Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
51. Mengiklaskan Violetta


__ADS_3

51. Mengiklaskan Violetta


Ramon tidak kuasa melihat istrinya saat melihat keadaan putrinya. Meski hampir setiap hari Ramon dan Vania berkunjung ke Rumah sakit. Tapi, Ramon tidak berani untuk menatap langsung Violetta yang ada di ruang seteril.


Ramon merasa takut jika ia melihat putrinya yang sedang berjuang adalah hari terakhir mereka bertemu.


Ingin rasanya Ramon mendekati istrinya yang tengah berdiri menghadap dinding menatap Violetta bersama beberapa dokter dan perawat.


Vania tidak hentinya berdoa agar putrinya bisa melewati masa-masa kritis nya di dalam ruangan sana.


Vania menoleh ke arah dimana suaminya berada. "Pih, apa papi tidak mau melihat putri kita?" kata Vania berjalan pelan menghampiri suaminya.


Ramon menoleh saat tangan istrinya berada di pundak nya. Vania tahu jika suaminya tengah bersedih. Karena ia tahu suaminya hanya diam tidak banyak bicara. Violetta adalah putri satu-satunya yang sangat Ramon sayangi


"Maafkan papi mih." ucap Ramon lirih.


Vania ikut duduk di samping suaminya. Dan ia menggenggam tangan Ramon. Mereka saling menguatkan satu sama lain.


Tidak lama Barack datang menggendong Vallery yang terus-terusan ingin bertemu dengan Mommy nya. Padahal kemarin gadis kecil ini menolak untuk datang kerumah sakit saat Barack membujuk Vallery. Namun, Valerry terlanjur kecewa saat Rayan nggan untuk bertemu atau bercakap dengan putrinya meski hanya lewat sambungan telepon.


Vania dan Ramon yang melihat kedatangan cucu dan putra nya dari kejauhan tampak menutupi kesedihannya dengan segera tersenyum ke arah mereka untuk menyambut nya.


Namun di saat kedua suami istri yang akan menyambut cucu dan putranya. Terdengar bunyi alarm dari ruangan Violetta dan beberapa saat kemudian para medis berlari masuk ke dalam ruangan Violetta.


Terlihat Dokter Ben dan Dokter lainnya juga ikut ke masuk ke dalam.


"Pih, perasaan Mami tidak enak ada apa ini?" tanya Vania kepada suaminya. Saat mereka juga mendengar bunyi alarm.


"Tuan, Nyonya. nona vio." sahut Emma yang tidak jauh dari sepasang suami istri yang sedang duduk berdua memberitahukan kondisi Violetta


Ramon menoleh dan menatap ke arah ruangan Violetta. kali ini Ramon memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat melihat putrinya yang tengah berbaring lemah yang sedang di tangani beberapa Dokter.


"Princess, Papi disini, maafkan papi sayang yang tidak berani menatap mu lebih dekat. Papi...pa_pi."


Ramon tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi saat matanya mengalir air matanya begitu saja. Ramon merasa kan yang teramat sakit saat ia melihat putrinya yang sedang berjuang sendirian di dalam sana.


Vania, Barack dan Vallery menatap Ramon yang tengah berdiri di depan dinding kaca.


"Oma, Opah kenapa?" tanya Vallery kepada Vania.


Vania hanya diam saja dan melirik ke arah Barack untuk menjawab pertanyaan cucunya apa yang sedang terjadi. Karena ia juga belum tahu ada apa dengan Violetta di dalam sana.


"Val sayang, lebih baik kita berdoa buat mommy Val yuk!"

__ADS_1


Vallery menatap wajah Barack dan mengangguk-anggukan kepalanya.


Vallery menundukkan kepalanya dan mulai berdoa untuk sang mommy.


Vania ikut terenyuh mendengar ketulusan Vallery saat meminta kesembuhan untuk Mommy. Vania menghapus air matanya setelah Vallery selesai berdoa.


"Ya Tuhan, jangan kau ambil putriku sekarang, karena ada malaikat kecil yang memohon agar di berikan kesembuhan untuk Mommy nya."


Batin Vania.


🍃🍃🍃


"Ada apa ini? Kenapa banyak para team medis di dalam?" sahut seseorang yang tidak asing lagi bagi mereka berlima.


"Tuan Ken." gumam Emma saat melihat kedatangan Ken.


Tidak ada yang berani menjelaskan kepada Ken apa yang terjadi dengan Violetta.


"Kenapa dengan Violetta, Emma jawab!"pinta Ken kepada Emma.


"Nona Vio_"


"Om Ken, mommy hick... hick..." Vallery memotong pembicaraan Emma yang akan menjelaskan kepada Ken.


"Sayang, ada apa dengan mommy Val?"


Vallery hanya menangis dan jari telunjuk nya mengarah ke arah ruangan Violetta. Sedangkan Ken mengikuti arah tangan Vallery.


"Mommy ... hick ... hick ... "


Ken menarik Vallery kedalam pelukannya. Dan Vallery semakin terisak di dalam pelukan Ken.


Barack menepuk-nepuk pundak Ken. Seolah Ken tau apa yang terjadi dengan Violetta.


Ken mengurangi pelukan Vallery dan ia berdiri dan berjalan ke arah ruangan Violetta.


Perawat mengijinkan Ken untuk menemui Violetta di dalam.


Ken menatap Violetta tidak percaya jika wanita yang selama ini ia cintai sedang memejamkan matanya.


"Vio, maafkan aku untuk beberapa hari ini tidak ada di samping mu. dan sekarang aku datang untuk mu."


"Sekarang buka lah matamu, lihat aku ada di sini." Ken mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Violetta. Ken merasakan tangan Violetta yang begitu dingin.

__ADS_1


Ken menggelengkan kepalanya karena tidak percaya apa yang ia lihat sekarang.


"Vio, jangan bercanda, gak lucu." ucap Ken dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Please Vio, ijinkan aku membahagiakan mu sekali saja." imbuh Ken dengan berlinang air matanya.


"Tuan, maaf jika Nona Violetta sudah meninggal beberapa menit yang lalu." kata perawat yang hendak menutup wajah Violetta.


"Tidakkkk...." teriak Ken karena tidak terima.


"Vio belum meninggal, dia wanita kuat dia hanya pura-pura tidur."


"Ayo Vio sayang bangun. setelah ini kita akan pergi ke taman bunga yang sudah aku janjikan untuk mu. Dan setelah itu kita akan menikah." Ken mengoyak kan badan Violetta yang tengah berbaring kaku.


Barack datang dan menghampiri Ken yang sedang memarahi seorang perawat.


"Ken, apa yang di katakan suster benar, jika Violetta sudah pergi meninggalkan kita.kamu harus mengikhlaskan kepergian nya."


"Tidak Bar, Violetta masih hidup aku yakin dia masih hidup."


"Siapa yang bilang wanita ku sudah meninggal dia hanya sedang tidur saja." ucap Ken dengan menangis dan menatap Barack dan perawat bergantian.


"Dia sedang tidur, aku sangat yakin dia tidur." rancau Ken dengan menunjuk ke arah Violetta.


Barack beberapa kali menjelaskan kepada Ken namun Ken tetap Keukeh pada pendiriannya jika Violetta masih hidup. Barack juga masih tidak percaya jika adiknya meninggalkan nya begitu saja.


"Ken lebih baik ikhlaskan saja kepergian Violetta. "


"Tuan apa yang di katakan Tuan Barack itu memang benar," sahut Emma.


"Diam kamu," bentak Ken.


"Sudah ku bilang jika violetta hanya sedang tidur."


Plak


Barack menampar Ken yang belum percaya akan kepergian Violetta.


Perawat dan Emma bergejolak kaget saat Barack menampar pipi Ken.


"Ken sadar, jika Violetta sudah pergi meninggalkan kita semua, bukan kamu saja yang tidak percaya. kita semua juga tidak percaya jika vio kita pergi secepat itu meninggal kita."


Ramon, Vania dan Vallery menangis di luar ruangan. Mereka masih tidak percaya jika orang yang mereka sayangi pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


"Ikhlaskan Vio Ken, dengan seperti ini vio tidak merasakan sakit lagi. Mungkin ini jalan yang terbaik Ken."


__ADS_2