
56. Kegundahan Angelina
Angelina kembali ke mansion perasaannya Angelina kembali ceria setelah ia merasa sedih karena Ken mengacungkan nya.
Daniel yang melihat istrinya pulang merasa heran. Karena biasanya istrinya akan berwajah murung setelah bertemu putra semat wayangnya.
"Mom, bagaimana apa ken sudah tidak membuat Mom sedih lagi?" tanya Daniel yang penasaran. Seraya menarik kursi makan untuk istrinya duduk.
Angelina menggelengkan kepala nya.
"Apa Mom habis mendapatkan arisan sosialita Mom? atau Mom habis shoping lagi?"
Angelina menggelengkan kepalanya kembali.
"Lalu apa?" imbuh Daniel.
Angelina menoleh dan menatap wajah suaminya sejenak yang penasaran.
"Dad, Mom sedih karena ken tidak mau mendengar perkataan Mom, hingga Mom harus berbohong," lirih Angelina dengan raut sedih karena harus berbohong.
"Mom, apa yang sebenarnya terjadi hingga Mom harus berbohong?"
Daniel mendesak dengan menggenggam tangan istrinya untuk menunggu penjelasan dari nya.
Angelina menceritakan semua kepada Daniel suaminya ketika ia berada di rumah Ken. Dan putranya malah meninggal Angelina hingga harus berbohong pada putranya.
"Astaga Mom, Dad masih sehat," Daniel menolak keras karena dirinya di beritakan sakit keras di negara sakura.
"Maafkan Mom Dad, hanya itu yang terlintas di benak Mom agar ken mau mendengarkan Mom." Angelina merasa bersalah dengan menundukkan kepala nya.
Daniel hanya menghela napas kasar ia tidak bisa marah kepada istrinya.
"Sudah Mom tidak salah, Dad tidak apa-apa, biar Dad saja yang berbicara dengan ken."
Angelina mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya, Karena tidak marah kepadanya.
"Apa Dad tidak marah?"
"Kenapa harus marah kepada istri sendiri. Ayo lebih baik temani Dad makan dulu! "
Angelina menganggukkan kepala nya.
🍃🍃🍃
Di belahan negara lain. Seorang wanita cantik yang tengah menatap layar handphone nya.
"Maafkan aku," lirihnya.
"Kamu tidak bersalah baby, ini demi kebaikanmu," sahut seseorang dengan suara beratnya yang kini ada di dalam ruangan yang sama.
Dengan segera menghapus air matanya yang sempat menetes.
"Kakak kapan datang?"
__ADS_1
"Sejak kamu sedang bertelepon dengan aunty angelina."
"Vio, apa kamu merindukan ken?" tanya Barack kepada adiknya.
Violeta hanya bisa diam. Ia tidak bisa mengungkapkan perasaan nya kepada kakaknya tentang Ken.
Barack melangkah semakin mendekati adiknya. Barack tahu Violeta tidak ingin membahas Ken Wallker lebih jauh dengan melihat raut wajah sedihnya.
"Emma bilang kamu belum minum obat?" tanya Barack dengan mengalihkan pembicaraan.
"Iya kak, nanti Vio akan meminum nya." jawab Violeta dengan nada lembut.
Namun Barack lebih memilih untuk mengambilkan obat untuk adiknya dari pada mendengarkan adiknya meminum nya nanti. Barack takut jika nanti adiknya akan lupa.
Barack mengambil obat dan gelas berisikan air putih dan menyerahkan kepada violeta.
"Kak, Vio bilang_"
"Lekas minum nanti kamu lupa dan segera istirahat agar kamu cepat pulih." kata Barack memotong ucapan violeta.
Violeta menghela napas berat dan terpaksa menuruti perintah kakaknya.
Violeta menerima obat dan meminum nya setelah itu Barack menyerahkan gelas berisikan air kepada nya.
"Good baby," kata Barack mengusap puncak kepala Violeta dengan gemes. Hingga membuat Violeta kesal.
"Kakak, Vio bukan anak kecil lagi." ucap Violeta kesal sembari menyerahkan gelas kepada kakaknya.
"Istirahat lah kakak akan menemui papi dulu,"
Violeta mencegah Barack untuk pergi dari kamarnya.
"Kak, jangan pergi! " pinta violeta kepada Barack yang hendak melangkah pergi.
Barack menoleh dan tersenyum, ia tahu adiknya jika ad dirinya selalu ingin di temani olehnya. "Kakak cuma bentar nanti kembali lagi. "kata barack.
"Tapi, kak.please... "
Violeta menangkup kan kedua tangan nya memohon dengan memainkan pupy eyes membuat Barack selalu luluh dengan adiknya itu.
"Baik lah karena ad kakak disini maka permintaan princess akan di kabulkan."
"Terimakasih kak, Vio sayang kakak, " bisik violeta seraya memeluk erat tubuh Barack.
"Kakak juga sayang," jawab Barack dengan mengurai pelukannya. Dan mengecup pucak kepala violeta.
Selama tinggal di negara sakura Violeta lebih banyak diam dan menyendiri. Membuat Barack yang mendengar kabar adiknya ikut merasakan sedih.
Barack tidak bisa ikut untuk tinggal dan menjaga Violeta seperti dulu. Karena Barack kini harus meneruskan perusahaan orang tua nya yang berada di negara yang di juluki Negeri singa.
Barack menemani violeta yang tengah tertidur di samping nya dengan tangan barack yang tak hentinya mengelus rambut violeta yang kini mulai tumbuh.
Barack merasa bersyukur adiknya seorang wanita yang kuat sampai detik ini.
__ADS_1
Barack mengingat kembali perjuangan adiknya satu tahun yang lalu. Saat mendengarkan penjelasan dari Emma dan orang tuanya.
Flashback
"Tuan, nyonya Sanchez kalian sudah datang." sahut seseorang dari arah belakang mereka.
Sepasang suami istri itu menoleh ke belakang dimana sumber suara yang memanggil mereka.
"Emma," gumam mereka berdua.
Melihat Emma yang nampak terlihat kelelahan dan sedang mengatur napasnya yang sedikit tersengal.
"Kamu dari mana? Kenapa tidak menjaga Violetta disini dan itu_" ucapan Ramon Sanchez terpotong.
"Maafkan Emma Tuan, Emma habis mengejar seseorang yang mencoba melukai nona vio."
"Apa," pekik mereka berdua.
"Emma lebih baik kamu duduk dulu dan kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?"
Emma duduk di kursi yang ada di sekitar mereka. Setelah merasa lebih baik Emma mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Beruntung ruangan seteril Violetta terdapat alaram hingga perawat bergegas datang tepat waktu. Namun seseorang itu sudah masuk ke dalam ruangan seteril tanpa prosedur yang berlaku.
"Tidakk..." Mami Vania histeris mendengarkan Emma bercerita tentang keadaan nya Violetta.
Tidak hanya Vania suaminya Ramon yang sempat murka mendengar cerita Emma ingin sekali menghabisi nya. Beruntung Emma bisa menenangkan nya di saat Ramon hendak berdiri dan menemui pelakunya.
"Tuan tidak perlu khawatir, karena pelaku sudah Emma lumpuhkan." kata Emma.
"Terimakasih jika tidak ada kamu ntah bagaimana vio nanti."
Flashback off:
"Kakak sangat bersyukur jika kamu di kelilingi oleh orang baik, terutama om daniel yang banyak membantu. meski kakak dan mami tidak setuju dengan keputusan om daniel tapi akhirnya kamu bisa selamat dari kematian," gumam Barack.
Meski violeta memejamkan matanya namun ia masih bisa mendengarkan curahan sangat kakak.
Tes...
Air mata violeta menetes begitu saja di pipi mulusnya. Meski harus mengorbankan cinta nya kepada Ken, ini keputusan yang harus di ambil keluarga violeta dengan mengikuti skenario Daniel walker agar violeta terbebas seseorang yang menginginkan nyawa violeta.
"Maafkan kami ken, kamu pasti sangat kehilangan Violeta selama ini."
Batin Barack.
Percintaan sangat adik harus di korbankan demi keselamatan nya.
"Kakak berjanji akan segera membawa ken untuk bertemu dengan mu baby," lirih Barack karena melihat adik nya sudah tertidur Barack mengecup pucak kepala sebelum meninggal Violeta.
Cup
"I love you."
__ADS_1