Ku Lepas Kau Dengan Bismillah

Ku Lepas Kau Dengan Bismillah
25. Bertemu Vallery


__ADS_3

25. Bertemu Vallery


"Tante tidak perlu meminta maaf segala seperti itu."


"Ken membantu Vio dengan tulus," sambung Ken.


Mami Vania mengangguk kepalanya saja. Dan menghapus air matanya karena merasa senang putrinya akhirnya bisa sembuh.


Tidak henti-hentinya mami Vania mengucapkan terima kasih kepada Ken.


"Ken ... Tante banyak hutang budi sama kamu,Tante sangat berterima kasih sekali."


"Tante, Ken mohon jangan seperti itu, Ken tulus membantu Vio, jangan pernah anggap ini sebagai hutang budi. Ken tidak suka Tante," jelas Ken kepada mami Vania.


Ramon Sanchez merasa senang saat di hubungi oleh istrinya jika Kendra putra dari Daniel Walker memberikan kabar baik. Jika, Violetta akan mendapatkan Donor Sumsum tulang belakang.


Mendengar kabar tersebut, Ramon memilih untuk menyerahkan semua pekerjaan kepada asisten nya sky dan memilih untuk pergi kerumah sakit di mana putrinya tengah di rawat.


Begitu juga dengan Barack mendengar kabar baik dari sang mami.


"Papi," sapa Barack saat sampai di parkiran rumah sakit berbarengan dengan Papi Ramon yang baru saja sampai.


Roman hanya tersenyum melihat putranya yang baru datang.


"Papi senang Bar saat di kasih tahu mami, makanya papi langsung ke sini."


"Bara juga pih, meski tadi Vallery merengek masih ingin jalan-jalan lagi," ujar Barack.


"Dimana cucu papi Bar?" tanya Ramon, karena tidak melihat Vallery bersama Barack saat putranya baru saja keluar dari mobilnya.


"Val disini Opah, Uncle kenapa tidak membangunkan Val." Vallery memajukan bibirnya.


Barack menepuk keningnya saat menyadari Vallery yang ketiduran di dalam mobilnya. Dan baru menyadari saat papi Ramon menanyakan Vallery.


"Maafkan uncle sayang, uncle malah asyik ngobrol sama opah," seru Barack meminta maaf kepada gadis cantik berambut panjang.


Ramon berjongkok mensejajarkan tinggi badan Vallery. "Aduh cucu opah, maafkan opah iya, karena opah ngajak Uncle berbicara jadi lupa sama Val."


Vallery melipatkan kedua tangannya ke depan dadanya dengan membuang tatapan wajah nya ke sembarang arah.


"Itu bukan lupa tapi sengaja dilupakan," ucap Vallery asal.


Membuat Ramon dan Barack tertawa renyah melihat gadis cantik didepan nya.


"Ok,ok Opah minta maaf iya sayang,"


Vallery nampak berpikir keras untuk memaafkan orang dewasa didepan nya.


"Baik, Val maafkan. Tapi ..." Vallery mengetuk-ngetuk jati telunjuknya di dagunya.

__ADS_1


"Tapi apa Val?" tanya Ramon kepada Vallery. Karena Ramon tidak tahu apa yang akan di sampaikan cucunya itu.


"Opah akan mengabulkan permintaan Val," kata Barack. Karena Barack tahu permintaan Vallery banyak sekali jika mendengar penjelasan Vallery.


"Serius uncle?"


Barack mengangguk kepalanya.


"Yeah, terimakasih Opah." Vallery berlari kegirangan. dan Vallery memeluk Ramon untuk memberikan ciuman di pipi Ramon. Sedangkan Ramon menatap Barack dengan penuh tanda tanya.


Barack hanya tertawa kecil saat Papi nya merasa kebingungan mencari penjelasan darinya atas permintaan cucu kesayangannya itu.


🍃🍃🍃


Ken tidak henti-hentinya menatap Violetta yang tengah di suapi oleh mami Vania. Violetta nampak jauh lebih baik dari sejak masuk ke dalam rumah sakit. Meski wajah Violetta pucat, dan kurus kering. namun masih tetap terlihat cantik di mata Ken.


Teruslah tersenyum Vio, meski perasaan dan hatimu sedang tidak baik-baik saja. Aku akan selalu menghibur dan tetap ada berada di sisimu sampai kapan pun


Batin Ken.


Tuhan ... Aku harus bagaimana, harus kah aku senang atau sedih mendapatkan kabar ini di saat hatiku sedang hancur. Tapi, aku harus tetap berjuang demi malaikat kecilku yang masih membutuhkan kasih sayang dari ku.


Batin Violetta.


Meski Violetta sedang tertawa di saat sela-sela mami Vania menyuapinya namun batinnya tersiksa akan masalah yang sedang di alami.


"Mommy ..."


Vallery masuk kedalam kamar rawat Violetta tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. dan di susul Barack dan Ramon di belakang Vallery.


Violetta dan Mami Vania menoleh ke arah sumber suara.


"Val sayang ..." pekik Violetta merentangkan kedua tangannya untuk menyambut putrinya yang beberapa hari tidak bertemu.


"Val kangen mommy," kata Vallery.


"Mommy juga," bisik Violetta.


Ingin rasanya Violetta menumpahkan air matanya saat memeluk putri cantiknya. Vallery lah yang membuat Violetta masih bertahan untuk saat ini.


Semua orang merasa terenyuh melihat ibu dan anak yang sedang berpelukan.


"Semoga kalian bahagia," lirih Barack melihat adik dan keponakannya.


Sedangkan Mami Vania melirik ke arah suaminya yang ada di sampingnya. Menyadari akan istrinya Ramon memeluk tubuh istrinya dari samping.


"Mami senang Vio bisa sekuat itu."


"Dia kan putri papi," gumam Ramon. Namun mami Vania mencubit pinggang suaminya hingga Ramon mengadu kesakitan.

__ADS_1


___________________


Berbeda di belahan negara lain. Rayan meninggalkan Dea di rumahnya.


Setelah kepergian Rayan Dea berpikir untuk jalan- jalan mengelilingi rumah mewah Rayan.


Dea menatap salah satu kamar yang menurutnya paling besar di antara kamar-kamar yang lain.


"Apa ini kamar Rayan dengan dia," gumam Dea.


Dea membuka pintu kamar dan melangkah masuk kedalam kamar tersebut.


Dea tercengang melihat kamar yang begitu besar dan mewah.


Dea mengusap tempat tidur di pinggir kasur. Kemudian Dea duduk di atas kasur dan matanya menatap sekeliling kamar tersebut.


"Tidak lama lagi kamar ini akan menjadi kamarku."


Dea mengambil foto Rayan dengan keluarga kecilnya dan menatap nya dengan tidak suka. Karena nampak sekali jika Rayan begitu mencintai istrinya.


"Nona anda sedang apa di kamar ini?" tanya Bi Lastri dengan dingin.


Dea terkejut mendengar suara seseorang. Dengan reflek Dea menjatuhkan bingkai foto yang tadi ia pegang.


"Maaf, aku hanya ingin lihat-lihat saja," kata Dea dengan tatapan malas.


"Tapi, anda sudah lancang masuk kamar ini tanpa ijin terlebih dulu," seru Bi Lastri.


Dea hanya tersenyum miring mendengar penuturan Bi lastri. Dea melangkah untuk keluar dari kamar. Namun saat berhadapan dengan Bi Lastri.


Dea berbisik, "Ingat sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya dirumah ini."


"Itu tidak akan pernah terjadi," ucap Bi Lastri cepat.


Dea menghentikan langkahnya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku tangannya memerah.


"Aku tidak akan pernah kalah hanya seorang asisten seperti dia." gumam Dea.


Dea melanjutkan langkahnya dan keluar dari kamar Rayan dan Violetta dengan wajah marah padam.


Aku harus hati-hati dengan nya, awas saja nanti jika aku menjadi nyonya disini.


Batin Dea.


Dea menutup pintu kamar dengan sangat keras.


Hingga membuat Bi Lastri sedikit melonjak karena terkejut.


"Belum juga menjadi nyonya dirumah ini sudah belagu," ucap Bi Lastri sinis

__ADS_1


"Amit-amit jangan sampai nona Vallery punya ibu tiri model nenek sihir."


Bi Lastri bergedik ngeri membayangkan Vallery mempunyai ibu seperti Dea. Dengan segera membuang pikiran negatif dan Bi Lastri kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


__ADS_2