Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 58


__ADS_3

Happy Reading 😉


🍃🍃🍃


Hari sabtu meskipun hari libur tetap saja bukan merupakan hari yang bisa dipakai untuk bermalas-malasan bagi Celia. Gadis cantik itu selalu bangun saat adzan subuh, setelah itu mulai menyibukkan diri untuk membantu budhenya, Celia membantu apapun yang bisa dibantu atau dikerjakan olehnya, seperti mencuci piring, membersihkan kamar mandi, menyapu, memasak, dan juga menggosok baju, karena saat weekend tetangga yang biasa datang untuk cuci gosok tidak datang, jadi Celia yang ambil alih bagian setrika yang akan Celia kerjakan jika sudah siang.


Seperti weekend biasanya, mas Fajar pasti akan mengajak Celia untuk olahraga lari pagi, pulangnya, ketika memasuki pagar rumah budhe Rani, Celia mendengar suara pakdhe Rano seperti sedang memalu sesuatu. Karena penasaran Celia masuk dan bertanya pada budhenya yang sedang memasak di dapur.


"Budhe, niku pakdhe nembe damel nopo (Budhe, itu pakdhe sedang bikin apa)?" tanya Celia sambil menyeka peluh yang membasahi wajah cantiknya.


"Itu pakdhe mu lagi mau bikin kamar buat baby sitternya anaknya mas Fajar," jawab budhe Rani, tangannya terampil mengiris bawang merah untuk dijadikan stock bawang goreng.


"Mau di bikin di depan TV budhe?"


"Iya, nanti disekat sedikit di depan TV, TV nya dipindah ke ruang tamu." Budhe Rani masih sibuk dengan aktifitas nya.


"Maaf budhe, beberapa hari terakhir sebenarnya Celia sudah mencari rumah kost di sekitar kantor, Celia sudah ijin sama orangtua dikampung, dan mereka mengijinkan Celia untuk kost. Sekarang pakdhe juga sudah pensiun budhe, jarak daru sini ke kantor lumayan jauh, mungkin akan lebih baik jika Celia kost didekat kantor saja, soalnya Celia sering lembur sampai malam. Beberapa teman Celia juga merekomendasikan rumah kost yang baik." Ucap Celia dengan harap-harap cemas, takut budhenya akan tersinggung.


Budhe Rani menghentikan aktifitas nya memotong bawang, lalu beralih menatap Celia. "Kamu udah yakin mau pindah? Bener bapak sama ibu mu sudah setuju?"

__ADS_1


"Sudah budhe," jawab Celia mantab.


"Kamu sudah dapat kostannya?"


"Sudah budhe, ada satu rumah kost yang cocok dengan Celia, lokasinya tadak jauh dari kantor, bisa ditempuh dengan jalan kaki, jalannya juga ramai, jadi kalau Celia pulang malam insyaallah akan aman. Selain itu, kostnya juga khusus putri, satu rumah dengan pemilik kostnya. Maaf budhe, jika budhe mengijinkan, dalam waktu dekat Celia akan pindah, jadi pakdhe tidak perlu membuat kamar baru budhe." Senyum indah selalu terkembang ketika Celia menjawab pertanyaan budhenya.


"Kamu pindah bukan karena pakdhe mau bikin kamar kan? Atau karena Khai?" Budhe Rani menatap tajam pada Celia, seolah mencari kejujuran dalam sorot mata gadis cantik itu.


Kembali dengan mantab Celia menjawab pertanyaan budhenya dengan senyuman, "Tidak budhe, Celia sudah lama ingin kost, tapi karena selama ini bareng dengan pakdhe Rano ke kantornya jadi Celia mengurungkan niat, sekarang pakdhe sudah pensiun, Celia ingin mandiri budhe, Celia capek pulang pergi selalu macet, waktu Celia habis untuk di jalan. Mungkin ini waktu yang tepat, kebetulan sekali dengan baby sitter mbak Roro yang mau datang, jadi kamar yang Celia tempati lebih baik dipakai untuk baby sitter anaknya mbak Roro."


Budhe Rani tidak bisa mencegah keputusan Celia, karena memang Celia ada benarnya.


"Kalau budhe terserah kamu saja nduk, yang penting kamu sudah ijin kedua orangtuamu, dan bukan pindah karena ingin bebas dengan Khai."


"Iya, yang penting juga kamu disana hati-hati, jaga diri dan jaga nama baik keluarga, nanti budhe bilang sama pakdhe mu."


"Insyaallah akan Celia lakukan budhe, matur suwun."


Celia merasa sangat lega setelah mendapt ijin dari budhenya. Hatinya kini ringan seringan kapas. Dan mumpung sedang libur, Celia memanfaatkan waktu liburnya untuk mengrmas barang-barang nya yang ternyata sudah lumayan banyak.

__ADS_1


Celia lalu menghubungi pemilik kost, memberitahukan jika dia akan pindah secepatnya.


Kabar kepindahan Celia akhirnya sampai juga ditelinga mbak Roro, jika ada yang bersedih dengan rencana kepergian Celia, maka mbak Roro lah orangnya. Selama tinggal di rumah budhe Rani, Celia memang paling akrab dengan istri dari mas Fajar itu. Celia sudah menganggap mbak Roro seperti kakak kandungnya, mereka sering menghabiskan waktu bersama, mbak Roro dan mas Fajar juga sering mengajak Celia hang out bareng.


"Celia, kenapa sih kamu mesti pindah?" Tanya mbak Roro dengan mode merajuknya.


"Celia capek mbak, jauh dari kantor, tiap hari macet."


"Yaaah, nanti aku gak ada temennya dong."


"hihi ... Kan ada si uda mba, ada si baby melon juga." Baby melon adalah panggilan dari Celia untuk anak dari mbak Roro dan mas Fajar.


"Iya sih, tapi nanti gak ada yang ngajakin aku masak mie malem-malem."


"Gampang itu mah mbak, mbak ajakin aja si Uda, pasti dia mau."


"Ah, dia mana asik."


...

__ADS_1


Dan setelah beberapa saat, akhirnya Celia bisa meyakinkan mbak Roro, dan dengan berat hati mbak Roro juga mengijinkan Celia untuk pindah ke kostan.


"Waduh, jangan sampai mbak Devi tahu dulu masalah ini, bisa diintrogasi, di korek sampai ke dalem-dalem ini nanti," gumam Celia pelan, setelah mbak Roro kembali ke kamarnya sendiri.


__ADS_2