Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
39. Kegalauan Rayan


__ADS_3


Kegalauan Rayan.



"Ha," sapa Ken saat melihat Violetta membuka matanya, sejak tadi Ken menemani Violetta di ruang perawatan. Sedangkan Barack menemui Dokter Ben dan Aleta tentang kondisi Violetta saat ini.


"Ken," jawab Violetta dengan lirih.


Ken melarang Violetta untuk mengajak nya berbicara apalagi saat Violetta meminta untuk duduk.


"Diam, tidak boleh banyak gerak!"


Tangan Ken tidak pernah lepas menggenggam tangan Violetta. Ken mencium tangan Violetta yang sedari tadi ia pegang.


"Vio, maafkan aku," kata Ken.


"Aku yang pengecut yang tidak menyadari perasaan mu dulu,"


"Kau pernah bilang jika kau bertanya kepada ku, apa Aku memiliki perasaan kepada mu," sambung Ken.


Ken menatap Violetta dengan lekat. Dan Violetta mengangguk kepalanya. "Vio, jika perasaan ku kepada mu itu ..." Ken terdiam,


Mungkin ini saatnya Ken untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam, lebih memilih menjadikan Violetta sahabatnya.


"Apa yang ingin kau katakan Ken," ucap Violetta lirih.


"Aku tahu kau mencintaiku Ken, kau lebih memilih persahabatan dari pada perasaan mu sendiri yang sesungguhnya. Aku tahu jika cinta ku selama ini terbalaskan," ingin rasanya Violetta berkata seperti itu. Namun, ia ingin mendengar pengakuan dari bibir Ken yang sesungguhnya.


"Aku_"


"Princess Mami," sahut seseorang yang ingin mengganggu nya. Namun, Mami Vania di bekap oleh suaminya karena melihat Ken dan Violetta yang sedang berbicara serius. Dan menarik istrinya keluar kembali.


"Ken seperti ada seseorang di luar?" ucap Violetta lirih.


"Wait," kata Ken. Melepaskan genggaman tangan Violetta.


Ken bangkit dari tempat duduknya dengan langkah malas Ken melihat siapa yang sudah berani menganggu momen dirinya bisa berduaan dengan Violetta layaknya seorang pria yang ingin mengungkapkan perasaan. Bukan sebagai sahabat atau atasan Violetta yang selama ini banyak publik ketahui.


"Siapa Ken?" tanya Violetta saat Ken kembali untuk duduk.


Ken hanya mengangkat bahunya tidak tahu karena tidak melihat siapapun di luar sana.


Sedangkan suami istri yang sedang bersembunyi dari pandangan Ken.


"Papi apa-apa sih, kenapa kita malah ngumpet seperti ini?" Keluh mami Vania kesal. Dan ia keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


"Maaf mih, apa mami tidak melihat jika Ken sedang berbicara serius dengan putri kita?"


"Haa, apa?" Pekik Mami Vania.


"Iya mih, lebih baik kita pulang saja, lagian vio sudah ada yang menemaninya."


Meski mami Vania sedikit kecewa tidak bertemu putrinya. Ia terpaksa mengikuti perintah suaminya.


"Mih, pih." sapa Barack saat melihat kedua orang tuanya yang tidak jadi masuk ke dalam ruangan Violetta.


Kedua suami istri itu menoleh dan tersenyum saat melihat putra nya datang menghampirinya.


"Kenapa kalian tidak jadi masuk kedalam?"


Mami Vania dan Papi Ramon saling memandang satu sama lain.


Mami Vania menelan ludah nya seperti dirinya telah kepergok melakukan kesalahan.


"Itu, anu Bar." Mami Vania mencubit lengan suaminya yang hanya diam saja.


"Ada barang mami yang ketinggalan di dalam mobil," jawab papi Ramon asal.


"Hehehe, iya Bar, barang mami ketinggalan di mobil."


Barack hanya beroria saja. "Owh ..."


"Lagian sudah sampai di depan kamar vio, mau balik lagi,"sambung Barack.


Sedangkan Ken tidak jadi melanjutkan mengungkapkan perasaan nya. Karena Dave asisten nya menghubunginya.


Dzrrtt.... Drzzzzttt ...


Ken merogoh kantong jas nya dan melihat siapa yang telah berani menganggu nya.


"Dave ..." gumam Ken. Namun, tidak segera Ken angkat hingga nada dering berhenti.


"Vio,maaf sepertinya aku harus pergi," sendu Ken.


"Iya Ken,"


"Baiklah, aku pergi dulu."


Cup


Ken mencium kening Violetta sebagai permintaan maaf karena harus pergi.


Saat Ken ingin menghubungi Dave kembali namun ia berpapasan dengan Barack mami Vania dan papi Ramon.

__ADS_1


"Ken," sapa mereka bertiga bersamaan.


"Bar,Tante, om maaf Ken harus pergi dulu. Vio sudah bangun ko," kata Ken.


"Iya Ken, terimakasih kau sudah menjaga putri om." ucap Papi Ramon.


"Iya om, sama-sama. Kalau begitu Ken pergi dulu."


Ketiga nya menatap kepergian Ken hingga menghilang di balik dinding. Mereka baru masuk menemui Violetta.


🍃🍃🍃


Di pagi harinya, Rayan bangun terlebih dahulu, sedangkan Dea masih betah di balik selimut tebalnya. Mereka telah menghabiskan waktunya untuk bercinta hingga menjelang pagi.


Namun, di pagi ini Rayan harus menghadiri rapat penting di perusahaan.


Sebelum pergi meninggalkan apartemen Rayan membuat kan omlet untuk sarapan Dea.


Rayan tersenyum saat mengingatkan kembali saat ia pertama kali di ajari memasak oleh Violetta. Masakan pertama yang Rayan bisa membuat omlet.


Setelah sudah selesai Rayan menata makanan yang ia masak di atas meja makan dan menulis sesuatu di kertas kecil yang bertuliskan.


"Dear Dea,


Maaf aku pergi dulu, Karena sudah terlambat so tidak sempat membangunkan mu, sebagai permintaan maaf, sudah ku buatkan sarapan pagi untuk mu.


Rayan.


Setelah selesai Rayan meninggalkan ruang makan. Dan saat akan membuka pintu ada yang membuat pandangan Rayan terhenti saat melihat amplop coklat di bawa pintu masuk.


Rayan membungkuk dan mengambilnya.


"Dari pengadilan," gumam Rayan.


"Secepat ini kah proses perceraian," kata Rayan.


Ia membuka amplop coklat itu dan membaca nya. Dan benar saja jika perceraian mereka sudah akan di laksanakan dua hari lagi.


Rayan meremas surat yang baru saja ia baca. Ingin rasanya mendatangi Violetta dan berkata jika ia tidak ingin berpisah.


Rayan mengusap wajah nya dengan kasar.


"Oh my ... Semoga kau berubah pikiran Vio, aku tidak ingin kehilangan mu." gumam lagi.


Tidak ingin Dea melihat surat panggilan dari pengadilan dengan segera Rayan membung ke dalam tong sampah.


Di sepanjang perjalanan, Rayan selalu memikirkan surat dari pengadilan.hingga tidak bisa kembali kosentrasi pagi ini.

__ADS_1


Setelah di perusahaan, Rayan hanya diam membisu, bahkan tidak mendengar saat moderator meeting yang sedang presentasi di depan. hari ini benar-benar membuat Rayan galau.


__ADS_2