
29. Valerry Yang Menyebalkan
"Ya, sudah kau mau apa kesini?" tanya Ken kepada asisten nya Dave.
Dave lupa akan tujuan nya datang menemui Ken saat melihat Ken yang datang ke kantor tidak pulang ke mansion nya.
Dave menepuk keningnya. Lalu Dave menyodorkan map berwarna biru di atas meja kerja Ken.
"Ada beberapa berkas dan laporan yang anda butuhkan kemarin dan juga beberapa tanda tangan anda."
Ken mengangguk dan mengambil pena miliknya. Sebelum membubuhi tanda tangan Ken membaca dengan teliti terlebih dahulu agar tidak ada kecurangan yang merugikan perusahaan nya.setelah Ken selesai membaca dan menyetujui laporan yang ia minta Ken memberikan coretan dengan tinta berwarna hitam pada kertas yang harus Ken tanda tangan.
Setelah selesai Dave berpamitan undur diri untuk meninggalkan ruangan Ken. Namun, sebelum Dave keluar Ken bersuara.
"Aku minta anak buah mu untuk tetap stay di dekat violetta, aku tidak mau terjadi sesuatu kepadanya. Jika perlu kirim asisten pribadi yang khusus untuk merawatnya!"
"Tapi, bukan nya nona vio sudah ada ..."
"Kerjakan apa yang aku suruh,dan cepat pergi dari ruangan ku!" sentak Kendra.
"Baik Tuan," ujar Dave seraya menundukkan kepalanya sebagai tanda ia undur diri.
Ken menghela napas dalam-dalam. Lalu ia mengambil bingkai foto yang ada di dalam laci meja kerja. Ken menatap foto tersebut dengan tersenyum.
"Kau anggap aku hanya sebagai sahabatmu, aku tidak apa-apa, setidaknya aku masih bisa melihatmu, aku masih bisa mencintai sesuka hati ku dalam diam."
"Aku sadar, aku telah sejatuh- jatuhnya pada pesona mu kau begitu telah memikat hati ku vio."
"Semoga saja semesta menyatukan kita suatu saat nantinya vio, aku hanya berharap dan meminta hanya kau yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak." imbuh Kendra.
Ken kembali menyimpan bingkai foto Violeta ke dalam laci mejanya. Lalu ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda beberapa hari selama dirinya bersama Violetta di Singapura.
🍃🍃🍃
Malam harinya di kediaman Violetta pukul delapan malam mereka berada di ruang makan untuk makan malam bersama kecuali Violetta yang masih di dalam kamar.
Barack yang masih di rumah Violetta ia ikut makan malam bersama. Barack malas jika satu meja dengan Rayan dan Dea.
"Hem."
Barack berdehem saat Rayan hendak ingin mencium bibir Dea.
"Bisa kalian jaga sikap di depan Vallery, karena dia belum tahu hubungan kalian!" pinta Barack saat melihat Vallery yang baru saja keluar dari kamar menuju ruang makan.
Barack bisa saja mengusir Rayan atau Dea dari rumah. Namun, Barack masih punya hati nurani. Bagaimana nanti Vallery tahu.
Vallery mengerutkan keningnya saat melihat orang asing di rumah nya. Vallery mematung saat sudah berada di ruang makan.
__ADS_1
"Tante siapa?apa Tante pacarnya uncle Bara?"
Dea melirik ke arah Rayan untuk memberikan jawaban apa yang pantas untuk Vallery ketahui.
Rayan tersenyum ke arah Vallery."sini sayang!" Rayan menyuruh Vallery untuk mendekat.
Vallery melangkah ke arah Rayan dan berdiri di samping Rayan yang tengah duduk di kursi meja makan.
Barack menatap Rayan agar tidak macam-macam kepada keponakannya itu.
Rayan mengelus rambut panjang putrinya. Lalu memperkenalkan Dea kepada nya.
"Kenalin sayang, dia Tante Dea teman Dady di kantor." Rayan memperkenalkan Dea pada Vallery sedangkan Dea tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Vallery.
Namun Vallery hanya diam saja saat Dea mengulurkan tangannya untuk menyambut tangannya. "Hay cantik, perkenalkan Tante ..."
"Sudah tahu, tadi Dady sudah kasih tau."
Barack yang mendengar dan melihat Valerry yang nggan untuk berjabat tangan dengan Dea hanya bisa tersenyum mengejek.
Pinternya ponakan Uncel.dia yang sudah merusak kebahagiaan mommy mu sayang.
Batin Barack.
"Sayang tidak boleh seperti itu, tidak sopan." Rayan menegur Vallery untuk bersikap sopan.
Barack tidak tahan untuk tidak tertawa melihat kepolosan ponakan nya karena menyebalkan terhadap teman Rayan.
Dea merasa marah, ia mengepalkan tangannya untuk meredam emosinya. Karena di perlakukan oleh anak kecil dan juga di tertawa kan oleh Barack.
"Kalau tidak cinta Dady nya mana mau,aku kenalan sama tuh bocil,dasar menyebalkan."
Batin Dea.
Dea pura-pura tersenyum manis. "Tidak apa-apa Ray, namanya juga anak-anak."
"Tapi Dea ..."
"Sudah Ray, aku tidak apa-apa ko," kata Dea dengan senyum terpaksa.
"Val sini," panggil Barack untuk duduk di samping nya dan ikut makan bersama.
Vallery mengikuti arahan Barack dan ikut duduk di sampingnya.
Barack mengelus rambut panjang Vallery.
"Anak pinter," gumam Barack.
__ADS_1
Setelah semua orang duduk di kursi makan masing-masing, Rayan hendak mengambil makanan yang akan ia makan namun di cegah oleh Dea.
"Biar aku saja yang ambilkan Ray!"
"Terimakasih Dea."
"No Dady, biasanya kan yang ngambilin itu mommy bukan Tante Dea."protes Vallery.
"Tapi sayang, disini adanya Tante Dea gimana coba?" ujar Rayan.
Valerry menunjuk ke arah dimana ada Violetta."Tuh Mommy sama Bi Lastri."
Semua orang menoleh ke arah dimana Bi Lastri mendorong kursi roda Violetta menuju Ruang makan.
Barack dan Rayan berdiri saat Violetta sudah dekat. Barack lebih cepat menghampiri Violetta dan mengambil alih untuk mengantar adiknya ikut bergabung dengan yang lain.
"Baby, kenapa kau kemari, bukannya kakak sudah katakan jika nanti kakak akan mengantarkan makan malam mu ke kamar."
"Vio bosen kak di kamar terus," jawab Violetta.
"Tapi, Vio apa kau yakin akan baik-baik saja di depan mereka."
Violetta tersenyum. "Kak Bara tenang saja, Vio akan baik-baik saja bersama mereka."
"Baiklah,"
"Tante minggir jangan di situ, itu kan tempat duduk Mommy Val."
Lagi-lagi Vallery membuat Dea merasa tidak di inginkan keberadaan nya.
"Tidak apa-apa Val, Mommy bisa duduk dimana saja, lagian meja makan ini kan luas." sahut Violetta.
"Astaga, Ibu Vio hatimu terbuat dari apa, kau begitu tegar dan tabah saat di sakiti."
Batin Bi Lastri melihat ketulusan Violetta.
Dea tersenyum kemenangan karena Ia masih bisa di dekat Rayan.
Violetta mencoba untuk tetap bertahan dan tetap tegar di posisi apapun ia akan menjadi wanita yang kuat dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun termasuk Dea.
Meski hatinya sakit dan hancur Violetta tetap tenang.sedangkan Barack tidak tega melihat adiknya menderita karena sahabat itu.
Barack ingin menegur kelakuan Rayan yang begitu mesra di depan Violetta dan Valerry namun di cegah oleh Violetta.
Violetta mengelengkan kepalanya sebagai isyarat jangan.
Setelah selesai makan malam, Valerry ijin meninggalkan ruangan makan terlebih dulu karena beberapa hari ia tidak masuk sekolah. Ia harus pergi tidur lebih cepat agar besok tidak kesiangan.
__ADS_1