
24.Kabar Baik.
Ken tidak hentinya tersenyum saat Mommy Casandra mengatakan dirinya seorang pembinor.
"Mommy ada-ada saja, segitunya kah putra nya sendiri di katain seorang pembinor."
Ken memilih untuk pergi ke kamarnya. Kini Ken kembali ke mansion keluarga Walker yang ada di Singapura. Jika tidak ada kedua orang tuanya Ken akan tinggal di apartemennya miliknya.
Bagi Ken buat apa tinggal di mansion mewah seorang diri jika tidak ada orang yang ia sayangi terutama kedua orang tuanya.
Pelayan mansion akan di buat super sibuk jika penghuni mansion berada di sana. Meski itu sudah menjadi pekerjaan para pelayan di mansion.
Ken merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk melepaskan rasa lelahnya Beberapa hari kemarin di rumah sakit untuk menemani Violetta. Ken mengingat Violetta. Ken terbangun kembali dan mengambil gawai nya untuk menghubungi seseorang yang menjaga Violeta.
"Halo," sapa seseorang yang berada di balik telepon.
"Tante ... Bagaimana kondisi Violetta saat ini?"
"Kamu tidak perlu khawatir, vio sudah siuman Ken."
Ken tersenyum. Ia merasa senang mendengar kabar dari mami Vania jika Violetta sudah siuman.
"Ken ikut senang Tante, apa boleh Ken berbicara dengan Vio Tante?"
"Vio masih tidur Ken," kata Mami Vania yang sedang menatap putrinya yang tengah tidur dengan nyenyak meski masih ada sisa air matanya.
Meski sedikit kecewa tapi Ken tidak masalah. Lagian Violetta masih butuh istirahat yang banyak agar tidak mudah drop selama masih menunggu donor yang cocok.
Setelah sedikit berbincang dengan mami Vania Ken memutuskan sambungan telepon.
Ken menghubungi seseorang yang ia percayai sebagai asisten pribadinya.
"Halo ... Tuan Ken," ucap Dave dari seberang telepon.
Ken berjalan menuju balkon kamarnya. "Bagaimana,"tanya Ken.
Dave menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan bos nya. "Belum Tuan," jawab Dave singkat.
"Dave... Aku kasih waktu kamu satu Minggu untuk mencari donor yang cocok untuk violetta."
"Baik Tuan."
"Aku tunggu secepatnya."
Ken menutup sambungan telepon dengan sepihak.
Membuat Dave merasa lega, karena tidak biasanya Ken akan marah jika Dave belum menemukan donor yang cocok untuk violetta.
"Tunggu vio, kau akan segera sembuh," gumam Kendra.
🍃🍃🍃
"Pagi Ray," sapa Dea saat mendekati Rayan yang sudah duduk di kursi makan.
"Pagi cantik," jawab Rayan dengan tersenyum.
__ADS_1
Dea mencium Rayan di saat ada Bi Lastri yang tidak jauh dari area ruang makan.
Rayan dan Dea kini tidak sungkan untuk mengumbar kemesraan nya di depan orang.
Dea duduk di samping Rayan dan mulai memakan sarapan pagi yang sudah di buatkan oleh BI Lastri.
"Ray, hari ini aku akan pulang," kata Dea.
"Why," tanya Rayan.
"Apa kau tidak nyaman tinggal disini,?" imbuh Rayan.
Dea menghentikan makannya. "Tidak Ray, bukan itu. tapi, aku takut istri mu tahu aku disini ..." lirih Dea melirik ke arah dimana Bi Lastri yang sedang menatap nya.
Rayan tertawa kecil. "Vio tidak akan pulang kerumah ini, kau tenang saja. Ok!" seru Rayan menggenggam tangan Dea dengan lembut.
Dea tersenyum dalam hatinya karena ia berhasil untuk tetap tinggal di rumah mewah Rayan.
Aku berharap begitu Ray, bahkan istrimu tidak akan pernah kembali lagi kerumah ini.aku yang akan menjadi nyonya dirumah ini
Batin Dea.
"Dasar wanita tidak punya harga diri, sudah jadi pelakor bangga. Kalau bukan tuan barack tetap disini mana mau aku melayani wanita ular itu ..." ucap Bi Lastri lirih.
"Really Ray?" tanya Dea.
"Yes of course baby."
"So tetap temani aku di sini!" Rayan menatap wajah Dea dengan lembut.
Membuat Rayan tertawa. Dan mencubit hidung Dea. "Kamu ini selalu buat aku happy."
Pagi-pagi sekali Ken datang kerumah sakit dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Ken merasa senang karena Violetta sudah melewati masa kritis nya.
Tok,tok,tok,
Ken mengetuk pintu kamar ruang Violetta. Tidak lama terdengar suara dari dalam kamar.
Clek
Ken membuka pintu dengan pelan. Dan ia melangkah kakinya masuk ke dalam ruangan dimana Violetta berada.
"Pagi Vio, Tante," ucap Ken kepada wanita yang berbeda generasi itu.
"Pagi Ken," sapa Mami Vania dan Violetta bersamaan.
Ken menyerahkan buket bunga mawar kepada Violetta. Dan berdiri di samping mami Vania. Namun mami Vania mempersilahkan Ken untuk duduk di kursi yang ia duduki. Dengan segera Ken menolaknya.
"Tante duduk saja, Ken tidak apa-apa berdiri disini," kata Ken.
"Bagaimana kabar kamu Vio hari ini?"
"Seperti yang kau lihat Ken," jawab Violetta.
Ken terseyum. "Vio dan Tante Ken hanya ingin menyampaikan jika Ken sudah menemukan Donor Sumsum tulang belakang untuk Vio yang cocok,"
__ADS_1
Setelah menghubungi Dave kembali semalam. Dave bekerja dengan cepat untuk mencari Pendonor Violetta dengan cepat. Padahal Ken memberikan waktu tambahan hingga satu Minggu mendatang.
Ken tersenyum dan menatap Violetta dan mami Vania bergantian.
"Ken, apa kau serius?" tanya mami Vania.
"Tentu Tante," jawab Ken tersenyum.
"Mih," panggil Violetta kepada mami Vania dengan berkaca-kaca.
"Iya sayang, akhirnya doa kita terkabul." bisik mami Vania.
Mami Vania memeluk putrinya dengan hati-hati.
"Iya mih,"
Mereka menguraikan pelukannya.
"Tapi, maaf Tante sepertinya Vio harus di bawa ke tanah air."
"Why?"
"Si pendonor tidak ingin meninggalkan adiknya sendirian."
Meski mami Vania tidak ingin Violetta kembali ke tanah air, tapi demi kesembuhan putrinya mami Vania akhirnya mengijinkan Violetta untuk kembali ke Tanah air.
"Baiklah Ken, Tante akan memberikan kabar baik ini kepada om ramon." ijin mami Vania untuk menghubungi suaminya.
Ken mengangguk kepalanya. Dan menatap kepergian mami Vania setelah menghilang di balik pintu kamar.
"Ken,"
"Hem," jawab Ken cepat.
"Terimakasih, kau selalu membantuku," kata Violetta.
"Vio, jangan bilang seperti itu, aku tulus membantumu." ujar
Karena aku ingin melihat mu selalu tersenyum sayang. kata Ken yang bisa di ucapkan dalam hatinya.
Ramon dan Barack merasa senang karena Violetta yang mereka sayangi sudah menemukan pendonor dengan cepat. Meski sebelumnya mereka berdua mencari pendonor yang cocok namun nihil tidak mendapat nya.
"Semoga cocok dan berhasil." seru mami Vania yang baru saja selesai menghubungi suaminya dan Putranya.
"Aminn..." kata mereka bersama-sama.
"Ken, Tante banyak- banyak berterima kasih kepada kamu, di saat putri Tante yang sedan_"
Ken memotong pembicaraan Mami Vania.
"Tante tidak perlu meminta maaf segala seperti itu."
"Ken membantu Vio dengan tulus." Sambung Ken.
Mami Vania mengangguk kepalanya saja. Dan menghapus air matanya karena merasa senang putrinya akhirnya bisa sembuh.
__ADS_1