Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
46. Mencoba Untuk Bunuh Diri


__ADS_3

46 Mencoba Untuk Bunuh Diri


Niat hati ingin pulang ke apartemen untuk menenangkan diri. Namun yang ada Dea selalu menganggu nya. Rayan masuk ke kamarnya dan kembali keluar.


Sedangkan Dea masih menunggu Rayan di ruang televisi.


Dea tersenyum saat melihat Rayan kembali keluar kamar. Dan mendekatinya. Rayan ikut duduk di samping Dea.


"Dea, ada yang ingin aku bicarakan."


"Apa, bicara saja aku pasti akan mendengarkan nya ko," ujar Dea seraya menoleh ke samping.


"Aku minta pulang lah kamu kerumah!"


Deg


"Apa, pulang kerumah?" Pekik Dea.


"Ya," jawab Rayan singkat.


"Ta-tapi disini bukanya rumah aku juga Ray?" kata Dea dengan memegang tangan Rayan Dea berharap jika Rayan tidak jadi mengusirnya.


"Bukan."


"Why?"


Rayan menghela napas dalam-dalam. "Aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini, jadi aku mohon pergilah dari rumah ini!"


Rayan telah menyesal menyakiti Violetta. Apa lagi Violetta sekarang sedang berjuang di meja operasi. Rayan merasa bersalah maka dari itu Rayan ingin hubungan terlarang dengan Dea berakhir sekarang. Dan Rayan ingin memperbaiki hubungan nya dengan Violetta dan berharap bisa kembali lagi.


Deg


Dea mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Rayan.


Dea menggelengkan kepalanya. "Tidak Ray, kamu pasti sedang bercanda kan?"


"Aku serius, pergilah dari rumah ini, aku menyesal telah menyakiti vio,aku hanya ingin kembali dengan nya," gumam Rayan dengan melepaskan tangan Dea.


Aku sudah melangkah sejauh ini dan membuat kamu akhirnya berpisah dengan Violetta, aku tidak akan pernah melepaskan mu Ray, tidak semudah itu kau kembali ke pelukan Vio.


Batin Dea.


Dea berdiri dihadapan Rayan. Ia mengambil vas bunga dan memecahkan nya.


Prang...


Rayan menoleh betapa terkejutnya saat pecahan vas tersebut ada di tangan Dea dan mendekatkan ke lehernya.


Dea tersenyum. "Baik, jika kau ingin hubungan ini berakhir, setidaknya kau bisa melihat kematian ku di hadapan mu," tegas Dea.


"Dea apa-apa an kamu, kau sudah gila?" bentak Rayan seraya melangkah mendekati Dea untuk tidak bunuh diri.


Dea tertawa terbahak-bahak melihat Rayan yang membentaknya "Ya, aku sudah gila karena kau Ray," teriak Dea.


"Dea aku mohon jangan lakukan ini, kita bisa bicarakan baik-baik."Rayan semakin mendekati Dea dengan sangat hati-hati.


Sedangkan Dea melangkah mundur hingga dirinya terbentur tembok.


"Jangan mendekat."

__ADS_1


"Jangan mendekat," kata Dea dengan kata yang sama dengan tangan yang masih memegang pecahan vas.


Rayan tidak mempedulikan perintah Dea ia tetap melangkah mendekati Dea agar tidak melakukan tindakan yang melukai dirinya.


"Aku bilang jangan mendekat!" Teriak Dea lagi. Kini Dea menyerang Rayan dengan Dea menodongkan pecahan vas ke hadapan Rayan.


Rayan mengangkat tangan nya. "Ok, ok aku tidak akan mendekat tapi aku mohon kita bisa bicara baik-baik." Bujuk Rayan kepada Dea.


Melihat Dea terdiam Rayan dengan segera memegang tangan Dea dan membuang pecahan vas yang ada di tangan nya.


Rayan sangat berharap jika Dea bisa di bujuk. Ia menuntun Dea kembali untuk duduk.


Saat sudah duduk Dea menangis memeluk tubuh Rayan.


"Maafkan aku, tapi aku tidak ingin berpisah dengan mu Ray. Aku sangat mencintai mu." lirih Dea dalam pelukan Rayan.


"Iya, aku maafkan kamu, tapi aku mohon jangan pernah lakukan hal gila lagi!" Bisik Rayan.


Dea hanya mengangguk kepalanya saja dan mengurai pelukannya.


"Janji kamu tidak boleh pergi."


"Ya aku janji."


"Terimakasih." Dea kembali memeluk Rayan kembali dan menghapus air mata nya.


Hampir saja aku terluka tapi setidaknya Rayan akan selalu luluh dengan ku


Batin Dea.


--------------------&&&&&&------------------------


Namun kali ini Violetta melakukan dengan cara allogenik dimana Violetta melakukan pencangkokan dari orang lain.


Beruntung setelah melakukan tes silang dengan pendonor dan Violetta sangat beruntung karena cocok dengan pendonornya.


Perawatan memindahkan Violetta keruangan pemulihan setelah melakukan tindakan operasi.


Keluarga Sanchez dan Walker merasa lega setelah melihat Violetta keluar dari ruangan bedah sentral.


Mami Vania dan momy Casandra saling berpelukan.


Mereka mengurai pelukannya saat Dokter Ben keluar dari ruangan dan mendekati mereka.


"Tuan Sanchez, saya ingin berbicara dengan Anda."


"Baik Dok," jawab Ramon Sanchez.


Ramon melirik kepada istrinya jika ia harus ikut dengan dokter Ben.


"Pergilah pih, biar mami yang menjaga Vio."


Karena tidak ada Barack Ramon mengajak Daniel Walker untuk menemani dirinya.


"Daniel, bisa kau menemani ku bertemu Dokter Ben?"


"Tentu saja, dengan senang hati." kata Daniel Walker.


"Dady, uncle mau kemana kalian?" tanya Ken saat ia baru datang dan melihat Dady nya pergi.

__ADS_1


"Dady ingin menemani Ramon untuk bertemu Dokter Ben, kau lebih baik temani mommy kamu yang akan menjaga Violetta."


"Apa operasi nya sudah selesai?" ujar Ken.


"Sudah Son, lima menit yang lalu pergi lah temani dia!"


Ken tidak langsung pergi ia menatap kedua pria paru baya hingga hilang di balik tembok rumah sakit.


Setelah kepergian Daniel dan Ramon Ken menyusul dimana Violetta berada. Namun sebelum keruangan pemulihan Violetta Ken merogoh kantong jas nya dan menghubungi Emma.


"Hallo Tuan," sapa Emma.


"Pergilah dan lihat bagaimana kondisi yang sudah mendonorkan untuk Violetta!"


Sebelum menjawab panggilan telepon terputus begitu saja membuat Emma menghela napas panjang. "Untung dia atasan," gumam Emma.


Emma yang masih duduk di cafe setelah kepergian Ken terlebih dulu.


Emma bangkit dari tempat duduknya dan pergi dari kafe itu dan menemui pendonor Violetta.


Di tempat yang berbeda.


"Uncle, Val ingin bertemu Dady."


Barack menyeru keningnya saat keponakannya ingin bertemu Rayan.


"Val, ingin bertemu Dady?"


"Iya Uncel."


"Dady sibuk Val sekarang, bagaimana jika kita pergi ketempat lain saja?"


Vallery menundukkan kepalanya. "Val ingin bertemu Dady." lirihnya.


Barack berpikir sejenak untuk memberikan alasan agar Vallery tidak bertemu Rayan. Namun, yang ada Vallery sedih. Membuat Barack tidak tega dengan keponakan nya.


"Baik, lebih baik kita hubungi Dady dulu ok."


Vallery mengangguk kepalanya.


Barack mengambil handphone nya dan mencari nomor Rayan dan menghubungi nya.


"Hallo Ray, Val ingin berbicara dengan mu." kata Barack.


Barack menyerahkan handphone nya kepada Vallery.


"Hallo Dady."


"Hallo sayang."


"Dady dimana? Kenapa tidak menemani mommy dan Val?"


Rayan merasa binggung harus menjelaskan kepada putrinya Kenapa tidak menemani Violetta.


"Dady kenapa diam?"


"Maafkan Dady sayang, Dady sedang di luar kota sekarang, sudah dulu ya sayang, Dady sibuk."


Tutututut...

__ADS_1


Rayan menutup teleponnya begitu saja. Sebelum Vallery menjawabnya.


__ADS_2