Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
6. Keputusan Yang Berat


__ADS_3


Keputusan Yang Berat



Pagi-pagi sekali mami Vania sudah menyiapkan sarapan untuk Violetta dan juga cucu kesayangannya Vallery.


"Mih, kan ada Bi Lastri kenapa mami yang masak?" tanya Rayan yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Dimana Vio?" tanya Mami Vania. Ia malah menanyakan Violetta.


"Vio disini mih," sahut Violetta dari belakang mami Vania.


"Sini sayang, mami masak khusus buat kamu, ini cocok sekali buat penyembuhan sakit kamu."


"Oh iya mih, Vio sudah lama tidak merasakan masakan Mami lagi semenjak ma..." Violetta. Ia menarik kursinya dan duduk.


"Semenjak kamu menikah," jawab mami Vania cepat.


"Wah, lama sekali iya mih, kaya nya enak nih sayang," ucap Rayan. Ia ingin istrinya menyuapinya.


"Bagaimana enak tidak?," tanya mami Vania.


"Enak mi," sahut mereka berdua berbarengan.


"Mami, selalu juara kalau soal memasak," kata Violetta dengan mengacungkan jari jempolnya.


"Selamat pagi, semua." Sapa Valerry yang baru saja datang.


"Pagi sayang, nih lihat omah masakin kesukaan kamu. Udang mentega," ujar Mami Vania.


Vallery sangat kegirangan melihat menu sarapan pagi kali ini kesukaan nya.


Mereka berempat makan pagi bersama.


Siang hari Violetta pergi ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter Onkologi nya. Kali ini Violetta di temani mami Vania.


"Dok, apa bisa sembuh, setelah mendapat beberapa kali radiasi," tanya Violetta Kepada Dokter Ben. Mereka berbicara sambil berjalan di lorong rumah sakit. Karena tidak sengaja bertemu di lorong saat Violetta hendak keruangan Dokter Ben.


"Ibu Vio, jika sudah terkena radiasi beberapa kali, itu tidak bisa kembali kesemula," jelas Dokter Ben.


"Lalu, apa akan selamanya jadi gosong seperti itu dok?" Timpal mami Vania. Yang sedari tadi hanya diam.


"Iya Bu, dan itu harus di angkat." Dokter Ben menghela nafas panjang. "Ibu Violetta masih muda, ini harus di lakukan amputasi secepatnya. Dan ibu bisa melakukan operasi silikon."


"Apa tidak ada cara lain Dok?" tanya Mami Vania.


"Tidak ada Bu, secepatnya Ibu Vio harus di amputasi untuk mempercepat penyembuhan dan itu bisa mengurasi sel kanker dan fokus ke leukimia ibu."


"Ibu harus memutuskan secepatnya kapan akan di lakukan amputasi, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Dokter Ben. Karena mereka bertiga berada di lorong rumah sakit.

__ADS_1


Violetta dan mami Vania hanya bisa saling memandang. Ini adalah keputusan yang sangat sulit untuk Violetta. Ia akan kehilangan salah satu Payudara nya.


"Mih, Vio akan cacat mih, jika harus di amputasi ..." ucap Violetta lirih.


"Vio, tidak mau mih," imbuh Violetta dengan mata berkaca-kaca.


"Tenang sayang, kamu nanti bisa melakukan operasi silikon, yang di bicarakan dokter tadi itu benar. Kamu tidak perlu takut."


Mami Vania memeluk tubuh putrinya. Untuk memberikan kekuatan.


🍃🍃🍃


Malam harinya, setelah selesai makan malam bersama. mami Vania, Violetta dan Rayan duduk di area ruang keluarga. Sedangkan Vallery sudah masuk kamar nya terlebih dulu di temani Bi Lastri.


Violetta menghela napas kasar. "Besok payudara aku akan di amputasi dan aku akan memiliki hanya satu payudara." Ucap Violetta dengan meneteskan air matanya.


"Aku lebih baik kamu memiliki satu payudara dari pada aku tidak bisa memiliki kamu sama sekali."


Violetta merasa sangat sedih ini salah satu keputusan yang sangat sulit. Demi kesembuhan nya ia harus kehilangan salah satu aset berharga nya untuk mengurangi rasa sakitnya.


Setelah mendapat kan dukungan dari suami dan keluarganya Violetta akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan amputasi dengan segera.


Violetta membuat pertemuan dengan Dokter Onkologi untuk menjadwalkan kapan akan di lakukan amputasi. Dan itu dua hari setelah bertemu Dokternya lagi.


"Mih, Vio takut," ucap Violetta saat dirinya akan masuk kedalam ruang operasi.


Kali ini hanya di temani oleh mami Vania, Karena Rayan harus meeting dengan rekan nya.


Violetta berpikir sejenak. Ia harus berjuang untuk tetap hidup, karena masih ada putri kecilnya yang masih butuh kasih sayang dari nya.


Bagaimana jika tidak ada dirinya, bagaimana nanti nasib putrinya, dan juga suaminya. Violetta akhirnya menganggukan kepalanya.


Mami Vania memeluk dan mencium pucuk kepala putrinya sebelum masuk kedalam ruang operasi.


Namun dari kejauhan tampak seseorang memperhatikan Violetta dan Mami Vania dari kejauhan. Tapi, sayang Mami Vania melihat nya dan memanggil namanya.


"Ken." Panggil mami Vania.


"Kemari lah kenapa kamu hanya disitu," imbuh Mami Vania.


Ken terkejut dan menepuk keningnya karena ketahuan sama mami Vania.


Mami Vania tahu jika ada Ken, dari dulu mami Vania tahu jika Ken selalu memperhatikan putrinya dari kejauhan.


Ken keluar dari tempat persembunyiannya. Dan mendekati Violetta dan mami Vania.


"Mami sudah hafal dari dulu Ken, kau suka sekali main petak umpet." Sindir mami Vania.


"Mih, jangan gitu, kasian Ken." Bisik Violetta.


"Aunty apa kabar lama kita tidak pernah jumpa?" tanya Ken. Memeluk mami Vania.

__ADS_1


"Mami baik ken, terimakasih sudah mau bantu Vio," bisik mami Vania.


"Sama-sama mih, itu wujud sebagai sahabat dan sekaligus atasan Vio."


"Mami harap kamu masih mencintai Vio, Ken."


"Iya mih," ucap Ken mengurangi pelukannya.


Ken menoleh ke samping dimana ada Violetta. Ia tersenyum saat melihat Violetta yang sudah siap untuk melakukan amputasi nya.


Ken menggenggam tangan Violetta. "Vio, aku yakin kamu kuat, ingat Val, ok!"


Violetta hanya bisa mengangguk kepalanya dan minta perawat membawa dirinya masuk keruangan.


Mami Vania dan Ken menunggu Vio di luar.


Selama menunggu, Ken selalu memberikan dukungan untuk Mami Vania agar tabah dan tegar.


Setelah menunggu beberapa jam akhirnya selesai juga operasi nya berjalan lancar.


Karena masih banyak pekerjaan Ken memutuskan untuk pergi terlebih dulu. Ken juga tidak mau melihat orang yang dia sayangi sedih lebih baik ia pergi.


Satu jam setelah operasi, Mami Vania mengijinkan Rayan yang baru saja datang dan untuk masuk terlebih dulu.


Dengan langkah hati- hati Rayan masuk kedalam dimana Violetta sudah menunggu nya.


Violetta tersenyum ia merasa bahagia setelah melihat suaminya akhirnya mau datang.


Rayan melangkah semakin dekat hingga berada di samping Vio.


Violetta membuka piyama rumah sakit nya. Dan menunjukkan hasil amputasi nya kepada Rayan.


Rayan hanya diam ia tidak bisa berkata-kata. Wajah nya pucat pasih melihat salah satu favorit Rayan telah hilang dan tinggal satu.


Violetta tersenyum saat menunjukkan hasil amputasi nya. Namun, melihat expresi suaminya Violetta menjadi murung dan sedih.


"Kenapa? Jelek iya?" tanya Violetta.


Deg


Seakan tahu isi pikiran nya. Rayan menjadi binggung untuk mengatakannya.


"Tidak sayang," jawab Rayan singkat.


"Lalu, kenapa diam saja." Balas Violetta.


"Aku dari tadi hanya cemas mikirin kamu, aku takut kamu tidak kuat." Rayan memandang Violetta.


Namun Violetta memandang ke sembarang arah. Ia sudah terlanjur kecewa dengan suaminya.


"Terus," ucap Vio dingin. Ia masih tidak mau melihat suaminya.

__ADS_1


"Ternyata kamu kuat."


__ADS_2