Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 28 : Melabuhkan Hati


__ADS_3

Dasar tubuh penghianat!!


Celia terus merutuki dirinya sendiri, tak habis pikir kenapa tubuhnya malah menikmatinya. Seperti ada sengatan listrik di dadanya, seperti ada kupu-kupu beterbangan di perutnya.


Tak sampai mengeksplore lebih dalam, Khai melepaskan pagutannya dibibir Celia, meski belum rela tapi jika terlalu lama yang ada mereka bisa digrebek warga lalu di arak keliling kota, terus masuk lambe curah #sepasang muda mudi gelap-gelapan me sum di taman kota. Khai menggelengkan kepalanya berharap kewarasannya segera kembali agar tak terus terbuai dengan gadis cantik di sampingnya itu, karena mau bagaimanapun juga Khai adalah laki-laki dewasa normal, yang terkadang kadar keimanannya pun masih naik turun, kadang tebal kadang tipis, setipis kulit ari anak bayi.


Khai mengusap ujung bibir Celia dengan ibu jarinya, jantungnya pun seakan mau copot dengan tindakan nekatnya mencium Celia, tak takutkan ia Celia akan marah dan menamparnya. Tapi alih-alih marah atau menampar Khai seperti yang ia takutkan, sang empunya bibir semanis madu itu masih setia memejamkan matanya membuat Khai tersenyum jahil.


"Ehm, kalo masih mau lagi kita halalin dulu." Khai menjiwir hidung Celia agar tak terjadi moment akward diantara mereka.


"Khai ...!" Celia memukul-mukul lengan Khai. "Kalo tau belum halal kenapa main nyosor aja kayak anak soang kelaperan!!" Celia merasa kesal, kesadarannya sudah kembali normal.


Pukulan-pukulan Celia bagi Khai hanyalah seperti pijatan lembut. Khai menangkap tangan Celia, menautkan jemari mereka lalu dibawanya ke depan dada.


"Apa yang kamu rasakan?" Khai bertanya pada Celia, ia menempelkan tangan Celia tepat dijantungnya berada.


"Kamu berdebar-debar Khai, berdetak sangat cepat."


"Ya, dan selalu seperti ini saat melihat kamu, saat berada di dekatmu."


"Apa Celia semenakutkan itu Khai, sampai segitunya kamu deg-degan?"


"Iya, kamu memang menakutkan, sangat menakutkan apalagi saat bersama yang lain, sampai-sampai aku ingin gila rasanya saking takutnya, takut nggak bisa memiliki kamu."


"Khai, ...." Celia menatap Khai yang juga sedang menatapnya dengan penuh cinta.


"Aku sayang kamu Celia, maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku kelak?" Khai dengan sorot mata penuh pengharapan menanti jawaban dari Celia.


"Khai ... kalo sayang sama Celia kenapa tadi mau digelendotin ulat bulu!! Celia dianggep apa kalo gitu?" Terkadang mulut wanita satu ini memang seperti petasan cabe, bukannya menjawab iya atau tidak ia justru mengomel kesal.


"Hmmmm... lucunya sayangku kalau lagi ngomel begini."

__ADS_1


"Nggak lucu Khai, siapa Nita itu? Celia nggak mau ada Nita- Nita lainnya kedepannya nanti." Kini Celia serius berbicara.


"Nita dulu temen sekolahku, lebih tepatnya teman saat sekolah menengah pertama, sebelum ada kamu disini aku mencoba untuk melakukan pendekatan dengannya, tapi semenjak ada kamu seluruh duniaku teralihkan termasuk dari Nita." Jujur Khai pada Celia, ia tak ingin ada yang ditutup-tutupi. Bagi Khai, suatu hubungan akan bisa bertahan lama jika dua orang yang menjalaninya bisa saling terbuka satu sama lain. Dengan adanya kejujuran maka akan terbit rasa percaya.


"Celia nggak suka kamu dekat dengan perempuan lain." pada akhirnya Celia memgeluarkan uneg-unegnya selama ini. Akhirnya keluarlah kalimat sakti yang dari sore tadi membuat hatinya tak nyaman karna cemburu.


Khai sangat bahagia, teramat sangat bahagia, penantiannya selama ini tak sia-sia, bagai gayung bersambut, cintanya pada Celia tak bertepuk sebelah tangan. Nyatanya gadis cantik pujaan hantinya yang selama ini hanya mampu ia damba dalam angan, kini benar-benar bisa ia miliki.


Khai memeluk Celia spontan saking bahagianya, lalu ia mengecup kening Celia singkat.


"Khai ... apa disini ada penunggunya?"


"Penunggu?"


"Iya, ada setannya Khai? Kok dari tadi Celia merinding ya."


Jiiaaaah, si gadis lugu dari desa ini tak bisa membedakan mana merinding disco karena getaran cinta dan mana merinding karena takut settan.


Khai hanya tersenyum menanggapi ocehan Celia, dia tak sedetikpun melepaskan tautan jemari mereka, Khai terus menggenggam nya seakan takut jika ia lepas Celia juga akan ikut kembali terlepas darinya.


"Tapi perjalanan kita nggak akan mudah Khai."


"Kenapa? Apa karena aku hanya seorang satpam?" Nada suara Khai mendadak lirih, semangatnya yang sedetik lalu menggebu, sedikit demi sedikit meleyot. Celia bisa melihat itu.


"Khai, bagaimana dengan kuliah mu?, kamu masih akan lanjut kan? Kamu tau Khai, bagi keluarga besarku pendidikan adalah yang nomor satu, jadi aku harap kamu akan melanjutkan kuliahmu."


"Aku juga inginnya lanjut, tapi untuk saat ini belum bisa." Ada kegetiran yang terlihat jelas diraut wajah seorang Khai.


"Celia akan menunggu."


"Apa aku harus lulus kuliah dulu baru bisa menghalalkan kamu?"

__ADS_1


"Entahlah Khai, Celia belum tau, jalan cinta kita tidak akan mudah Khai, kita harus berjuang."


Jalan kita sangat tidak mudah Khai, bagaimana caranya aku bisa mengatakannya tanpa menyinggung perasaanmu? Jalan kita akan terjal dan berliku Khai, mendaki gunung lewati lembah untuk bisa bersanding bersama.


"Aku akan menghadapinya, aku akan memintamu pada kedua orangtuamu."


"Iya Khai, kita jalani bersama, kita berjuang bersama." Celia tersenyum pada Khai menyalurkan energi positif agar Khai kembali bersemangat.


"Aku adalah kamu, kamu adalah aku. kita adalah satu, selamanya."


"Kita adalah satu selamanya." Celia mengikuti ucapan Khai.


"Mmm... lalu bagaimana dengan Alim?" Tiba-tiba Khai teringat pada Alim.


"Celia sudah memutuskan hubungan dengan mas Alim, Khai. Sebenarnya Celia ingin sementara waktu menghindari kamu."


"Kenapa?" Protes Khai tak suka dengan apa yang diucapkan Celia.


"Karena Celia takut dianggap piala bergilir Khai, habis dengan mas Alim terus udah ganti aja sama kamu, kamu tau sendiri kan bagaimana kehidupan di kantor, tembok saja seakan punya telinga. Berita putusnya kami pasti akan segera tersebar, jika kita terlihat dekat, aku akan dianggap selingkuh dan kamu akan dianggap perusak hubungan orang, yang merebut aku dari mas Alim. Celia nggak mau itu terjadi Khai." Celia hanya bisa menunduk menyampaikan salah satu sebab kegelisahan hatinya.


"Jangan takut, bukankah kita akan menghadapinya bersama?."


"Kamu benar Khai, kita memang bisa menghadapinya bersama, tapi disana masih ada pakdhe Rano, Celia takut beliau juga akan kena imbasnya, Celia gak ingin beliau malu keponakannya menjadi bahan gunjingan orang. Celia merasa sedih dan serba salah di satu waktu yang sama.


"Khai, bisakah kita rahasiakan hubungan ini hanya untuk sementara waktu, sebentar saja, agar kita tak menjadi bahan gunjingan orang-orang. Celia terlihat memohon pada Khai, berharap lelaki itu mau mengabulkan permintaannya.


Selain itu Celia juga butuh waktu untuk menyiapkan mental untuk menghadapi keluarga Celia, Celia masih belum siap mereka tau Celia melabuhkan hati pada seorang satpam. Itu pasti akan membuat mereka tak suka dan tak setuju Khai, Celia butuh waktu untuk menghadapinya. Batin Celia sedih.


Khai tampak berfikir, setelah sekian lama ia berjuang untuk terus bertahan, mencintai dalam diam, menjadi orang ketiga yang keberadaannya tak terlihat, apakah kini saat ia sudah berhasil mendapatkan cintanya ia harus kembali bersabar menyembunyikan bahagianya?!!


Khai tak ingin egois, Khai menganggukkan kepala, tanda menyetujui permintaan Celia, ada benarnya juga perkataan gadis yang dicintainya itu, ia harus menjaga harga diri Celia juga pakdhenya, ia tak boleh menjadi egois.

__ADS_1


"Baiklah, untuk sementara kita akan merahasiakan hubungan kita sayang." Ucap Khai.


Pipi Celia bersemu merah mendengar Khai memanggilnya dengan sebutan sayang.


__ADS_2