Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 10 : Mr. Coolkas


__ADS_3

Lembayung senja menyapa, menemani perjalanan pulang raga yang lelah, penat, seharian memeras tenaga, waktu, dan pikiran, namun tidak begitu dengan Celia, hari ini ia harus kembali lembur pulang malam, mengerahkan sisa-sisa tenaga dan semangat mudanya, yang muda yang bekerja.


Ibu Kasubbag memintanya untuk ikut rapat di Bagian Persuratan. Rapat baru di mulai pukul 18.30 WIB, dan selesai pukul 20.00 WIB. Saat akan pulang, beberapa temannya mengajak Celia untuk keluar mencari makan malam.


"Kuy jalan, cari di sebelah mall aja, banyak kuliner malam kan disana." salah satu teman yang bernama Dian memberi usul.


"Ayok, boleh lah, deket tinggal jalan kaki." Yang lain menambahi.


"Eh, itu mas Alim ikut nggak?" Untuk orang yang satu ini Celia belum begitu mengenalnya, ia juga belum pernah bicara dengannya, itu karena Alim memang terkenal pendiam, dia tidak suka banyak bicara. Pria jebolan Sarjana Tekhnik ini adalah andalan Bagian Persuratan, meskipun terkenal pendiam dan cuek tapi kemampuannya tak bisa diragukan, ditambah lagi dengan statusnya yang sudah pegawai negeri.


Sembari menunggu yang lain bersiap-siap, Celia iseng memainkan komputer milik temannya.


"Mbak Dian, Celia pinjem PC nya ya, Celia nyalain nih." Celia menekan tombol power pada CPU.


"Yaelah, kaku amat lo Cel kaya kanebo kering, pake tinggal pake aja segala ijin." Emang nggak takut kalo ada privasinya ini orang.


Celia membuka webcam lalu iseng berfoto disana, hingga si pemilik menyadari apa yang dilakukan Celia dan akhirnya mereka berdua malah asik haha hihi berfoto-foto ria. Alim yang mendengar kehebohan mereka berdua, sesekali melihat ke arah dua gadis itu, sambil tersenyum tipis, setipis kulit bawang.


Tak berhenti disitu, menyadari bahwa Alim melihat ke arah mereka, Celia dan Dian justru dengan isengnya memutar komputer agar sedikit menyerong dan bisa menangkap gambar Alim di dalamnya, setelah itu mereka kembali berfoto dengan Alim sebagai backgroundnya.


"Mas Alim, ayok lah photo-photo sini, gaya dikit lah, ciisssss." Mba dian sengaja memancing Alim, namun nihil, orang yang dipancing hanya tersenyum menanggapi.


"Mas Alim ko diem aja mbak? Dingin kaya kulkas, hihi peace." Celia berani sekali kamu ngatain anak orang kaya kulkas.


"Wah parah lo Cel, nangis ntar mas Alim lo ceng-cengin, woi mas Alim, dikatain kaya kulkan nih sama Celia, katanya mas Alim dingin kaya kulkas." Mbak Dian mengadu.


"Nggak ko mas...mas Alim itu cool ... coolkas maksudnya, hehe, bercanda mas, mas alim nggak marah kan ya?, kita kan teman." Percaya diri sekali Celia, mengikrarkan kata teman secara sepihak.

__ADS_1


"Apaan sih, kalian berdua nggak jelas." Alim lagi-lagi hanya menjawab singkat tapi sambil tersenyum tipis.


"Eeeeh ... udah ... udah, ini anak perawan malah pada godain cowok. Ayok jadi makan diluar nggak ni?" Mbak Okta menghentikan aksi tak natjkal kedua gadis itu.


"Hyaaa .. ayuk lah let's go!ⁿ." Celia segera mematikan komputer milik Mbak Dian dan beranjak mengikuti yang lain keluar.


Celia bersama dengan enam orang rekan kerjanya termasuk Alim, berjalan masuk ke dalam mall yang letaknya persis disebelah kantor. Mereka berjalan terus hingga tembus ke pintu keluar mall disisi timur lalu keluar dan menyusuri trotoar, disitulah ada banyak sekali kuliner malam berjejer menggoda iman menggugah selera para pejuang diet.


Celia dan teman-temannya memutuskan untuk makan di sebuah tenda makan tahu tek.


"Cel, kamu pesen apa?" Mba Okta yang bertugas untuk order makanannya.


"Celia mau tahu telur aja mbak, lagi beneran laper, minumnya es jeruk ya mbak."


"Nih Cel minum." Mba Dian mengambil air kobokan entah dari meja sebelah mana dan meletakkannya di depan Celia.


"Idiiih, emangnya Celia manusia apapun minumnya air kobokan, buat mba Dian aja, Celia ikhlas." Celia memanyunkan bibirnya.


"Eh liat deh, si Alim ketawa loh, cie ... cie ... ketawanya sambil memandang Celia, Ehm roman-romannya bakal ada yang cinlok nih." Mba Okta menjadi sumbu kompor memancing reaksi yang lainnya.


"Mas Alim mana mau mba, orangnya cool begitu, coolkas." Celia menanggapinya juga dengan candaan.


"Gimana Lim? Mau nggak ama Celia?" Mbak okta kembali membuat panas suasana, yang lain ikut nimbrung jadi makcomblang, namun reaksi Alim tetap saja datar, paling-paling hanya tersenyum.


Acara makan malam mereka cukup asik dan berkesan bagi Celia. Sekarang Celia benar-benar dibuat nyaman oleh teman-teman dan lingkungan kerjanya, tak ada lagi drama-drama sedih ingin pulang.


Selesai acara makan malam, Celia kembali ke kantor untuk mengambil sepeda motornya, tak lupa ia memberi kabar dulu kepada budhenya bahwa ia baru akan on the way pulang. Selepas memberi kabar, Celia langsung tancap gas pulang.

__ADS_1


Sudah jam setengah sepuluh malam, seorang gadis cantik pulang sendirian, ada hati tak rela rasanya, diam-diam dia mengikuti Celia dari belakang, memastikan gadis itu sampai dirumah dengan selamat, dengan begitu hatinya pun ikut tenang, setelah itu dengan senyap dia kembali ke tempat kerjanya. Mengagumi dalam diam, menjaga dari kejauhan, belum cukup punya keberanian untuk melangkah maju. Berharap suatu saat nanti sang waktu akan memberikannya kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.


Krieettt..!! suara gesekan pagar besi ketika Celia membuka dan menutupnya. Tak lupa ia mengunci pagar dan pintu depan setelah memastikan semua penghuninya sudah dirumah, kecuali pakdhe, karena beliau sedang bertugas keluar kota.


...****************...


Keesokan harinya, kembali Celia harus berangkat sendirian. Kali ini ia melajukan sepeda motornya tidak terlalu cepat, masih pagi masih santuy, tapi karena justry terlalu santuy sampai di kantor parkiran sepeda motor sudah sedikit penuh. Celia berjalan pelan mencari tempat parkir yang enak menurutnya. Ketika dia sedang mencari tempat parkir, tiba-tiba ada seorang security yang membantunya.


Ini kan security yang waktu itu di lift manggil aku ibu.


"Mas, saya parkir dimana ya?" tanya Celia.


"Parkir disini mbak." si security yang tak lain adalah Khai, menunjuk dadanya sebagai tempat parkir.


"Masnya ada-ada aja, mana muat motor saya di taruh situ." Celia akhirnya memarkirkan sepeda motornya di tempat yang Khai pilihkan dengan menggeser beberapa sepeda motor lain, setelah mengucapkan terima kasih ia segera pergi untuk absen, semakin awal datang, maka akan semakin awal pula jam pulangnya. Kapan lagi bisa pulang awal kan.


Khai hanya bisa memandangi punggung Celia, hingga gadis itu menghilang dari pandangan matanya. Pandangannya beralih ke sepeda motor Celia. Bukan motornya, tapi kamu yang parkir dihatiku.


Buru-buru Celia berjalan menuju mesin finger print, saat hendak berbalik setelah melakukan absensi dia hampir bertabrakan dengan Alim yang juga baru datang, jadilah akhirnya mereka kini berada dalam satu lift. Tak ada obrolan apapun di antara mereka berdua. Sunyi .... Senyap ...


Kok jadi agak canggung ya kalo cuma berdua sama mas Alim.


"Duluan Cel." Alim berkata dengan nada datar pada Celia ketika dia hendak keluar dari lift di lantai dua.


"Iya mas." Kaku amat Mr. Coolkas.


Tak tahu saja Celia, Alim berjalan ke ruangannya dengan bibir tersenyum mengingat Celia dan tingkah lucunya.

__ADS_1


"Lucu juga, polos, not bad."


Apakah gunung es akan mencair oleh Celia si kembang Desa? Lalu bagaimana dengan Khai??


__ADS_2