Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
32. Ku Lepas Kau Dengan Bismillah.


__ADS_3

32. Ku Lepas Kau Dengan Bismillah.


"Pih, jangan marahi kak Bara," sahut Violetta yang baru saja datang dengan di temani Ema.


Kedua lelaki yang sangat berharga bagi Violetta menoleh ke sumber suara.


"Baby ..."


"Princess ..."


sahut bersamaan saat melihat Violetta ada di dalam ruangan yang sama dengan nya.


Ema mendorong kursi roda Violetta semakin mendekati mereka berdua. Setelah sudah berada dengan orang tua dan kakaknya Ema lebih memilih untuk pergi dari ruangan itu.


"Nona Vio, jika anda membutuhkan saya ada di depan, saya permisi Nona,"


Ema mengganti panggilan Violetta dengan nona karena Violetta tidak mau jika Ema memanggilnya nyonya.


Setelah kepergian Ema Violetta melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.


"Kak Bara tidak salah Pih, Kak Bara sudah menjaga Vio dengan sangat baik," ucap Violetta dengan nada lemah.


Ramon hanya diam saat putri kesayangannya mencoba untuk membela kakaknya. dari dulu Violetta lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya.


Barack mengelengkan kepalanya karena adiknya melindungi dirinya dari amukan Ramon Sanchez. "No ... Baby, kakak sudah jahat sama kamu dengan menutupi kelakuan rayan kepadamu."


"Vio tahu kakak melakukan itu semua karena agar Vio fokus untuk sembuh." Violetta menatap Barack dengan sendu.


Ramon membuka suaranya. "Sayang dari dulu kau selalu mengutamakan orang lain. meski kau sedang tidak baik-baik saja."


"Papi selalu bangga sama kamu sayang, tapi apa yang di lakukan kakak kamu itu sudah salah sayang."


"Tidak pih, Vio mohon jangan marahi kak Bara lagi. mami pasti sedih jika kakak di marahin Papi."


Ramon menghela napas dalam-dalam. Putrinya memang keras kepala, tapi, Ramon begitu menyayangi putrinya. jika putrinya sudah memohon seperti itu Ramon akan mudah luluh.


"Baiklah sayang, papi janji tidak akan memarahi kakak kamu lagi. Tapi, papi minta sama kamu bercerai lah sama rayan, Papi mohon!" Ramon berlutut di depan Violetta dan menggenggam tangan putrinya dengan memohon.


Violetta menatap wajah pria paru baya di depan nya wajah yang masih tampak muda meski usianya sudah tergolong tidak mudah. Dan bergantian menatap kakak nya sedangkan Barack mengangguk untuk mengikuti keinginan Papi nya. Karena dia juga meminta rayan untuk menceraikan Violetta.


"Vio, bersedia untuk bercerai dengan rayan pih." Violetta menghela napas berat. "Tapi Vio minta untuk bertemu rayan sekali saja!"


Ramon tersenyum mendengar putrinya mau berpisah dengan suaminya. Tapi, seketika senyum nya memudar saat permintaan Violetta untuk bertemu Rayan yang terakhir kalinya.


"Papi mengijinkan mu sayang, untuk bertemu dia. Tapi biar pengacara keluarga kita untuk mendampingi mu nanti."


Violetta mengangguk kepalanya.


"Papi, harus segera pergi, Mami mu pasti akan mencari Papi nanti,"


Ramon datang atas laporan anak buah nya. Saat Violetta pulang kerumahnya di saat Rayan membawa pulang Dea kerumah. Di saat itu juga perasaan Ramon tidak tenang tentang putrinya. Maka ia langsung terbang tanpa memberitahu istrinya mami Vania.

__ADS_1


"Bar, jaga adikmu. Jika perlu ajak Vio untuk tinggal di mansion saja."


"Iya Pih, Bara akan menjaga adik Bara, salam buat mami dari kami."


Ramon menepuk pundak Barack sebelum pergi dan memeluk Violetta dan mencium kening Violetta dengan lembut.


"Jaga dirimu sayang, Papi sudah menyuruh pengacara keluarga kita untuk mengurus perceraian mu."


Cup


"Iya Pih," jawab Violetta.


🍃🍃🍃


Ken marah saat mendapatkan laporan dari orang kepercayaan jika Violetta hendak di usir oleh Dea tapi setelah mendengar jika Ramon datang Ken merasa lega.


Peluang untuk bersama Violetta semakin dekat saat Ramon meminta Rayan untuk bercerai dengan Violetta.


"Dave bagaimana apa semuanya sudah siap?" tanya Ken kepada asisten nya Dave.


"Sudah Tuan, Dokter Ben baru saja memberitahu jika operasi akan di lakukan satu Minggu lagi."


"Apa itu tidak terlalu lama?" tanya Ken. Karena Ken tidak ingin terlalu lama Violetta menderita dan kesakitan.


"Tidak Tuan, kita lihat kesehatan nona violetta terlebih dulu, jika kesehatan nona stabil akan di lakukan dengan segera di luar jadwal yang telah ditentukan," jawab Dave membaca laporan kesehatan Violetta yang dikirim oleh Dokter Ban beberapa jam yang lalu.


"Bagaimana dengan tunjangan untuk nya?"


"Bagus, kau memang selalu dapat di andalkan."


Aku kan memang selalu bisa di andalkan Tuan apa anda lupa,


Batin Dave.


"Apa sudah selesai laporan tentang vio?"


"Nona Vio akan bertemu dengan tuan rayan di restoran black & white dua hari lagi." kata Dave.


"Kau atur Dave, aku ingin ada di sana."


Dave mengangguk kepalanya dan pamit untuk pergi meninggalkan ruangan Ken.


Sedangkan Ken kembali bekerja yang sempat tertunda saat Dave memberikan laporan tentang Violetta.


______________________&&&___________________


"Nona anda belum meminum obat nya," Ema mengingat kan Violetta untuk meminum obat. Inilah rutinitas Violetta sebelum tidur harus meminum obat agar kesehatan nya tetap stabil. Meski badan Violetta semakin kurus dari waktu ke waktu.


Violetta menghela kasar. "Hidupku tidak jauh dari obat-obatan Ema," ucap Violetta sendu.


Ema bisa melihat kesedihan Violetta karena hidupnya tergantung dengan obat-obatan dan rumah sakit.

__ADS_1


Ema memberikan beberapa obat yang sudah di resepkan oleh dokter Ben. "Anda yang sabar nona, karena sebentar lagi Anda akan mendapatkan Donor Sumsum tulang belakang."


"Iya Ema, karena aku sudah sangat lelah."


"Jangan seperti itu, Nona adalah wanita kuat, Ema yakin Nona bisa melewati ini semua. Nona jangan takut Ema akan selalu ada di samping Nona. Begitu juga yang lainnya semua sayang dan peduli dengan Nona Vio."


Violetta meminum obat yang sudah di siapkan oleh Ema dan Ema memberikan satu gelas air putih untuk membantu memudahkan Violetta meminum obat.


"Terimakasih Ema," kata Violetta saat menyodorkan gelas berisi air putih yang sudah di minum setengahnya.


"Sama-sama Nona,"


"Sudah saatnya Nona untuk tidur," imbuh Ema melihat jam yang melingkar di tangan nya.


Setelah menemani Violetta hingga tertidur, Ema kembali ke kamarnya dan mengerjakan pekerjaannya yang sesungguhnya.


Meski di tugas menjaga Violetta tapi Ema tidak lupa dengan pekerjaan yang berkaitan dengan perusahaan Walker. Tidak itu juga Ema juga bisa merangkap sebagai seorang bodyguard. Meski wanita tapi Ema termasuk wanita tomboi yang tangguh. maka dari itu Dave memilih Ema untuk menjaga Violetta saat Ken meminta untuk mencari seseorang untuk melindungi dan menjaganya meski keluarga Ramon Sanchez menempatkan bodyguard bayangan untuk Violetta namun Ken ingin keselamatan wanita yang di cintai nya yang paling utama.


Violetta tidak benar-benar tidur saat Ema menjaganya. Violetta membuka matanya perlahan.


Di saat sendirian seperti ini Violetta menangis saat menatap bingkai foto Keluarganya yang ada di dalam laci.


"Maafkan Vio, karena menyusahkan kalian," lirih Violetta saat memandangnya. dan menaruh nya kembali.


Violetta bergantian menatap foto Rayan yang ada di atas nakasnya.


Violetta tersenyum dan mengusap bingkai foto yang ia pegang. "Tak terlukiskan betapa hancurnya hati ku ketika pernikahan yang telah dibangun selama lima tahun akhirnya hancur dalam sekejap mata."


"Maafkan aku yang tidak sempurna menjadi istrimu hingga kau mencari yang lain."


"Tapi, dimana janjimu dulu..."


Violetta mengingat kembali ketika Rayan berjanji saat Violetta hendak di amputasi salah satu aset berharga nya dan akan menjadi cacat.


flashback:


Violetta menghela napas kasar. "Besok payudara aku akan di amputasi dan aku akan memiliki hanya satu payudara." Ucap Violetta dengan meneteskan air matanya.


"Aku lebih baik kamu memiliki satu payudara dari pada aku tidak bisa memiliki kamu sama sekali."


Violetta merasa sangat sedih ini salah satu keputusan yang sangat sulit. Demi kesembuhan nya ia harus kehilangan salah satu aset berharga nya untuk mengurangi rasa sakitnya.


Setelah mendapat kan dukungan dari suami dan keluarganya Violetta akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan amputasi dengan segera.


Flashback off:


Yang ada janji tinggal janji yang hanya manis di bibir saja.


"Aku ikhlas jika memang ini jalan yang terbaik, semoga kau bahagia dengan pilihan mu yang sekarang."


"Ku lepas kau dengan bismillah."

__ADS_1


__ADS_2