Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam

Ku Parkir Cintaku Di Hati Pak Satpam
Bab 19 : Warung Tenda


__ADS_3

"Sudah malam, ayo kita pulang." Sudah jam 7 malam, Khai mengajak Celia untuk pulang.


"huuffttt ..." Celia meloloskan nafasnya berat, belum mau beranjak dari duduknya alias terlanjur nyaman, sama seperti perasaannya pada Khai. "Baiklah, mari kita pulang, tadi Celia juga udah janji nggak pulang larut, jam 9 Celia udah harus sampai rumah."


Khai berjalan di sisi kanan Celia. Lampu-lampu di taman tampak indah menyala dengan cahaya warna warni, juga berkelap-kelip sangat indah.


"Khai ... Celia suka lampu." Khai memelankan langkah kakinya, ia menoleh pada Celia.


"Mau lihat lampu-lampu yang banyak?"


"Heem." Celia mengangguk lucu sambil mengedipkan matanya yang berbinar sangat menggemaskan, ingin rasanya Khai memasukkannya ke dalam kantong agar bisa dibawa kemanapun ia pergi kecuali ke weze tentu saja.


"Nanti kapan-kapan ya, kan sekarang kita harus pulang, nanti kena jam malam."


"Ahhh ... bener ya, jangan bohong, nanti Celia tagih janjinya."


"Iya peri kecil." Khai mengacak rambut Celia gemas.


Hmmm ... padahal Celia pengen banget pergi sekarang, sabarr...sabarr...orang sabar ta_hi nya lebar. Celia mengelus dadanya, bibirnya mengerucut minta diiket pakai karet bekas ketoprak.


"Khai ..., kenapa sih kamu itu suka manggil Celia peri kecil, perasaan badan Celia nggak kecil kaya thinkerbel deh." Tanya Celia penasaran.

__ADS_1


Khai tersenyum menatap Celia lalu kembali meluruskan pandangannya, "peri, karena kamu cantik, dan kecil karena terkadang kamu menggemaskan seperti anak kecil." Celia malah menggembungkan pipinya dibilang seperti anak kecil, membuat Khai benar-benar gemas dan reflek menekannya dengan jari telunjuknya. Tak salah jika ia menyebut Celia sebagai peri kecilnya.


Dinginnya udara malam tak mampu memberikan kesejukan di tengah kepadatan lalulintas kota metropolitan. Sepertinya semua orang pergi keluar malam itu. Khai menggeber motor gagahnya membelah padatnya jalanan kota metropolitan


Belum sampai tujuan, Khai membelokkan kuda besinya di sebuah tempat makan, masih ada cukup waktu jika hanya untuk sekedar mengisi perut, ia tak ingin anak orang kelaparan jalan dengannya, harus ia pastikan kebahagiaan serta kesejahteraan perutnya. Bukan di restoran wah bintang tujuh atau cafe-cafe kekinian, hanya warung tenda kaki lima yang menjual aneka pecel dan penyetan, namun cukup ramai, menandakan jika memang makanan disini enak, terlihat dari banyaknya peminat.


"Kamu pesan apa, biar aku pesenin dulu." Tanya Khai, kepalanya melongok ke dalam tenda mencari tempat duduk.


"Aku minum aja Khai, es jeruk tapi gulanya dikit aja."


"Hmmm, diet?"


"Hehe." Yang ditanya hanya nyengir kuda menampilkan deretan gigi-gigi rapinya.


Celia mendelik menatap Khai, ingin ia protes, tapi Khai sudah lebih dulu menariknya untuk duduk.


Jujurly, Celia memang merasa sedikit lapar, tapi ia takut berat badannya akan naik, pasalnya Alim selalu mengatakan dia gembul, jangan terlalu banyak makan, terkadang itu membuat Celia insecure, ia takut Khai juga akan bersikap demikian. Celia berpikir mana ada lelaki yang mau jalan dengan wanita gemoy, pastilah akan lebih memilih untuk bersama wanita yang kurus tinggi langsing, untuk itulah Celia mau menjaga timbangannya agar tidak miring ke kanan.


Setelah menunggu sedikit lama karena memang sedang antre lumayan banyak pengunjungnya, makanan yang di pesan oleh Khai pun tiba, seketika muncullah ide nyeleneh Celia. Ia hanya memakan sedikit nasi dipiringnya lalu berhenti, ia mencuci tangan menyudahi makannya. Khai hanya diam melihatnya, namun siapa sangka setelah menyelesaikan makannya, khai mengambil piring milik Celia.


"Nanti nasinya nangis, pak taninya udah capek-capek nanem padi, kasian kalo cuman diliatin aja nggak dimakan, sia-sia dong perjuangannya, ayo aaaa ... aku nggak mau kamu sakit cuma gara-gara diet-dietan, jadilah dirimu sendiri, kalau laper ya makan, ingin kurus bisa olahraga, jangan menyiksa diri sendiri." Khai menyodorkan satu suapan untuk Celia, nasi sambal lengkap dengan lauknya.

__ADS_1


Celia bisa melihat ketulusan dimata Khai, bukan yang dibuat-buat agar terkesan romantis. Celia membuka mulutnya menerima suapan dari Khai.


"Biar aku lanjutin sendiri Khai." Celia ingin mengambil kembali piringnya, tapi Khai melarang.


"Biar aku suapi, kamu udah cuci tangan." Ada modus juga sebenarnya terselip di dalam niat baik Khai, kesempatan emas yang tak boleh disia-siakan, kapan lagi ia bisa menyuapi wanita yang dia cinta.


"Malu Khai, dilihat orang banyak." Bilangnya malu, tapi endingnya ludes juga nasi satu piring dan es jeruk satu gelas, memang terkadang wanita itu suka dipaksa-paksa, dipaksa makan, dipaksa shopping, dipaksa healing, biar bilangnya nggak mau tapi aslinya malu-malu tapi mau.


Perut kenyang hatipun senang. Amunisi sudah full, saatnya mereka kembali melanjutkan perjalanan pulangnya yang tertunda. Celia sangat menikmati kebersamaannya dengan Khai. Dia merasa dimengerti, dihargai, dimanjakan, dan diistimewakan.


Celia kembali minta agar diturunkan di depan indodesember depan komplek tempat sore tadi Khai menjemputnya. Kali ini ia benar ingin membeli sesuatu.


"Aku tunggu, nanti aku antar sampai rumah, nggak enak sama pak Rano, ponakannya diturunin di jalan."


"Sampai sini aja Khai, biar dari sini Celia jalan sedikit, itung-itung bakar kalori, tadi kan abis makan banyak, lagi pula ini udah setengah 9, pakdhe budhe pasti udah masuk kamar." Celia memanyunkan bibirnya seperti anak bebek, tak mau Khai mendebatnya.


"Hmm, Yaudah, tapi biar aku tungguin kamu sampai masuk komplek." Meski berat, Khai tak ingin berdebat dengan Celia, takut gadis itu akan merasa tidak nyaman. Jadilah Khai hanya bisa mengawasi dari belakang, setelah Celia masuk komplek Khai menyalakan sepeda motornya, ia lajukan si bray perlahan, tak akan tenang ia jika tidak memastikan Celia sampai dirumah dengan selamat, ia bertanggungjawab atas Celia malam itu.


Rumah tampak sepi, benar saja masih jam 9 kurang tapi budhe dan pakdhe Celia sudah masuk kamar, mereka memang tidak suka tidur larut, mas Fajar belum pulang, sedang mbak Roro menginap dirumah orangtuanya setiap weekend.


Deerrrrttt...derrtttt...derrttt... Baru saja menutup pintu kamar, Celia dikejutkan dengan getaran dari handphone nya.

__ADS_1


#Mas Alim memanggil ... #


Deeghh ...


__ADS_2