
Operasi Yang Kedua kalinya.
Rayan benar-benar marah ketika tidak berhasil mencium bibir mantan istrinya. Ia malah di buat babak belur oleh Emma.
"Sial"
"Sial" ucap Rayan dengan kata yang sama.
Rayan tidak hentinya mengumpat dengan memukul setir mobil.
"Gila tuh cewek, aku kira hanya asisten biasa ternyata barbar juga." gumam Rayan saat melihat dirinya di depan cermin mobil. Melihat wajahnya yang memar berwarna biru dan sudut bibirnya sedikit robek akibat pukulan Emma.
Drztttt... Drztttt....
Dering handphone Rayan berdering. Rayan yang merasa amarah nya belum reda melihat siapa yang sudah berani menghubunginya Rayan.
"Dea,?"
Rayan merejek panggilan masuk dari Dea. Namun Dea tetap menghubungi Rayan meski Rayan mengabaikan nya.
Rayan memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit dan menuju apartemen nya. Tidak butuh lama Rayan sampai di kediaman nya.
Clik
Rayan membuka pintu apartemen nya dan melihat Dea berdiri di depan pintu dengan melipat kan kedua tangannya nya di depan dada.
"Ray, kenapa kamu_" ucapan Dea terhenti saat melihat wajah Rayan yang penuh dengan luka.
Namun Rayan tidak mempedulikan Dea yang ada di depan nya. Rayan berjalan melewati Dea begitu saja.
"Ray, tunggu dulu, wajah kamu kenapa?" kata Dea.
Dea membalikkan badan nya dan mengikuti Rayan di belakang nya.
"Bukan urusan kamu," sentak Rayan.
"Tapi, Ray jika kamu tidak mau cerita setidaknya aku bisa bantu mengobati luka kamu?" tanya Dea yang masih mengikuti Rayan yang tengah mengambil air es di dalam lemari pendingin.
Rayan kini duduk di meja pantry tengah mengompres luka yang ada di wajahnya dengan air es yang tadi ia ambil. Dea yang melihat hanya bergedik linu melihat nya.
__ADS_1
Rayan yang hendak berdiri mengambil obat namun Dea mencegahnya. "Tetap lah duduk disini biar aku saja yang ambil obat untuk mu!"
Rayan kembali duduk saat di perintah oleh Dea untuk tetap diam.
Dea mengambil obat di tempat penyimpanan obat. Lalu Dea kembali lagi ke pantry saat sudah mengambil obat yang ia butuhkan.
Dea ikut duduk di depan Rayan.
"Tahan, mungkin bini sedikit akan sakit dan perih,"
"Awwkk" lirih Rayan kesakitan saat Dea mengobati lukanya.
"Maaf, sebentar lagi akan selesai." kata Dea.
"Kenapa kamu sampai seperti ini?"
Rayan hanya diam dia tidak mungkin bercerita kepadanya tentang Rayan datang kerumah sakit menemui mantan istrinya hanya untuk menghapus jejak ciuman Ken yang ada di bibir Violetta.
"Apa kamu bertemu mereka lagi?" tambah Dea.
Brakk
Rayan menggebrak meja membuat Dea berlonjak kaget.
Dea hanya bisa diam dan menatap punggung Rayan yang pergi meninggalkan nya di pantry setelah membantu mengobatinya.
"Ray, kenapa kamu sekarang berubah jadi kasar," gumam Dea.
🍃🍃🍃
Kedua orang tua Kendra datang saat mengetahui hati ini Violetta akan di operasi.
Kini Casandra tengah bersama Vania. Sedangkan Ramon dan Daniel tengah berbincang mungkin masalah bisnis yang mereka bincangkan.
Barack tengah menemani keponakan nya vallery.
"Sandra, terimakasih kau sudah datang dari jauh untuk violetta," ucap mami Vania kepada mommy Casandra.
Kedua orang tua Ken tengah melakukan perjalanan bisnis ke Brazil. Setelah tahu jadwal Violetta untuk operasi kedua orang tua Ken kembali ke tanah air untuk menemani Violetta.
Casandra hanya tersenyum. "Kamu tahu Van, jika vio sudah ku anggap putriku sendiri, mana mungkin aku tega tidak datang menemani putri ku yang tengah berjuang di meja operasi sendirian. andai aku bisa masuk ke dalam mungkin vio tidak akan sendirian dan merasa ketakutan."
Mami Vania begitu terharu mendengar nya. Ternyata ada yang begitu peduli dan sayang kepada putrinya sendiri. Hingga mami Vania menitihkan air matanya karena terharu.
__ADS_1
Kedua keluarga kini tengah menunggu jalan nya operasi meski pun operasinya harus menunggu hingga lima jam lamanya. Mereka rela meninggalkan pekerjaan yang begitu banyak dan mungkin akan kehilangan ratusan bahkan puluhan juta untuk perusahaan hanya untuk Violetta.
Semua itu tidak ada apa-apanya jika mereka harus merugi nantinya. Yang terpenting bagi mereka kesehatan dan support mental Violetta jauh lebih berharga dari apapun.
Prosedur transplantasi sumsum tulang mirip dengan transfusi darah. Dimana Sel punca akan masuk ke sumsum tulang dengan sendirinya. Sumsum tulang sehat akan memproduksi sel darah sehat dalam beberapa hari hingga beberapa minggu kemudian.
"Iya kau benar San, putriku di dalam sedang ketakutan karena harus berjuang sendirian apa lagi sedang kesakitan karena harus kembali di sayat oleh pisau bedah," kata Mami Vania dengan menitihkan air matanya.
Mami Vania mengingat kembali jika Violetta sudah sejauh ini Violetta bisa bertahan melawan penyakitnya. Dari mulai kemoterapi hingga radiasi Violetta lakukan bahkan ini adalah operasi yang kedua bagi Violetta saat harus mengangkat salah satu payudara nya. Mami Vania sangat berharga operasi kali ini adalah operasi yang terakhir kalinya agar putrinya bisa sembuh dari penyakitnya.
Meski mami Vania sedih tapi tidak pernah ia tampakkan di depan putrinya. Karena ia tahu putrinya butuh sport untuk sembuh.
Ken meminta Emma untuk ikut dengan dirinya.
"Emma ikutlah dengan ku!"
"Baik Tuan Ken,"
Emma mengikuti perintah Atasan nya.
"Duduk!" Ken melihat Emma hanya berdiri saja di depan nya.
Emma akhirnya ikut duduk. Kini mereka brada di cafe sebrang rumah sakit.
Emma tahu Ken pasti akan menayangkan perihal yang di alami Violetta hingga ia mengajak Emma.
Emma menghela napas dalam-dalam. "Tuan, nona vio bertemu mantan Suaminya."
Deg
Ken sudah menduganya jika tengah terjadi sesuatu.
"Maafkan Emma Tuan, ini murni kesalahan Emma yang tidak bisa menjaga nona dengan benar."
Emma menceritakan tentang bagaimana Rayan begitu kasar kepada Violetta hingga membuat Ken murka.
"Sial," umpat Ken.
Emma melihat jika Ken seperti nya marah besar hingga ia takut jika Ken akan memarahi Violetta usai sadar dari operasi nya.
"Emma mohon Tuan, jangan bilang ke nona vio!" Emma memohon agar Ken tidak memarahi Violetta saat Violetta sudah selesai operasi nanti.
Ken menghela napas panjang. "Emma mana mungkin aku tega marah kepada vio, aku minta perketat lagi penjagaan jangan sampai kejadian seperti itu lagi terulang."
__ADS_1
"Baik Tuan Ken."