
1**5.Mencari Pendonor Violetta**
Di depan ruang UGD nampak sosok pria tampan dengan wajah tegas berkarismatik, hidung mancung, mata tajam berwarna biru, memiliki rahang wajah tegas yang di tumbuhi rambut-rambut halus di sekitarnya. Dan juga bibir berwarna alami. Ken hanya bisa mondar mandi di depan pintu ruang UGD untuk menutupi rasa khawatirnya kepada Violetta.
Sedangkan Barack menenangkan Vallery yang sedang menangis di pangkuan nya.
"Mommy..."
"Mommy..." panggil Vallery dengan kata yang sama.
"Uncle, mommy baik-baik saja kan, mommy tidak akan pernah meninggalkan Val kan?," seru Vallery panjang lebar.
Barack hanya bisa menghela napas dalam-dalam. "Iya sayang, kita berdoa saja iya, semoga mommy baik-baik saja."
Vallery menganggukkan kepalanya dan menghapus air matanya dengan kasar.
Kemudian Valerry mulai mengangkat kedua tangannya.
"Iya Tuhan, sembuhkan mommy dari sakitnya. Val berjanji tidak akan menjadi anak yang nakal lagi." Vallery mulai berdoa dengan sangat khusyu.
Mendengar Vallery yang sedang berdoa, Ken yang sedari berdiri di depan pintu, ia berhenti sejenak dengan memperhatikan Vallery.
"Val akan nurut sama mommy, Val janji tidak akan cengeng lagi.tapi ,Val mohon tuhan, semoga mommy cepat sadar aminn," kedua tangannya mengusap wajah nya setelah selesai memohon untuk kesembuhan mommy nya.
Sedangkan Barack dan Kendra mereka berdua ikut terenyuh melihat ketulusan anak kecil yang sedang berdoa untuk orang tua yang ia cintai. Dan mengaminkan doa Vallery.
"Kamu anak baik sayang, pasti tuhan akan mengabulkan doa-doa Val," ucap Barack. Ia tersenyum kepada ponakannya dan mengusap kepala Vallery dengan lembut.
Vallery mendongakkan kepalanya ke arah Barack.
"Benal uncle?" tanya Vallery.
"Iya Sayang." Barack dengan menganggukkan kepalanya.
Kedua sepasang suami istri paruh baya yang masih awet muda nampak menyelusuri koridor rumah sakit menuju dimana putri nya berada.
Tidak hentinya mami Vania menangis sepanjang jalan.
Singkat cerita, setelah melihat putrinya yang tidak sadarkan diri dan menyelesaikan acara anniversary kedua nya dan ulangtahun perusahaan di ambil alih Ski orang kepercayaan Ramon Sanchez.
"Pih, mami tidak mau vio kenapa- kenapa, bukan nya selama ini dia tidak pernah absen untuk Kemoterapi dan juga radiasi," tanya mami Vania dengan sesenggukkan dan sesekali menghapus air matanya.
"Papi juga berharap putri kita baik-baik saja, kita berdoa saja ya sayang," ucap Ramon Sanchez seraya menggenggam tangan istrinya menyelusuri lorong rumah sakit.
__ADS_1
Dari kejauhan Ramon dan Vania bisa melihat Vallery cucunya, Barack dan Kendra yang berada di depan ruang UGD.
"Bagaimana kondisi Violetta?" tanya Ramon Sanchez mengejutkan mereka bertiga. Dan menoleh ke sumber suara.
"Papi,"
"Opa,"
"Om,"
ucap ketiga nya bersamaan.
Kemudian mereka hanya bisa diam. Membuat kedua suami istri itu menatap ketiganya menunggu Jawaban dari mereka.
"Bara," panggil mami Vania lembut kepada anak lelakinya.
"Vio, vio masih di tangani oleh dokter di dalam," jawab Barack dengan raut wajah sedih.
Mami Vania dan Papi Ramon hanya bisa menghela napas berat. Karena tidak ada yang tahu kondisi putri mereka.
Setelah menunggu beberapa menit Dokter yang menangani Violetta keluar.
"Keluarga mrs violetta." Panggil Dokter yang menangani Violetta.
"Saya Papi nya Dokter," jawab Ramon Sanchez.
"Baik Dok," kata Ramon Sanchez.
Ia meminta putra nya untuk menemani nya. Bukan istrinya. Ramon tidak mau jika Istrinya ikut menemani nya. Ramon tahu jika Dokter ingin membicarakan hal serius tentang Violetta. Maka dari itu ia tidak mau mengajak istrinya.
"Bara, temani papi ya." Ramon melirik ke arah putranya.
"Iya pih," ucap Barack yang sedang memangku Vallery.
"Sini sayang sama Oma dulu," pinta mami Vania kepada cucunya.
Vallery turun dari pangkuan Barack dan melangkah mendekati Oma Vania.
Mami Vania merentangkan kedua tangannya untuk menyambut cucunya.
Di peluk tubuh Vallery dengan penuh kasih sayang. Dan mengecup pucuk kepala Vallery. Seakan mami Vania memberikan kekuatan kepada cucunya. Meski ia merasa sedih dengan keadaan putrinya. Tapi, ia lebih memilih untuk tegar di hadapan putra nya dan cucu kesayangannya.
Mami Vania dan Ken menatap kepergian Barack, dan papi Ramon yang mengikuti Dokter tadi.
__ADS_1
Di dalam ruangan Dokter menjelaskannya kondisi Violetta yang semakin memburuk setelah melihat riwayat medis Violetta selama di negaranya.
Papi Ramon merasa shock saat Dokter mengatakan jika Violetta harus segera melakukan Transplantasi stem cell atau sumsum tulang belakang.
Barack mencoba menenangkan papi Ramon setelah dari ruang Dokter. Papi Ramon merasa tidak berdaya mendengar penjelasan tentang kondisi putrinya. Ia merasa menyesal di saat putrinya sedang berjuang untuk sembuh. Ia ada di Singapura.
"Maafkan Bara pih, belum bisa kasih tahu papi, Bara takut menganggu papi yang sedang sibuk mengurus acara ..." ucapan Barack terpotong Papi Ramon.
"Tidak perlu minta maaf Bar, papi tidak akan merasa terganggu jika menyangkut adik kamu, jika kamu menceritakan dari kemarin papi akan membatalkan acara Anniversary dan ulang tahun perusahaan."
"Tapi, ini acara yang sudah di susun dan di rencanakan papi sebelum nya," kata Barack mengingatkan kembali.
Ramon mengelengkan kepalanya. "Tidak bar, violetta jauh lebih penting dari apapun itu," ucap Ramon sedih.
"Papi ingin mendonorkan sumsum tulang belakang Papi untuk vio Bar,papi akan ikut test," ssmbung Ramon.
"Iya pih. Bara juga ingin ikut test siapa tau cocok dengan Vio pih," sahut Barack.
🍃🍃🍃
Di belahan negara yang berbeda, sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. Setelah melakukan kegiatan panas mereka.
Dea tersenyum seraya memainkan jari tangan nya melukis di atas dada bidang Rayan.
"Bagaimana, apa kau sudah memutuskan untuk menceraikan istrimu itu Ray!"
Rayan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Dea dan mengecup kening nya.
"Kamu sabar iya, dia sedang berada di Singapura sekarang."
Jari tangan Dea yang sedang mengukir di atas dada Rayan berhenti seketika. Dea sedikit kesal atas jawaban Rayan yang membuat nya tidak puas.
Dea tersenyum sinis. "Kenapa harus menunggu dia kembali. Bukannya kau tinggal urus saja Ray."
"Tapi, vio sedang sakit." Rayan mencoba untuk tetap tenang.
"Why!" Dea dengan sedikit berteriak.
"Apa kau memang tidak ingin berpisah dengan istrimu yang penyakitan itu," tanya Dea. Ia berdiri di hadapan Rayan dengan menutup tubuhnya dengan selimut.
Rayan hanya bisa diam. Ia tidak mungkin memutuskan begitu saja di saat Violetta sedang berjuang melawan penyakitnya.
Barack dan keluarganya pasti akan kecewa kepada nya karena sudah berani menyakiti Violetta.
__ADS_1
Rayan mengacak rambutnya ia merasa binggung. Untuk saat ini Rayan tidak ingin kehilangan kedua wanita nya.
Egois bukan, tapi untuk saat ini Rayan memilih untuk mengulur waktu untuk berbicara dengan Violetta dan menghadapi resiko yang akan terjadi nantinya.