
33.Violetta Menghilang.
Ema merentangkan kedua tangannya ke atas untuk mengurangi rasa lelah setelah bekerja di depan MacBook beberapa jam membuat nya terasa pegal.
Lalu Ema melirik jam dinding yang menempel di dinding kamarnya.
"Sudah dini hari ternyata," gumam Ema.
Setelah selesai mengecek ulang beberapa laporan yang ia buat lalu mengirimkan ke Email Dave. Setelah di pastikan sudah terkirim Ema menutup MacBook nya.
Lalu Ema melihat CCTV yang ada di kamar Violetta untuk memastikan jika Violetta baik-baik saja.
Ema sengaja memasang CCTV agar mudah memantau Violetta jika terjadi sesuatu. Itu juga Ema meminta ijin kepada keluarganya kecuali Violetta.
Ema menjadi panik saat tidak melihat Violetta di kamar dan ia bergegas menuju kamar Violetta yang tidak jauh dari kamar Ema.
Ema masuk ke dalam dan benar saja Violetta tidak ada di kamar. bahkan Ema mencari di dalam kamar mandi pikir Ema karena Ema melihat kursi roda Violetta masih ada.
Tok,tok,tok,
"Nona apakah Nona di dalam sana?"
Ema tidak bisa mendengar suara apapun di dalam sana.
Ceklek
Ema membuka pintu kamar mandi, namun kosong tidak ada seseorang yang Ema cari, lalu menuju ruang wardrobe tidak ada bahkan mengecek ke balkon kamarnya namun tidak menemukannya.
"Apa dia di ..."
Ema bergegas keluar kamar Violetta lalu membuka pintu kamar Vallery.
Ceklek
Ema membuka pintu kamar Vallery tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ema ada apa?" tanya seseorang yang ada di belakang Ema.
"Bi ... nona vio tidak ada di kamar, Ema pikir ada di kamar Val tapi ..."
Ema membuka pintu kamar Vallery namun tidak ada Violetta di dalam.
"Astaga bagaiman bisa ibu tidak ada di kamar nya Ema?" sahut Bi Lastri yang ikut panik.
"Ema juga tidak tahu Bi, saat Ema lihat ..."
Ema menjedah saat ingin mengatakan jika Ema memantau dari CCTV. Karena Bi Lastri tidak tahu meski Bi Lastri seorang butler atau biasa di kenal Kepala Pelayan di rumah Violetta.
"Dari CCTV? maaf Bi-bi lancang masuk ke kamar Ema tanpa sepengetahuan ..."
Ema membulatkan matanya saat Bi Lastri masuk ke kamarnya dan mengetahui jika Ema memasang CCTV di kamar Violetta. Ema menghela napas dalam-dalam. "Bi ... Bukan waktunya untuk membahas Bibi masuk kamar Ema tapi kita harus mencari nona vio!"
__ADS_1
"Eh iya Ema, kita harus mencari ibu vio dengan segera."
Ema menutup kembali pintu kamar Vallery dan melanjutkan mencari keberadaan Violetta. Ema dan Bi Lastri yang turun lewat anak tangga untuk menyingkat waktu. Padahal ada lift di rumah itu.
Ema dan Bi Lastri tidak menyadari jika ada sepasang mata melihat saat pintu kotak pergi panjang yang bisa bergerak itu terbuka dengan sendirinya.
"Kalian mau kemana?" Kedua wanita ini tersentak kaget mendengar suara bariton saat akan menuruni anak tangga.
Barack melangkah berjalan mendekati mereka berdua. "Kami mencari Nona Vio Tuan." kata Ema menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya Ema dan Bi Lastri saat Barack menggendong Violetta.
"Kalian tidak perlu khawatir, Vio ada bersamaku,"
Ema dan Bi Lastri menghela napas dalam-dalam karena Violetta sudah di temukan. "Syukurlah jika Ibu ada sama Tuan," ujar Bi Lastri.
"Dan lebih baik kembali ke kamar masing-masing, karena ini sudah dini hari."
"Tapi_." Barack memotong ucapan Ema.
"Sudah lebih baik kembali. Aku tidak mau besok kalian bangun kesiangan!" pinta Barack dengan tegas.
Ema melihat wajah Violetta yang begitu pecat sekali tidak seperti sebelum Ema meninggalkan Violetta saat tertidur.
"Nona, sepertinya kedinginan biar Ema bantu untuk memberikan obat Tuan?"
Barack membulatkan matanya kenapa tidak menyadari jika Violetta terlalu lama di luar ruangan membuat wajah pucat pasih. Dan juga Violetta tidak memakai mantel tebal.
"Baik Ema, aku ijinkan kau membantuku."
Barack tahu akan perasaan Violeta pasti ia amat sangat terluka saat masalah datang bertubi-tubi begitu saja dan juga dipaksa untuk melepaskan seseorang yang ada di hidupnya meski sekarang ia memilih wanita lain.
Setelah selesai dengan pekerjaan nya Barack mendatangi kamar sang adik yang berada di ujung ruangan.
Namun, belum sampai kamar adiknya Barack melihat Violetta keluar kamar dengan berjalan tertatih-tatih dan menahan rasa sakitnya dengan berpegang di dinding tembok kamar agar bisa berdiri tegap.
Meski ada kursi roda agar Violetta lebih mudah untuk kemanapun tapi, Violetta ingin merasakan kakinya bisa menampak di lantai kembali.
Dengan napas yang tersengal-sengal Violetta mencoba untuk tetap bisa berjalan meski sangat lamban. Hingga akhirnya tak kuasa lagi membuat Violetta jatuh beberapa kali.
Barack yang melihat dari kejauhan tidak kuasa melihat adiknya yang susah untuk melangkah dengan sedikit berlari kecil Barack menghampiri Violetta agar tidak terjatuh kembali.
Hap
Barack menangkap tubuh Violetta yang akan tumbang.
"Baby, kau mau kemana?" tanya Barack kepada Violetta.
Violetta mendongakkan kepalanya dan melihat wajah kakaknya yang sedikit khawatir.
Violetta tersenyum. "Vio ingin jalan-jalan ke taman kak."
Tanpa protes dan larangan Barack berjongkok membelakangi adiknya.
__ADS_1
"Ayo ,naik ke punggung kakak!" kata Barack dengan menepuk bahu nya
"Tapi kak_"
"Mulai sekarang kemanapun kau ingin pergi kakak yang akan menjadi kakimu," ucap Barack dengan sedikit menahan kesedihannya.
Violetta tidak bisa menolaknya, Violetta akhirnya mau naik ke punggung Barack agar sampai ke area taman yang Violetta inginkan.
Setelah Violetta naik ke punggungnya. Barack kembali sedih karena tubuh sang adik begitu ringan di punggung nya seperti dirinya menggendong Vallery.
"Oh my ... Baby, sakitmu membuat kau kehilangan berat badan mu."
Batin Barack.
Violetta seperti merasakan akan perasaan kakaknya. "Tubuh Vio sekarang ringan iya kak?"
Tes
Barack menitihkan air matanya.
"Tidak Baby, kau masih sama saat kakak gendong dulu," kata Barack mencoba tegar.
Violetta tersenyum tipis. "Kakak jangan bohong, Vio tahu jika tubuh Vio sekarang ringan, bahkan seperti kapas. mungkin jika diterpa angin akan terbang."
Violetta tertawa kecil membicarakan berat badannya.
Barack semakin sakit hatinya adiknya berkata seperti itu.
"Sebentar lagi kau akan sembuh baby, ken sudah menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok untuk mu."
"Bagaimana jika nanti operasi pencangkokan Vio gagal kak?"
"Itu tidak mungkin baby, karena 90% akan berhasil," ucap Barack menyakinkan adiknya.
"Bagaimana dengan 10% nya itu??"
"Kita sudah sampai," kata Barack. Ia tidak menjawab pertanyaan Violetta lagi.
"Terimakasih kak, sudah mau mengantar Vio ke taman."
"Tidak boleh berkata seperti itu. Kau ingin berkeliling dunia kakak pun akan menyanggupi."
Membuat Violetta tertawa. "Kak Bara lucu, kakak saja super sibuk bagaimana bisa menemani Vio."
"Ok, baiklah kakak akan berjanji mulai sekarang jika kakak akan selalu ada di sisi kamu, dan mulai sekarang kakak tidak lagi bekerja di perusahaan Factory lagi. Waktu kakak hanya untuk adikku seorang."
Barack melepaskan mantel nya dan memakaikan ke tubuh Violetta. Namun, Violetta menolaknya.
"Kak Bara saja yang pakai. Vio merasa gerah kak." Elak Violetta.
Meski sebenarnya angin begitu kencang dan dingin.
__ADS_1
Flashback off: