
Ramon Sanchez
"Apa aku boleh bergabung?"
Terdengar suara bariton seseorang yang tidak asing di telinga mereka bertiga.
Violetta menoleh "Ken," pekik Violetta
Kendra tersenyum ke arah Violetta, wanita yang sudah ia cintai sejak dulu. Dan Ken menoleh ke arah gadis cantik berambut panjang
"Hai Val sayang," tanya Kendra kepada Vallery yang duduk di atas koper milik orang tuanya. "Apa aku boleh bergabung?" tanya seseorang dengan mendorong kopernya.
Vallery yang sedang sibuk sendiri dengan bonekanya ikut menoleh. "Om Ken," teriak Vallery.
Gadis cantik yang sedang bermain dengan bonekanya langsung berdiri dan berlari menuju Ken.
Kendra merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Vallery.
"Om Ken, ikut juga ke rumah Oma sama opah," ucap Vallery dengan polosnya.
"Iya sayang," ujar Ken.
Seraya melepaskan pelukannya.
Barack tersenyum saat melihat interaksi antara Ken dengan Vallery.
Andai saja dulu kau berani untuk mengutarakan isi hatimu Ken.
Batin Barack.
Sedangkan Violetta yang masih sibuk memandang handphone nya dan pandangan nya ke penjuru arah menantikan kehadiran Rayan.
"Ayo, kita pergi sekarang!" Ajak Barack.
Membuat Violetta menghela nafas kasar.
Benar apa yang di katakan Barack. Jika, Rayan suaminya tidak akan pernah bisa ikut pergi bersama. Padahal ini adalah acara anniversary kedua orang tuanya Violetta mertuanya sendiri.
"Sini sayang, gendong Uncle saja kasian Om Ken karena kamu berat," seru Barack saat melihat Ken menggendong keponakan nya.
Membuat wajah Vallery cemberut. "Tidak apa-apa Bar, biar Val gendong aku saja." Tolak Kendra saat Barack meminta dirinya menggendong keponakannya.
"Tapi, Ken. Val berat loh dia, sini sayang turun. gendong sama Uncle Bara saja." Bujuk Violetta Kepada putrinya.
"Tidak apa-apa Vio," tutur Ken
Merasa tidak keberatan Ken. Mereka memutuskan untuk segera masuk ke pesawat yang akan membawa mereka ke Singapura.
__ADS_1
Pesawat pribadi milik keluarga Ken. Kendra menawarkan diri untuk pergi bersama menggunakan private jet miliknya. Membuat Barack tidak keberatan.
Rayan mengumpat kesal karena ia harus bangun terlambat. Rayan semalaman memutuskan untuk pergi minum semalam dan akhirnya membuat ia bangun terlambat.
"Shiiitt..."
Rayan bergegas menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya saja. Dan ia kembali ke arah kamar dan mengambil kontak mobilnya.
Dengan tergesa-gesah Rayan pergi.membuat Bi Lastri menatap heran. Karena Rayan tidak biasanya memakai baju yang sama dari kemarin.
Rayan mengendarai mobil nya dengan kecepatan penuh menuju rumah utama.
Rayan menekan telak son mobilnya kepada penjaga rumah agar dirinya bisa masuk.
Penjaga rumah mendekati mobil Rayan dan mengetuk kaca jendela.
Tok,tok,tok
Rayan menurun kaca mobilnya. "Kenapa tidak segera di buka!" Pinta Rayan.
"Maaf tuan, tuan barack dan nona violetta tidak ada di rumah," kata penjaga.
Rayan menarik kerah baju penjaga rumah. "Jangan bercanda kamu iya, hah!"
"Ti- tidak Tuan, memang benar di dalam tidak ada siapa-siapa."
"Lalu kemana mereka?"
"Mereka pergi ke bandara tuan, satu jam yang lalu," ucap penjaga rumah dengan cepat. Rayan mendorong nya. Dengan segera Rayan memundurkan mobilnya dan memutar arah menuju bandara.
Rayan berlari menuju bagian informasi dan menayangkan keberangkatan menuju Singapura.
Lagi-lagi Rayan di buat kecewa, karena tidak bisa menemukan istri dan anaknya.
"Sialan kau Barack," gumam Rayan.
🍃🍃🍃
Tidak butuh lama perjalanan antara Jakarta dengan Singapura menggunakan private jet.
Sopir pribadi keluarga Barack sudah siap menjemput saat private jet akan landing.
Mami Vania dan Papi Ramon Sanchez menyambut kedatangan Violetta dengan yang lainnya di kediaman nya.
Papi Ramon merasa iba saat melihat putrinya kembali. Namun, di saat ia sedang berjuang melawan penyakitnya.
"Putri Papi," ucap Ramaon merentangkan kedua tangannya menyambut Violetta.
"Papi," gumam Violetta.
Mereka saling berpelukan, karena mereka baru di pertemukan kembali.
__ADS_1
"Sabar sayang,papi yakin kau wanita yang kuat." Bisik Ramon.
Tidak kuasa menahan kesedihannya Violetta meneteskan air matanya. Ia menangis sesenggukan di pelukan cinta pertama.
"Maafkan Vio pih." mereka mengurai pelukannya.
"Tidak perlu meminta maaf, papi akan selalu mendoakan kesembuhan mu meski papi tidak berada di samping mu," kata Papi Ramon menghapus air mata putrinya.
"Sudah-sudah mereka pasti capek, apa lagi cucu Oma yang satu ini." Mami Vania memecahkan suasana.
"Tapi, tunggu dulu, dimana suami kamu Vio?" tanya Mami Vania. mencari keberadaan menantu yang tidak pernah Mami Vania restui.
Violetta hanya diam, karena ia tahu jika maminya hanya basa basi menanyakan menantunya.
"Rayan banyak pekerjaan Mih, Pih." jawab Barack mencoba membantu sang adik.
Mami Vania tersenyum mengejek. "Buat apa sih sayang mempertahankan dia. Dia lebih memilih pekerjaan dari pada keluarga."
"Sudah lah Bar, kamu tidak perlu menutupinya, lagian kamu dengan dia satu perusahaan kan? Nyatanya kamu bisa Bar buat datang ke rumah," imbuh mami Vania kesal.
Di suatu perusahaan di dalam ruangan kerjanya. Rayan benar-benar tidak bisa bekerja hari ini.
"Ahhh,"
Rayan tampak frustasi hingga ia berteriak di dalam ruangan nya. Dengan mengacak-acak rambut.
Rayan memilih memutuskan untuk datang ke rumah Dea. Hanya Dea lah yang mampu menyenangkan suasana Rayan.
Dea tersenyum mengejek saat melihat siapa yang telah datang kembali.
"Sudah ku duga kau pasti akan datang kesini lagi," ucap Dea. Seraya menyalahkan pemantik api rokok nya.
Rayan hanya berdiri mematung. Saat Dea mengejeknya.
Dea melangkah mendekati Rayan dan ia meniupkan asap rokok di depan wajah Rayan. Namun, Rayan tidak akan pernah marah apa yang Dea lakukan. yang Rayan butuhkan sekarang adalah Dea.
Rayan menangkap wajah Dea dengan cepat. Dan Rayan mencium bibir Dea dengan kasarnya dan perlahan ciuman mereka saling menuntun satu sama lain. sedangkan Dea menjatuhkan rokoknya ke lantai.
Rayan menyesap bibir seksi Dea. Ini lah salah satu favorit Rayan saat bersama Dea.
Dea tersenyum puas saat Rayan kembali ke pelukan nya. bagi Dea tidak susah menaklukkan Rayan.
Rayan mengendong Dea ala bridal style menuju tempat tidur.
Ntah sejak kapan mereka sudah sama-sama tidak memakai baju sehelai benang pun.
Rayan kembali mencium setiap inci tubuh seksi Dea. Membuat Dea mendesah nikmat saat daerah sensitif nya di sentuh oleh Rayan. Dan juga Rayan tidak lupa meninggalkan tanda kepemilikan di tubuh Dea.
Tanpa menunggu lama Rayan memasukkan adik kecil ke dalam milik Dea. Membuat Dea menjerit kenikmatan saat merasakan sensasi yang membuat ia melayang.
Dea mendesah saat Rayan memaju mundurkan. Rayan tersenyum mendengar Dea mendesah memanggil namanya begitu seksi terdengar di telinga Rayan. Membuat Rayan begitu semangat membuat Dea tidak berdaya hingga mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan.
__ADS_1
Rayan akhirnya tumbang saat melakukan beberapa kali. Dan ia tidak lupa mengecup bibir, kening dan pipi Dea sebagai tanda terimakasih.
Dea tidak merespon karena ia begitu lelah melayani Rayan beberapa kali. Hingga akhirnya mereka sama-sama tumbang dan tertidur saling berpelukan.