
16. Kesakitan Kendra
Violetta begitu kesakitan saat dokter memeriksa tes sumsum belakang nya. Tidak henti-hentinya Violetta merintih dan berteriak menahan sakitnya.
Mami Vania, Ramon dan Barack bisa mendengar penderita Violetta. Mereka tidak bisa melakukan apapun. Itu membuat ketiga nya merasa hancur.
Terutama Kendra melihat wanita yang di cintai nya dalam kegalauan yang amat menyiksa melihat Violetta menderita.. Ingin rasanya Ken menggantikan kesakitan Violetta tapi itu semua tidak mungkin.
Seandainya saja dulu ia tidak mengorbankan perasaan nya untuk menjadikan sahabat dengan Violetta dulu dan merelakan cinta nya untuk orang lain. Namun, apa yang di dapat kan wanita yang amat di cintai nya mendapatkan penghianatan dari suaminya.
Ken hanya bisa menahan emosi dan menangis dalam diam. Sedangkan Vallery menatap ke empat orang dewasa yang sedang sedih.
Mereka tahu tes yang di lakukan untuk mengambil dan memeriksa sel darah yang ada di sumsum tulang.
Kenapa harus melakukan tes ini pada Violetta? Karena untuk mengetahui diagnosis awal, mengetahui stadium atau perkembangan kanker darah, memonitor, dan mengevaluasi keberhasilan dari serangkaian pengobatan yang telah dilakukan.
Dokter yang menangani Violetta yang baru sudah menduganya dan benar saja. jika, Violetta memerlukan transplantasi stem cell dengan segera.
Karena di duga Sumsum tulang Violetta sudah tak berfungsi atau bahkan hancur. Kemoterapi dan terapi radiasi kanker yang menyebabkan kerusakan sumsum tulang Violetta.
Barack dan Ramon baru saja mengikuti persyaratan untuk mendonorkan. Kedua lelaki itu sangat senang sekali karena bisa masuk dalam kriteria untuk melakukan donor sumsum tulang belakang.
Namun, saat Dokter menjelaskannya kepada papi Ramon yang usianya sudah memasuki setengah abad akan sangat beresiko jika tetap melakukan Donor Sumsum tulang belakang.
Dan untuk Barack, karena ia peminum handal Barack jelas tidak boleh melakukan donor. Meski kecewa keduanya tetap akan mencarikan donor sumsum tulang untuk Violetta secepatnya.
"Pih, Mami tidak tega melihat putri kita kesakitan seperti ini," rancu mami Vania yang menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
"Papi juga Mih, tapi kita harus berdoa saja semoga ada orang baik yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Vio," ujar Ramon. Seraya memeluk istrinya.
Mami Vania sedikit menjuah dan mendongak ke atas dan menatap suaminya.
"Pih, Mami ingin mendonorkan untuk Vio!" pinta mami Vania.
Papi Ramon mengerutkan keningnya saat Istrinya mengutarakan keinginannya.
"Mih, bukannya papi tidak mengijinkan tapi, Mami memiliki riwayat jantung." Ramon mengingatkan kepada istrinya.
Mami Vania menangis tersendu, ia tidak bisa menahan air matanya, ia mencoba untuk menyakinkan suaminya agar bisa mendonorkan nya.
"Tapi Pih, Mami ingin menyelamatkan putri kita." Mami Vania dengan derai air matanya.
"Dengan mengorbankan nyawa mami untuk Vio?" sentak Ramon.
Mami Vania mengangguk kepalanya.
"Tidak mih,tidak mih," Ramon menggelang kan kepalanya menolak keras.
Ramon memeluk istrinya kedalam pelukannya. Dan Ramon berbisik, "Vio, pasti tidak akan pernah menyetujuinya.jika tahu Mami yang harus menjadi pendonor nya."
__ADS_1
Deg
Mami Vania tertegun. Mami Vania merasa sakit jika nanti ia yang mendonorkan dan dirinya bagaimana jika tidak bisa selamat. Bagaimana nanti Violetta mengetahui itu. Putrinya akan marah bahkan akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Maaf," hanya kata maaf yang terucap oleh mami Vania.
Mami Vania mengurai pelukannya. Dan menatap suaminya.
"Mami akan pasang pengumuman pih, siapapun yang mau dengan baik hati membantu kita, dan bahkan semua orang pekerja yang ada di rumah kita mami mengijinkan. " Mami Vania memberikan ide kepada suaminya.
Ramon tersenyum, ia setuju dengan usulan Istrinya itu.
"Papi juga akan mengumumkan di perusahaan mih."
🍃🍃🍃
Setelah dari rumah Dea Rayan selama di perjalanan memikirkan ucapan Dea. Rayan juga tidak boleh egois untuk tetap mempertahankan kedua wanita yang ada di hati nya sekarang, Rayan juga harus memilih antara mempertahankan Dea kekasihnya atau melepaskan Violetta istrinya yang Rayan sendiri belum tahu kapan Violetta sembuh dari sakitnya.
Ciiitttt ....
Hampir saja Rayan menabrak kendaraan yang ada di depan nya.
Rayan memukul kemudi mobilnya karena baginya ini adalah keputusan yang sangat sulit.
"Shiit," umpat Rayan.
Tidak lama kemudian handphone nya berdering. Rayan mengerutkan keningnya saat siapa yang menghubunginya. Ternyata putrinya.Vallery menghubungi dirinya.
"Hallo Val," ucap Rayan terpotong.
"Dady, Dady." terdengar suara tangisan Vallery yang memanggil namanya.
"Val, ada apa?" tanya Rayan khawatir.
"Dady, mommy," kata Vallery. Dengan suara terbata-bata.
"Ok, sekarang Val tarik napas dalam-dalam." pinta Rayan.
Dan Vallery mengikut perintah Rayan.
"Apa Val sudah mulai tenang?" tanya Rayan.
Vallery menganggukkan kepalanya meski Rayan tidak bisa melihatnya.
"Mommy sedang di rumah sakit," kata Vallery.
Barack melihat jika Vallery sedang menghubungi seseorang dan seseorang itu adalah Rayan Dady nya sendiri.
Dengan segera Barack mengambil handphone dari tangan Vallery.
__ADS_1
Vallery terkejut saat Barack mengambil handphone begitu saja.
"Uncle ..." lirih Vallery.
Barack menutup handphone Vallery dengan tangannya.
"Uncle ingin bicara dengan Dady, Val sama om Ken dulu iya," uar Barack. Dan Vallery menganggukkan kepalanya.
"Val, apa masih di situ. Kenapa dengan mommy sayang?" Tanya Rayan kepada putrinya, Karena tiba- tiba hening begitu saja.
Barack mengambil alih, setelah Vallery sudah menjauh.
"Ini gue Barack," jawab Barack.
Deg
Rayan terdiam saat terdengar suara sahabat sekaligus kakak iparnya bukan putrinya.
"Jika kau ingin mengetahui vio, datang lah ke Singapura sekarang juga," ucap Barack dingin dengan menekan kata sekarang.
Deg
Perasaan Rayan seketika merasa khawatir, ia merasa jika Violetta sedang tidak baik-baik saja setelah Vallery menyebutkan kata Rumah sakit.
"Bar, apa yang terjadi, vio baik-baik saja kan?" tanya Rayan kepada Barack.
"Jika, kau masih ingin melihat Violetta maka datanglah ke kemari," jawab Barack. seketika mengakhiri sambungan telepon begitu saja sebelum Rayan menjawabnya.
"Shiiitt," umpat Rayan.
"Ahhhh," teriaknya merasa frustasi. Rayan bukan tidak mau. tapi, ia tidak mau bertemu kedua mertua nya yang tidak pernah menyukai dirinya.
Rayan pasti akan di banding- bandingkan dan akan tersingkirkan.
Dari awal Mami Vania dan Papi Ramon tidak pernah menyetujui hubungan Rayan dengan Violetta.
Apa lagi sekarang Rayan telah berani menghianati Violetta. Mungkin kedua mertua nya sudah tahu akan perselingkuhan dirinya dengan Dea.
Kedua orang tua Violetta dan Barack adalah orang yang sangat berpengaruh. Kemungkinan besar jika ada seseorang yang mengawasi dirinya tanpa sepengetahuannya.
Atau mungkin Barack menceritakan tentang dirinya meski Rayan berpikiran jika Barack kemungkinan belum tahu dirinya berselingkuh di belakang adiknya.
Rayan memutuskan untuk pulang kerumah. Dan mengambil baju-baju ke dalam koper.
Selama Violetta tidak ada di rumah, Rayan lebih memilih pulang ke rumah Dea.
Bi Lastri yang sudah dua hari tidak melihat tuan nya itu di rumah. Namun, hari ini bi Lastri melihat jika bos nya menenteng kopernya.
"Tuan, anda ada dirumah?"
__ADS_1
"Iya, Bi Lastri, saya harus segera pergi. "