobati luka Dea akibat tamparan dari dirinya.


Sedangkan Dea hanya diam di dalam mobil.


Ia melihat dirinya di cermin yang ada di mobil. Dea tersenyum melihat wajah nya yang memerah dan sedikit bengkak.


"Hanya gara-gara wanita penyakitan itu kau menamparku ray," lirih Dea.


"Tapi akhirnya kau kembali lagi kepada ku." Dea tersenyum puas.


Dea melihat Rayan keluar dari apotik dan ia kembali diam karena saat ini Dea sedang berpura-pura marah kepadanya.


Rayan membuka pintu mobil dan tersenyum melihat Dea.


"Maaf harus menunggu lama," kata Rayan. Namun Dea tidak mempedulikan Rayan. Tetap saja Dea bersikap acuh dan memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela.


"Kemari lah biar aku obati!" pinta Rayan kepada Dea. Yang sedang memegang kantong berisikan obat.


Dea melirik, "Tidak perlu, aku bisa sendiri," ketus Dea merebut kantong kresek yang berisikan obat.

__ADS_1


Dea mengobati lukanya sendiri. Dengan sedikit meringis Dea menahan rasa sakitnya.


Rayan rebut dan mengambil alih untuk mengobati luka Dea.


"Sini aku bantu, kamu kaya gini juga karena aku."


Dea hanya termangu melihat Rayan mengobati lukanya.


"Tahan dikit ini mungkin akan sakit," ujar Rayan menekan bagian pipi yang bengkak.


Dea menatap Rayan yang begitu telaten ngobati luka nya.


"Apa kamu seperti ini memperlakukan istrimu itu Ray?"


ucap Dea dalam hati nya. Ia tidak berani untuk berkata jujur, jika Rayan memang lebih perhatian dan lembut kepada Violetta maka dari itu Dea merasa iri jika Dea harus mendapatkan perhatian dari Rayan.


"Sudah selesai," kata Rayan.


Ia meletakkan sisa obat tadi ke dalam box obat yang ada di mobil.


"Kau belum makan kan tadi?" Rayan menoleh ke samping melihat Dea yang menggelengkan kepalanya.


"Kau ingin makan dimana?"


"Terserah," kata Dea mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca mobil.


"Baiklah, sebagai tanda permintaan maaf ku kepadamu akan ku buatkan yang spesial buat kamu," ucap Rayan menoleh sebentar dan kembali lagi pandangan nya ke depan.


Rayan mengajak Dea pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan yang akan Rayan masak dan sekalian untuk mengisi isi dapur nya.


Dea menatap Rayan dengan tatapan aneh karena mengajak Dea ke supermarket.


"Ray, bukan nya kita akan makan? Kenapa ke sini?"


"Di apartemen tidak ada bahan makanan apapun so sekalian ngisi dapur," kata Rayan jujur.


Dea hanya beroria menjawab pertanyaan Rayan.


Setelah membeli bahan makanan yang di inginkan mereka berdua langsung menuju apartemen Rayan.


Dea terpesona dengan apartemen Rayan yang menurut Dea begitu elegan meski minimalis tapi penataan nya begitu apik di pandang.


Dea tidak luput pandangan ke seluruh sudut apartemen Rayan.


Rayan hanya tersenyum melihat tingkah Dea.


"Duduklah biar aku masakan sesuatu untuk mu."


"Apa kau yakin bisa masak dan tidak membutuhkan bantuan ku Ray?"


"Kalau aku butuh bantuan mu akan ku panggil nanti."


"Baiklah," kata Dea yang memilih duduk di sofa depan televisi.

__ADS_1


"Ray, apa kau jadi bercerai dengan Violetta?" Ucap Dea dengan suara yang sedikit keras.


Rayan menghela napas kasar. Rayan tidak ingin membahas tentang perpisahan dirinya dengan Violetta tapi Dea malah mengungkitnya.


"Iya, semua sudah di urus oleh pengacara Andrian," jawab Rayan pasrah.


Dea tersenyum puas karena Rayan akan benar-benar menjadi milik seutuhnya. ini lah impian Dea yang akan terwujud memiliki Rayan.


____________________&&&_______________________


"Pih, kenapa kita kerumah sakit?" tanya Mami Vania kepada suaminya.


Sepasang suami istri yang baru saja tiba di Bandara dan langsung di jemput sopir pribadinya.


"Vio masuk kerumah sakit lagi mih," keluh Papi Ramon Sanchez.


Mami Vania menutup mulutnya tidak percaya. Kabar terbaru yang mami Vania dengar,jika putrinya dengan kondisi stabil maka dari itu operasi nya akan dilakukan minggu depan.


Namun, tidak sesuai dengan yang di pikirkan.


"Astaga pih, ada apa lagi kenapa putri kita?apa ada yang membuat Violetta stres pih?"


Ramon menghela napas dalam-dalam. "Papi memaksa vio buat bercerai dengan crayon mih," Ramon menundukkan kepalanya. Ia juga andil kenapa Violetta masuk kerumah sakit salah satu faktor Violetta masuk kerumah sakit.


"Astaga pih, Kenapa papi tidak bercerita ..." Mami Vania memukul bahu suaminya.


"Maafkan papi,"


"Tapi ini demi kebahagiaan putri kita mih, karena Rayan membawa wanita ****** itu kerumah dan ..." Ramon menjedah perkataan.


"Berani mengusir putri kita dari rumah itu."


Ramon melanjutkan ceritanya bagaimana saat Dea ingin mengusir Violetta. Beruntung Ramon datang tepat waktu. Bagaimana jika tidak ada Ramon saat itu, meski ada Barack tapi Barack tidak ada di dekat adiknya.


Dan juga menceritakan ketika Violetta bertemu Rayan dan pengacara Adrian. hingga Ken dan Barack putranya membawa Violetta kerumah sakit.


Vania menangis sejadi-jadinya saat mendengar cerita dari suaminya.


"Papi tidak bersalah, papi sudah benar, bagaimana nanti jika saat itu tidak ada papi," kata Vania sambil menangis.


"Oh my ... Apa salah putri kita pih hingga masalah selalu datang."


Ramon menghapus air mata istrinya. Dan menatap wajah istrinya.


"Semesta sedang menguji keluarga kita mih, Papi yakin jika vio wanita yang kuat."


"Iya Pih, mami tahu.jika putri kita wanita yang kuat."


Ramon menarik Vania ke dalam pelukannya. Dan menyenderkan kepala istrinya di bahunya.


Tidak terasa mobil yang membawa Ramon dan Vania tiba di lobby rumah sakit.


"Tuan, kita sudah sampai," sahut sopir pribadi. Ramon dan Vania terkejut saat dirinya sudah sampai.

__ADS_1


__ADS_2