
28. Mengetahui.
Setelah kepergian Rayan, tangisan Violetta akhirnya pecah.
Violetta memegang dadanya yang terasa sakit sejak tadi ia menahannya.
"Oh my." Tangis Violetta pecah.
"Aku tidak apa-apa,aku pasti kuat," sambungnya.
"Baby kau kenapa?" sahut seseorang yang baru saja masuk kedalam kamar.
Barack melihat Rayan yang keluar dari kamar adiknya dengan raut wajah yang tidak bisa terbaca. Kemudian Rayan lebih memilih untuk mencari Dea yang sudah berada di dalam kamarnya.
Barack tahu adiknya mungkin sedang tidak baik-baik saja setelah melihat adegan live suaminya dengan wanita lain. Dengan segera Barack menuju kamar Violetta tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dengan hati-hati Barack membuka pintu kamar Violetta namun Barack terkejut saat melihat Violetta yang sedang menangis tersendu-sendu di lantai kamar tidur.
Barack menghampiri Violetta dan menarik Violetta kedalam pelukannya.
"Are you ok baby?" tanya Barack sekali lagi.
Namun hanya terdengar suara tangisnya yang semakin keras di dalam pelukannya.
Barack membiarkan adiknya untuk menangis. Mungkin ini Titik kesabaran Violetta selama ini selama bersama Rayan.
"Kak," panggil Violetta dengan menghapus air matanya. Vio mengurai pelukannya.
"Yes Baby, apa yang ingin kau katakan,Hem?" jawab Barack seraya menuntun Violetta untuk duduk di atas kasur.
"Vio berpikir ulang jika Vio memutuskan untuk tidak melakukan tindakan apapun termasuk melakukan Transplantasi stem cell."
"No Baby!" Barack menggelengkan kepalanya karena tidak setuju dengan keputusan Violetta yang ingin membatalkan pengobatan dan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang.
"Kakak, tidak setuju, bahkan jika mami sama papi tahu mereka juga akan menolak keputusan kamu yang gila ini."
"Apa yang membuat kamu berubah pikiran seperti ini," imbuhnya.
"Vio... Vio ... tidak mau membebani semua orang karena Vio," ujar Violetta dengan menundukkan kepalanya.
"Astaga baby, sejak kapan princess kakak mudah putus asa seperti ini?"
"Apa karena rayan si bastard itu kau berubah pikiran, apa yang dia katakan kepada mu tadi?" murka Barack dengan menunjuk ke arah pintu. dan Barack berdiri ingin menghajar Rayan. Namun, di cegah oleh Violetta.
"Jangan kak, dia tidak melakukan apa-apa, Vio merasa tidak pantas untuk hidup lagi."
Barack mengusap raut wajah dengan kasar.
__ADS_1
Barack berlutut dan memegang tangan Violetta."Baby, look me eyes, please!"
Violetta mengangkat kepalanya dan menatap wajah Barack.
"Jika kamu menyerah seperti ini, usaha Kakak, mami dan papi akan sia-sia untuk membuat orang yang kakak sayangi pergi begitu saja."
"Ok ..." Barack memejamkan matanya. "Tapi ingat Vio, ada Vallery yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu yaitu kamu. Apa kau mau val di asuh oleh dia?" imbuh Barack.
Violetta menggelengkan kepalanya. "Tidak kak, Val hanya punya satu mommy, itu Vio, bukan wanita itu." sentak Violetta.
"Jika kau menyerah seperti ini, sia-sia usaha ken. dia begitu mencintai mu dia rela melakukan apa saja agar orang yang dia cintai bisa kembali tersenyum dan meneruskan hidupnya." Barack menghela napas kasar.
"Apa?" Pekik Violetta.
Deg
Barack tidak menyadari bahwa dia telah membuka rahasia jika Ken begitu mencintai adiknya bahkan merelakan adiknya untuk sahabat nya.
"Sial, kenapa ini mulut bisa keceplosan, Ken pasti akan marah jika Vio mengetahui nya."
Batin Barack.
"Kak, apa yang kakak katakan tadi, kenapa dengan Ken? Apa yang terjadi." Violetta penasaran dengan perkataan kakaknya yang keceplosan tadi.
"Tidak baby, kau lebih baik minum obat terus kau istirahat." Barack mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Violetta untuk istirahat.
Barack terdiam saat akan hendak membalikkan badannya untuk mengambil obat Violetta dia urungkan.
"Baby, maafkan kakak ..." lirih Barack menoleh ke samping.
"Iya, kak Vio tidak apa-apa."
"Tapi Vio takut kak, jika mencintai Ken, persahabatan antara Vio dengan Ken akan berantakan" ucap Violetta dalam hati. Violetta tidak meneruskan ucapannya.
🍃🍃🍃
Setelah selesai mengantar Violetta. Ken lebih memilih untuk pergi ke perusahaan nya. Ken lebih memilih untuk menyibukkan dirinya kerja dan kerja ketimbang mengingat Violetta.
Ken langsung menuju kamar pribadinya yang ada di dalam ruangan nya. Ken akan membersihkan badannya terlebih dahulu agar nampak terlihat segar dan fresh kembali.
Ken masuk kedalam kamar mandi dan ia mulai menyalahkan shower Ken menikmati guyuran air di bawa shower. Setelah di rasa cukup Ken menyudahi mandi nya.
Ken menuju lemari baju dan mengambil salah satu setelan jas untuk di kenakan. Setelah selesai Ken menuju meja kerjanya.
Ken terkejut melihat asisten sudah ada di dalam ruangan nya.
"Kenapa terkejut begitu Bos?" tanya Dave saat melihat Ken yang baru saja datang.
__ADS_1
"Tidak Dave, sejak kapan kau ada di ruangan ku."
Ken duduk di kursi kebesaran nya. Dan mendongakkan kepalanya ke atas menatap langit-langit atap ruangannya.
"Lalu apa yang membuat Bos lesu begitu, bukan nya habis liburan nemenin nona vio."
"Aku sudah membuat kesalahan dengan tidak menuruti keinginan vio ..." lirih Ken.
Dave mengerutkan keningnya saat mendengar Ken. "Memang apa yang tidak Bos turuti untuk nona vio, bukannya Bos selalu mengabulkan keinginan nya sampai Bos mencarikan donor yang cocok untuk nona vio?"
Ken menghela napas. Ken menceritakan tentang dirinya yang tidak mengantarkan sampai kamar sesuai keinginan Vio. Ken malah menyetujui Rayan yang mengambil alih.
"Sudahlah Bos, mending cari wanita lain saja, masih banyak wanita cantik, pintar di luar sana yang ..."
"Diam kau Dev, kau tidak tahu apa-apa tentang vio, Dav." bentak Ken.
"Aku sudah sangat mencintai dia sejak kita masih duduk di high school, apa aku salah jatuh cinta sama dia, menjaga dia meski dari jauh, Dav." sambung Ken.
"Saya tidak tahu Bos jika masalah hati."
"Makanya kau cari pacar." ujar Ken.
Namun Dave malah tertawa mendengar penuturan Bosnya.
"Bos saja tidak punya pacar kenapa nyuruh saya cari pacar," jawab Dave asal.
Ken melempar pena ke arah Dave.
Pletak.
"Apa yang katakan, mau aku potong gaji kamu atau tidak dapat bonus akhir tahun ini!" ancam Ken kepada asisten nya.
Dave mengadu kesakitan seraya mengelus kepalanya yang terkena pena. Karena Ken akan memotong gajinya atau bonus akhir tahun yang sudah Dave impikan hangus begitu saja hanya masalah pacar.
"Aduh Bos. Maaf saya salah."
"Ingat Dave, Bos selalu benar, dan kau hanya bawahan jadi selalu di salahkan"
Batin Dave.
"Hey, aku dengar kau membatin tentang ku, Dav!"
Dave memutar bola matanya. "Aduh lupa jika dia seorang cenayang,"
"Tidak Bos, perasaan Bos saja," ucap Dave.
"Ya, sudah kau mau apa kesini."
__ADS_1
Dave lupa akan tujuan nya datang menemui Ken saat melihat Ken yang datang ke kantor tidak ke mansion nya.