
23. Bukan Perusak Rumah Tangga Orang
Violetta membuka matanya saat Kendra meninggalkan kamar rawat Violetta setelah dibujuk untuk pulang oleh kedua orang tuanya.
Violetta terdiam menatap langit langit atap rumah sakit.
Mami Vania melihat putrinya membuka matanya dan mendekati Violetta.
"Sayang, kau sudah bangun? Bagaimana apa ada yang sakit?"
Violetta menoleh ke arah mami Vania dan menggelengkan kepalanya.
"Mih!" panggil Violetta lirih.
"Iya, sayang apa kau ingin sesuatu atau kau_" ucapan mami Vania terpotong.
"Mih, Violetta meminta maaf," kata Violetta cepat.
Mendengar putrinya meminta maaf membuat wanita paruh baya ini mengerutkan keningnya.
"Untuk?"
"Rayan mih, ternyata rayan tidak pernah berubah," ucap Violetta dengan menitihkan air matanya.
"Sayang."
"Rayan sudah menghianati Violetta mih!" Violetta menangis dengan tersenduh-senduh.
Mami Vania hanya bisa menghela napas kasar. Ini yang di takut kan semua orang jika Violetta mengetahui tentang Rayan. Hati Violetta akan hancur. Namun nasi sudah menjadi bubur jika Violetta sudah mengetahuinya dengan cepat.namun dari mana Violetta tahu akan perselingkuhan Rayan.
"Dari dulu mami sudah memaafkan Vio, namun untuk saat ini lebih baik Vio tidak perlu memikirkan hal lain."
Mami Vania memberikan pelukan hangat seorang ibu untuk anaknya. "Fokus lah kesehatan mu terlebih dulu sayang," bisik Mami Vania seraya mengelus punggung putrinya.
Mereka mengurai pelukannya. Mami Vania menghapus air mata putrinya.
"Sudah jangan menangis lagi, air mata princess mami ini sangat berharga. So, buat apa menangis buat yang tidak berharga," ucap mami Vania.
Membuat Violetta tertawa kecil mendengar panggilan masa kecil Violetta.
"Mih, Vio sudah besar bahkan sudah menjadi seorang ibu, kenapa mami masih saja manggil Vio dengan princess," protes Violetta dengan memanyunkan bibirnya ke depan.
Ha...ha...ha...
Mami Vania tertawa renyah mendengar putrinya protes.
"Seorang ibu itu gelar kamu buat vallery sayang, bagi mami dan papi kamu itu princess nya kita?" Mami Vania melirik ke papi Ramon yang ada di samping nya.
"Mami kamu benar sayang."
Violetta menghela napas dalam-dalam.
"Mih, pih ... Kapan Vio bisa keluar dari kamar ini."
Violetta menatap kedua orang tuanya bergantian.
__ADS_1
Ramon tersenyum, "Sayang, tunggu kondisi kamu membaik,ok."
🍃🍃🍃
Jarang sekali Kendra bisa berkumpul bersama dengan kedua orang tuanya. Mengingat Kendra tidak tinggal bersama keluarganya selama ini. Ken memilih untuk membangun perusahaan sendiri di tanah air, Dan sekarang Kendra sedang bersama kedua orang tuanya saat ini.
"Ken, kapan kamu akan memberikan seorang cucu seperti Vallery untuk kita?" ucap mommy Cassandra
Ken yang baru saja menyelesaikan makan malam nya. Ken menghela napas kasar, ini yang Ken tidak di sukai jika sedang bersama kedua orang tuanya.
"Secepatnya," jawab Ken singkat.
"Apa kau sudah menemukan pengganti Violetta?" tanya Dady Daniel.
Kendra menggelengkan kepalanya. Sedangkan kedua orang tuanya saling melirik.
"Lalu," ucap kedua orang tua Ken bersamaan.
Ken mengambil selembar tissue untuk menggelap sisa makanan yang ada di sudut bibirnya setelah selesai makan. "Mom, berdoa saja semoga Ken berjodoh dengan Violetta."
Mommy Casandra hanya bisa tersenyum.
"Mommy dari dulu berharap seperti itu Ken, tapi, Vio masih istri orang Ken. jangan buat ulah sebagai cap seorang pembinor Ken," ucap momy Casandra.
"Astaga mom, kenapa mommy bisa bicara seperti itu, Ken bukan seorang perusak rumah tangga orang. meski vio wanita yang Ken cintai." protes Kendra.
"Mommy mu benar boy, selama ini kita tidak pernah melihat dan mendengar kamu menggandeng wanita manapun. sedangkan kamu masih setia menunggu Violetta," ucap Daniel.
"Apa perlu mommy umumkan jika putra tunggal dari keluarga Walker sedang mencari pendamping untuk mu Ken."
"No, mom!"
Casandra berteriak, "Tapi, Ken. ingat kamu jangan menjadi seorang pembinor Mommy tidak setuju itu."
Sedangkan Kendra hanya mengacungkan jari jempolnya saja.
"Anak itu mau sampai kapan menunggu violetta," ujar Dady Daniel.
Casandra mengangkat kedua bahunya. "Ntah lah Dad, putra mu susah sekali di bujuk, seperti Dady nya," ucap Casandra dengan melirik ke arah suaminya yang tengah melihat I padnya.
Kedua orang tua Ken tidak mempermasalahkan status Violetta jika suatu saat Violetta berpisah dengan Rayan.
Rayan baru saja tiba di tanah air. Rayan memilih untuk pulang kerumahnya yang ia tempati bersama Violetta dan juga Vallery putri semata wayangnya. Sedangkan Dea ikut pulang kerumah Violetta dan Rayan.
Dea menatap takjub interior rumah Rayan yang begitu megah dan mewah. Dea memilih untuk duduk di kursi setelah Rayan mempersilahkan untuk duduk.
Sedangkan Rayan memanggil Bi Lastri untuk membuat minuman untuk Dea.
Namun, saat melihat Bi Lastri keluar dari Kamar Rayan dan Violetta dengan membawa Koper.
"Bi, mau di apakan koper itu?" tanya Rayan.
"Maaf, Pak. Ini perintah Pak Barack untuk mengantar baju Ibu kerumah utama."
"Apa," pekik Rayan.
__ADS_1
Rayan merasa terkejut, mungkin ini ada kaitannya dengan masalahnya dengan dirinya berselingkuh dengan Dea. Namun, Rayan tidak mempermasalahkan jika Violetta ingin tinggal di rumah utama.
"Permisi pak, sopir dari rumah utama sudah datang untuk mengambil koper ibu."
"Bi, tolong buatkan minum untuk teman aku," kata Rayan sebelum Bi Lastri menjauh.
Sedangkan Bi Lastri hanya mengangguk kepalanya saja. Saat melewati Dea Bi lastri hanya menatapnya dengan jengah.
Setelah beberapa saat kemudian Bi Lastri membuatkan minuman untuk Dea.
"Permisi, ini minuman pesanan pak Rayan."
Dea tersenyum manis kepada Bi Lastri. "Terimakasih Bi, owh ya Bi_"
"Bi, tolong siapkan kamar dia di kamar tamu." ucap Rayan yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Tapi, pak_"
"Bi, cepat lakukan perintah ku sekarang!" seru Rayan.
"Ba-baik pak, saya akan segera siapkan untuk teman bapak."
Dea tersenyum puas, karena Rayan mengijinkan Dea untuk tinggal di rumah nya.
"Apa dia yang dimaksud tuan barack?"
Batin Bi Lastri.
Bi Lastri akhirnya menuruti perintah Rayan untuk Dea.
Setelah Bi Lastri pergi. Dea bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Rayan.
"Terimakasih kau akhirnya membolehkan ku tinggal disini selama istrimu tidak ada," bisik Dea.
"Jika tidak ada kamu, siapa yang akan merawat aku," kata Rayan.
"Tapi, kau kan bisa tinggal di rumah aku Ray, bagaimana jika asisten rumah tangga kamu yang tadi melapor ke istri kamu?"
"Tidak, itu tidak akan mungkin." jawab Rayan.
"Maaf, aku cuma bisa menempatkan mu di kamar tamu," imbuh Rayan. Seraya mengelus pipi Dea dengan lembut.
"I'ts ok," jawab Dea.
Untuk saat ini aku tidak keberatan Ray, tapi, suatu saat nanti kau akan menyuruh ku untuk tidur di kamar utama.
Batin Dea.
"Aku menginginkan mu baby," ucap Rayan kepada Dea.
"Dengan senang hati, aku akan melayani mu seperti biasa."
"Terimakasih, kau selalu bisa membuat ku luluh di pelukan mu sayang,"
Cup.
__ADS_1
Rayan mencium bibir Dea bahkan masih di ruang yang masih sama. Ciuman mereka semakin dalam membuat mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang merekam kegiatan panas mereka.
"Astaga, kasian ibu vio, jika pak Rayan dengan teganya membawa wanita lain kerumahnya dan berbuat tidak sepantasnya."