
57. Kepergian Rayan
Seseorang yang sedang duduk menunggu untuk sarapan bersama seperti biasanya. Ia terperanjat saat mendengar suara pintu di banting.
Saat hendak ingin bangkit dan menuju sumber suara. ia mengerutkan keningnya nya saat melihat Rayan menarik kopernya.
"Kau mau kemana pagi-pagi sudah bawa koper?" tanya Dea.
"Bukan urusan mu," kata Rayan dingin dan tidak mempedulikan Dea yang ada di dekatnya.
Dea tersenyum miring saat Rayan berkata. 'Aku ini calon istrimu Ray, so aku berhak tau kamu mau pergi kemana."
Rayan berhenti sejenak dan membalikkan badannya. "Mulai detik ini kamu bukan siapa-siapa aku, jadi aku mohon kepada-Mu Dea jangan pernah berharap apapun kepada ku." tegas Rayan.
"Tidak Ray," Dea menggelengkan kepala nya tidak mau jika hubungan dengan Rayan harus berakhir.
"A-aku tidak mau berpisah dengan mu, Aku mohon sama kamu Ray," Dea memohon agar Rayan tidak meninggalkan nya. Dengan langkah cepat Dea bersimpul di depan Rayan.
"A-aku mohon berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahan ku. Aku janji akan membantu mu mencari Vallery."
"Aku tidak butuh janji kamu, kesalahan kamu terlalu besar Dea,"
"Aku masih bisa memaafkan mu dengan perceraian ku dengan violeta, tapi tidak dengan cara kamu menyuruh seseorang untuk membunuh violeta. Bisa saja Aku melaporkan kelakuan mu ke pihak berwajib sekarang juga." imbuh Rayan yang sudah terlalu kecewa dengan Dea.
"Minggir jangan halangi aku pergi mencari putriku. "
Rayan pergi begitu saja meninggal Dea yang tengah menangis.
"Aku tidak ada niat untuk membunuh mantan istrimu Ray, jika saja kau mau menikah dengan ku. " teriak Dea berharap Rayan mau mendengarkan nya. Namun yang ada Rayan sudah tidak peduli lagi dengan Dea.
Yang Rayan pikirkan saat ini adalah mencari keberadaan putrinya. Sejak pemakaman violeta Rayan tidak pernah bertemu kembali. Bahkan ini sudah satu tahun lebih.
Rayan merasa sangat bersalah, seandainya waktu bisa di putar kembali, mungkin ia tidak akan mengkhianati violeta dan tidak membuat masalah di saat pemakaman mantan istrinya di depan putrinya sendiri. Tidak hanya itu saja Rayan merasa menyesal saat putra tunggalnya ingin bertemu dengan nya Rayan malah menolaknya dengan berbagai alasan.
"Kamu dimana sayang, maafkan Dady sayang," gumam Rayan saat sudah berada di dalam mobilnya.
__ADS_1
Kini yang ada di pikiran Rayan hanya mencari keberadaan Vallery di negara Singa. Rayan menduga jika putrinya selama ini tinggal di Singapura. Karena Rayan sudah beberapa kali mendatangi kediaman Violeta saat masih tinggal bersama dan mendatangi mansion sanchez juga namun nihil Rayan tidak menemukan keberadaan putrinya.
Sedangkan Dea yang di tinggal sendirian oleh Rayan ia menangis sejadi-jadinya.
"Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja ray, aku harus menyingkirkan bocah tengil itu seperti aku melenyapkan wanita itu." teriak Dea dengan berlinang air mata.
"Ha... ha... ha... "
Flashback:
Setelah mereka berdua di usir dari pemakaman violeta. Rayan tidak langsung pergi ia lebih memilih untuk menunggu Vallery.
Setelah melihat kedatangan Vallery bersama Emma dan Barack menuju mobil mereka.
Rayan tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Val, sayang maafkan Dady," ucap Rayan menatap putrinya dengan berkaca- kaca.
Namun Valery tidak mempedulikan Rayan yang terus menerus untuk meminta maaf kepada nya.
"Baiklah sayang, ayo kita pulang." jawab Barack.
Barack mengendong Vallery dan melewati Rayan. Namun Barack sedikit berbisik. "Kau sudah membuat keponakan ku kecewa Ray."
Rayan menelan ludahnya mendengar bisikan Barack. Karena ia tahu Barack merasa kecewa dengan nya setelah melukai perasaan Vallery.
Setelah kepergian mereka bertiga Rayan tidak sengaja melihat Dea sedang bersama dengan seseorang yang sangat misterius.
Rayan mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Dea.
"Kerja Bagus, akhirnya penghalang untuk mendapatkan Rayan sudah selesai. Sesuai janji ku tempo hari," kata Dea dengan menyodorkan amplop berwarna coklat kepada seseorang yang di duga seorang preman bayaran.
"Jika butuh bantuan lagi, kamu tahu kan harus cari siapa."
Dea menoleh ke kanan dan ke kiri ia takut jika ada yang melihat dirinya.
__ADS_1
"Iya, sudah sanah pergi," ujar Dea.
"Dea, apa-apa an ini, siapa yang di maksud penghalang!"
Dea menoleh dan terkejut melihat Rayan sudah ada di belakang nya.
Bukan nya menjawab Dea malah tanya balik kepada Rayan. "Ray, kamu disini? Sejak kapan?"
"Itu tidak penting sekarang jelaskan ada apa ini? "
"Tidak ada Ray, ayo lebih baik kita pulang," ajak Dea menarik Rayan masuk kedalam mobil. Namun Rayan mendorong Dea ke dinding mobil lalu mencengkram wajahnya.
"Katakan jika tidak, rekaman yang aku rekaman ini." Rayan menunjukan handphone nya kehadapan Dea. "Akan aku laporkan kepolisi jika kau tidak berkata jujur." ancam Rayan kepada Dea.
"Tidak Rey, ak-aku tidak melakukan apapun jadi buat apa kau mau melaporkan ku kepolisi?" elak Dea.
"Cuih... Masih saja mengelak,"
Tanpa basa basi Rayan menarik Dea dengan paksa.
"Lepas Ray, sakit."
Namun Rayan tidak mendengarkan nya ia tetap menyeret Dea untuk masuk kedalam mobil.
"Baik, tapi tolong lepaskan aku dulu,"
Rayan melepaskan tangan Dea sedangkan Dea mengelus tangan nya yang sakit.
"Aku akan berkata jujur tapi aku minta jangan disini."pinta Dea.
Rayan menyetujui permintaan Dea. Setelah mereka sampai di apartemen Dea menceritakan jika ia telah menyuruh seseorang untuk membunuh violeta. Namun Dea meminta agar dirinya tidak di penjara karena sudah berkata jujur.
Flashback off :
"Aku harus secepatnya menghapus rekaman itu, aku tidak mau jika harus masuk penjara." gumam Dea dengan bergedik ngeri.
__ADS_1