Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
17. Kedatangan Rayan


__ADS_3

17. Kedatangan Rayan.


Maaf iya jika beberapa hari ini tidak update. karena Author lagi sibuk di dunia nyata. 🙏🙏.


"Tuan, anda ada dirumah?" tanya Bi Lastri karena sudah dua hari baru melihat majikannya. Bi Lastri mengira jika, Rayan menyusul Violetta ke Singapura.


"Iya, Bi Lastri, saya harus segera pergi," jawab Rayan yang tergesa-gesa menarik kopernya.


Namun, Bi Lastri menahan nya kembali.


"Tapi, Tuan anda baru saja pulang, apa tidak sebaiknya istirahat dulu, atau mau Bibi buatkan sesuatu."


Rayan menghentikan langkahnya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Rayan sudah memesan tiket pesawat via online dan masih ada waktu satu setengah jam dari sekarang.


Rayan berpikir jika ia menunggu di bandara mungkin akan menunggu lama dan membuat nya bosan.


Tanpa menoleh ke belakang Rayan bersuara. "Baiklah Bi, buatkan aku kopi saja," pinta Rayan kepada Bi Lastri asisten rumah tangga nya.


"Baik, tuan."


Bi Lastri pamit untuk membuat kan kopi permintaan Rayan.


Tidak butuh lama kopi pesanan Rayan sudah di datang.


"Tuan, ini kopi nya."


"Iya Bi,Terimakasih."


"Apa ada yang di butuhkan lagi," tanya Bi Lastri melihat ke arah Rayan. Ia hanya menggelengkan kepalanya saja jika tidak ada yang Rayan butuhkan lagi.. " Kalau tidak ada yang di butuhkan lagi bibi kebelakang dulu." Pamit Bi Lastri.


"Tunggu bi," cegah Rayan.


Bi Lastri yang sudah membalikkan badannya seketika berhenti dan membalikkan badannya kembali.


"Iya, tuan," ucap Bi Lastri.


"Hmm..." Rayan berpikir sejenak ia masih ragu untuk bertanya kepada asisten rumah tangganya.


"Apa Violetta menghubungi Bibi?" ucap Rayan.


"Tidak tuan."


"Ya sudah Bi, terimakasih."


"Iya, tuan."


Setelah menghabiskan kopi nya Rayan langsung bergegas menuju bandara. Rayan menarik kopernya dan meletakkan di bagasi mobil. Setelah itu Rayan melangkah menuju sisi pintu mobil dan masuk kedalam dan duduk di depan kemudi mobil.


Rayan lebih suka mengendarai mobil nya sendiri, meski dirumahnya ada sopir pribadi. tapi, hanya untuk mengantar jemput putri nya Vallery dan juga Violetta.


Setelah menjalankan mobilnya. Rayan menyalahkan musik di dalam mobil selama menuju bandara untuk menemani perjalanan nya.

__ADS_1


Saat di depan lampu merah. Ada seseorang yang melihat mobil Rayan. Ia mengerutkan keningnya karena melihat Rayan yang akan ke arah bandara.


"Rayan," gumam nya.


"Mau kemana dia. Bukan nya dia tidak ada jadwal meeting di luar."


Setelah lampu berganti warna hijau. Rayan segera menancapkan pedal gas menuju bandara. Dan Rayan tidak mengetahui jika mobilnya di ikuti seseorang. Hingga Rayan sampai di bandara.


"Bandara mau ngapain dia."


Batin nya menatap mobil Rayan yang masuk ke area bandara. Karena masih penasaran ia tetap mengikuti mobil Rayan.


Melihat dari kejauhan dan terkejut saat melihat Rayan membuka bagasi mobil dan mengambil koper nya. Dan masuk ke dalam.


Seseorang keluar dari dalam mobil dan masih mengikuti Rayan. Ia tersenyum sinis setelah tahu tujuan Rayan pergi kemana. Karena saat itu juga pengumuman untuk penerbangan ke negara the lion city.


"Aku harap kamu pergi ke Singapura untuk menyerahkan surat perceraian mu dengan nya Ray," gumam Dea. Wanita itu adalah Dea yang mengikuti Rayan sejak tadi. Ia menatap kepergian Rayan.


Sebelum Rayan masuk ke bagian check in sebelum masuk ke pesawat. Dea menghubungi Rayan.


Dengan segera Rayan menganggat telepon dari kekasihnya itu.


"Hallo," ucap Rayan yang langsung di potong oleh Dea.


"Kamu lagi dimana Ray?" tanya Dea. Karena wanita itu ingin tahu kejujuran Rayan.


"Aku ada di bandara, aku akan ke Singapura, Vio masuk kerumah sakit," ujar Rayan.


Batin Dea.


Tebakan Dea salah jika Rayan ke Singapura untuk mengurus perceraian nya. Dea sedikit murka maka ia ingin ikut Rayan agar Rayan tidak ada waktu untuk Violetta.


"Apa kamu tidak mau mengajak ku Ray?," tanya Dea.


"Berbalik badan, aku ada di belakang mu sekarang," imbuh Dea.


Rayan merasa terkejut apa yang Dea katakan. Saat ia membalikkan badannya. Dea tersenyum saat melihat Rayan membalikkan badannya.


Rayan menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa Dea, bagaimana nanti semua orang tahu kamu kekasihku jika kamu ikut?" tanya Rayan ia merasa khawatir. Karena Rayan belum siap untuk menghadapi kemarahan keluarga Violetta.


Dea hanya bisa diam, dengan mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya agar tidak meledak.


"Maafkan aku, bukan nya aku tidak boleh, tapi, tolong kamu ngertiin aku," Lanjut Rayan.


"Baik, jika tidak boleh, aku akan menghubungi Barack, jika kamu telah berkhianat terhadap adiknya," ujar Dea dengan senyum licik


Jedueerrr


Bagaimana bisa Rayan tidak berpikir jika Dea bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya.


"Sial," umpat Rayan dalam hatinya.

__ADS_1


🍃🍃🍃


"Tante, om dan Barack lebih baik kalian istirahat biar Violetta Ken yang menjaganya," ucap Ken kepada keluarga Sanchez.


Ken menatap Vallery yang sudah terlelap di pangkuan Barack.


"Tidak Ken, kami saja yang menjaga Vio," ujar Ramon menolak tawaran Kendra.


"Tapi Om, pasti kalian capek apa lagi tadi habis merayakan anniversary kalian berdua. Dan lihat Vallery. Kalian bisa datang berkunjung lagi besok pagi." Ken menatap Vallery yang sudah tertidur.


"Biar aku temani kamu Ken. Mami sama Papi pulang saja," sahut Barack.


Perkataan Ken ada benarnya juga. Jika kedua suami istri ini jatuh sakit bagaimana nanti yang menjaga dan merawat Violetta.


"Baiklah Bara, Papi sama Mami pulang dulu, sini Val Bar, biar papi bawa pulang kasian dia."


Barack memberikan Vallery yang tengah tertidur kepada kedua orang tuanya.


"Biar Bara antar kalian."


Namun saat akan keluar dari rumah sakit ia berpapasan dengan orang yang sudah membuat putrinya menderita. Meski ia suami putrinya.


"Rayan," gumam Barack dari kejauhan.


Mendengar suara yang cukup familiari di telinga. Mereka menatap ke depan dan bisa melihat Rayan ada di depan nya.


"Mau apa kau kesini," tanya Vania dingin.


"Aku datang untuk menjenguk istri ku mih," seru Rayan santai.


"Dia datang karena Barack mih. Bara sudah menghubungi nya tadi siang," sahut Barack dari arah belakang suami istri yang sedang menggendong Vallery.


Kedua sepasang suami istri itu menghela napas berat. "Baiklah Bara, papi pulang dulu, jaga adikmu," ucap Ramon seraya melirik ke arah Rayan.


"Iya, pih."


Barack mempersilahkan Rayan untuk masuk kedalam kamar rawat inap Violetta.


Mendengar pintu kamar di buka Ken menoleh dan melihat siapa yang datang untuk menjenguk.


Ken menahan amarahnya ketika melihat Rayan menyakiti wanita yang ia cintai. Ken tidak boleh melarangnya Rayan untuk bertemu Violetta karena masih suami istri.


Ken memilih untuk pergi mencari cemilan. Karena Ken tidak mau melihat Rayan.


Rayan duduk di kursi yang tadi di duduki Ken. Ia menggenggam tangan Violetta.


"Bangunlah Vio aku disini." ucap Rayan sendu.


"Dia masih pengaruh obat Ray. Biarkan Vio istirahat! " pinta Barack kepada Rayan sahabat sekaligus adik iparnya.


Rayan hanya bisa pasrah.

__ADS_1


__ADS_2