Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
22. Pengakuan Kendra.


__ADS_3

22. Pengakuan Kendra.


Rayan dan Dea baru saja keluar dari unit gawat darurat atau biasa di singkat UGD. Dea membantu Rayan untuk berjalan dengan dipapah olehnya. Karena hanya mengalami luka ringan Rayan di ijinkan untuk pulang. Namun, sepasang kekasih ini tidak tahu jika Violetta masuk UGD juga. Mereka berpikir ketika Ken menggendong Violetta untuk di bawa kembali ke dalam ruangan nya.


Deg


Rayan menghentikan langkahnya saat melihat keluarga Sanchez dan Walker sedang berkumpul di depan pintu UGD.


"Ada apa Ray, kenapa berhenti?" tanya Dea kepada Rayan yang tiba-tiba berhenti begitu saja.


"Ternyata violetta juga ada di UGD ..."


Dea mengikuti arah pandang Rayan dimana banyak ada keluarga Sanchez dan Walker.


Rayan tidak mau mereka melihat dirinya yang sedang bersama Dea. Apa lagi kondisi Violetta yang kembali kritis karenanya.


"Lebih baik kita jangan lewat sini!"


"Why?" Dea menatap Rayan.


"Apa karena mereka?" sambung Dea.


Sedangkan Rayan hanya mengangguk.


"Baiklah, ayo kita lewat jalan lain saja."


Rayan dan Dea hendak membalikkan badannya untuk lewat jalan lain agar tidak bertemu keluarga istrinya. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Rayan.


"Dady!"


"Ada apa Val, kau melihat siapa?" tanya Barack.


"Uncle bukankah itu Dady?" Vallery menunjukkan tangan nya ke arah dimana Rayan dan Dea berada.


"Rayan," pekik Barack, membuat semua orang menoleh dan menatap arah pandangan Barack.


"Dady!" Panggil Vallery dengan kencang.


Deg


Rayan mematung saat mendengar suara putrinya.


"Ada apa lagi Ray, kenapa berhenti lagi," ucap Dea merasa heran dengan kekasihnya.


"Tidak ada, ayo kita pergi!" Ajak Rayan.


Namun, Vallery masih saja memanggil Rayan.


"CK, sudah berani dia menampakkan dirinya dengan_" mami Vania menatap Rayan dan Dea dengan sinis.


"Val, mau kemana?" tanya Barack mencegah Vallery untuk menyusul Rayan dan Dea.


"Val, ingin menyusul Dady Uncle, lepasin tangan Val." rengek Vallery.


Rayan ingin membalikkan badannya saat mendengar tangisan putrinya, namun di cegah Dea.

__ADS_1


"Dia bukan Dady kamu sayang," ujar Ramon.


Membuat Vallery menangis karena tidak boleh bertemu Rayan.


"Itu Dady, ijinkan Val bertemu Dady!" Vallery memohon.


Barack berjongkok mensejajarkan tinggi badan Vallery. "Val sayang, dengarkan Uncle dulu." Barack membujuk Vallery dengan lembut.


Vallery masih menangis dan memanggil Rayan.


"Jika dia Dady Val. pasti sudah bersama Val sekarang." Barack sengaja menyindir Rayan.


Deg


Rayan merasa bersalah karena tidak bisa bertemu putrinya meski ada di dekatnya.


Ken beserta Keluarganya hanya bisa menatap Vallery yang sedang menangis dan melihat dimana Rayan sedang bersama Dea.


Maafkan Dady Val


Batin Rayan.


Rayan menarik tangan Dea untuk cepat- cepat meninggalkan area UGD.


Dea tersenyum kemenangan, karena sebentar lagi Rayan akan menjadi miliknya seutuhnya.


Dea menoleh ke belakang saat tangan nya di tarik Rayan. Meski Rayan susah untuk melangkah.


Dea tersenyum kepada mereka. Karena Dea merasa jika Rayan telah memilih nya bukan memilih istrinya yang sedang kritis.


Saat ini Violetta sudah berada di ruangan nya dan tengah di temani oleh Kendra. Sedangkan keluarga masih bersama keluarga Violetta.


Barack menemani Vallery agar tidak sedih karena Rayan tidak mau bertemu dengan nya.


Ken menggenggam tangan Violetta begitu erat. Tidak henti-hentinya Ken menatap wajah pucat Violetta meski masih terlihat cantik.


"Vio, ku mohon bangun lah, aku tidak tega melihat mu seperti ini, andai bisa ku tukar lebih baik aku saja yang berbaring disini."


Ken menetes air matanya. Karena Violetta belum juga bangun.


"Vio, bukan nya kau ingin risant dari perusahaan ku?" tanya Kendra kepada Violetta yang masih belum mau membuka matanya.


"Saat ini juga surat pengunduran diri kamu aku terima, ayo bangun lah, buka matamu sekarang."


"Bukankah ini keinginan mu, aku sudah mengabulkan nya."


Kedua keluarga besar melihat Kendra yang sedang mengajak Violetta berbicara. Mereka merasa terenyuh mendengar ketulusan hati Kendra.


"Vio!"


"Kamu belum tahu kan, kenapa aku selalu melarang mu untuk risant dari kantor."


"Karena aku tidak ingin kehilangan mu apa lagi jauh dari mu violetta, Aku mencintaimu lebih dari sahabat."


"Maafkan aku yang pengecut ini, yang tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan ku yang sesungguhnya kepada mu."

__ADS_1


"Karena aku takut kau tidak memiliki perasaan apapun kepada ku dan kau pasti akan marah. Kau pasti sudah mendengarnya aku terima jika kau akan marah bahkan membenciku. Tapi, ku mohon buka matamu."


Tes


Violetta meneteskan air matanya, meski matanya belum mau membukanya.


"Kau menangis, apa kau mendengarkan ku?"


Ken menghapus air mata Violetta. Dan mengusap-usap pipi Violetta.


"Ken ... " panggil Dady Ken.


Ken menghapus airnya dan menoleh ke belakang.


"Dady," gumam Ken.


"Ayo kita pulang dulu, biarkan Vio istirahat!"


"Tidak Dad, Ken masih ingin menemani Vio hingga ia sadar," kata Kendra yang sedang menggenggam tangan Violetta.


"Dady mu benar Ken, lebih baik kau pulang, bahkan kau belum pulang untuk istirahat." Ramon melangkah mendekati Ayah dan Anak yang sedang berada di samping putrinya.


"Om takut kau jatuh sakit dan nanti kau tidak bisa menjaga Violetta," sambung Ramon.


Setelah membujuk Kendra untuk pulang. Kini di dalam ruangan Violetta hanya ada pasangan suami istri yang sedang menjaga putri kesayangannya.


Di tempat yang berbeda Dea membujuk Rayan untuk kembali ke tanah air. Menurut Dea, Rayan hanya membuang waktu saja jika masih di Singapura.


"Ray, lebih baik kita kembali saja."


"Aku tidak mau, sampai Violetta sadar dan mau memaafkan, ku."


"Tapi, Ray, lihat wajah mu yang ada malah babak belur seperti ini." Dea mengarahkan wajah Rayan ke arah cermin.


Memang benar jika wajah Rayan penuh luka lebam akibat pukulan dari Barack pagi tadi di rumah sakit.


"Kau bisa bertemu Violetta kembali setelah keadaan sudah membaik."


"Bahkan keluarga istrimu itu tidak menerima kamu, buat apa kau masih mempertahankannya." Dea mencoba mengkompori Rayan agar mau berpisah dan membenci Violetta dan juga keluarga istrinya.


Rayan hanya diam. Ia berpikir sejenak sebelum mengambil keputusan. Rayan sebenarnya di dalam relung hati nya masih mencintai Violetta meski kini ada Dea. Tapi, cintanya tidak bisa di gantikan.


Tapi, mengingatkan kembali akan kebencian kedua orang tua Violetta yang tidak pernah menyukai dan merestui pernikahan nya. Membuat Rayan berubah pikiran, apa yang di katakan Dea ada benarnya.


Rayan menghela napas dalam-dalam.


"Baik, ayo kita pulang sekarang."


Dea tersenyum kemenangan karena berhasil membujuk Rayan.


Dea menghamburkan pelukannya kedalam pelukan Rayan.


"Terimakasih Ray, kau mau mendengarkan kata-kata ku," ucap Dea.


Wanita cantik ini memberikan kecupan manis untuk Rayan bertubi-tubi.

__ADS_1


__ADS_2